This Author published in this journals
All Journal Widyaparwa
Tamam Ruji Harahap
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENERJEMAHKAN KALIMAT BERSUBJEK IT IMPERSONAL: KASUS INGGRIS - INDONESIA Tamam Ruji Harahap
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3692.115 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.58

Abstract

Penelitian kecil ini merupakan kajian penerjemahan. Penelitian memiliki tiga tujuan; yatu (a) memaparkan fakta-fakta praktik penerjemahan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek it impersonal ke dalam bahasa Indonesia dengan cara membandingkan dua teks terjemahan, (b) menguraikan kesenjangan antara teori dan praktik dalam penerjemahan teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dan (c) menawarkan rumusan prosedur penerjemahan demi hasil terjemahan yang baik, terutama berkaitan dengan tata cara menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek itimpersonal ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini ialah penelitian kualitatif yang menggunakan metode perbandingan tekstual. Data penelitian bersumber dari dua buku dengan teks berpasangan, masing-masing dengan teks orisinal dan teks terjemahannya (LP dan LSP). Analisis memperlihatkan bahwa sebagian terjemahan (LP) masih tergolong sebagai terjemahan yang tidak bailg terutama karena gagal memahami jurang perbedaan struktur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagian terjemahan lain (LSP) tampaknya sudah menggunakan teknik transposisi, modulasi, dan ekuivalensi sehingga menghasilkan terjemahan yang baik. Selain itu, penelitian ini menyadarkan bahwa demi terjemahan yang baik, terutama dalam kasus kalimat-kalimat bersubjek itimpersonal, kegiatan penerjemahan mensyaratkan pengetahuan yang kuat atas bahasa sumber dan bahasa sasaran, yang mencakup aspek-aspek linguistik dan konteks dari teks yang diterjemahkan. This small research is a translation study. This aims at three purposes; i.e. (a) to give facts about the practice of translation of English sentence whose subject is impersonal it, into Indonesian language by means of comparing two related texts, (b) to figure out the gap between the theory and the practice of English-Indonesian translation, and (c) to propose a formulaic procedure of translation in the name of a good translation, specifically in relation with how to translate English sentence whose subject is impersonal it into Indonesian This is a qualitative research which is based on textual comparison. The data derives from two paired books, each of which are both the original and the translated versions (LP and LSP). The analysis shows that part of the translated texts falls within a not-good translation, mainly due to its failure to perceive the structural gap between English and lndonesian. Meanwhile, the other translation (LSP) process to be a good translation in that it seems to have applied the techniques of translation, such transposition, modulation, and equivalence. Finally, this research proposes that, to be a good translation, the activity of translation requires a skillful knowledge of the source and target languages, involving both linguistic and contextual aspects of the translated texts.
BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA STU DI KASUS XENOGLOSOFILIA DALAM DAFTAR MENU Tamam Ruji Harahap
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495.806 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.8

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah pengamatan kecil terhadap praktik xenoglosofilia sebagaimana sekarang ini luas digunakan dalam ranah sosial kedai kopi atau kafe di wilayah Yogyakarta. Lewat medium daftar menu praktik sosial penggunaan bahasa telah menjadi gelaja patologi sosial di mana identitas dan penghargaan diri semakin termarginalkan dan terabaikan, sementara penggunaan bahasa asing semakin luas dipraktikkan. Tujuan penelitian kecil ini adalah untuk membuat ikhtisar tentang bagaimana penggunaan bahasa asing ini telah menancapkan dominasinya pada banyak komunitas di Indonesia. Dengan menggunakan kerangka analisis wacana kritis Fairclough, tulisan ini akan mengamati dan membahas praktik xenoglosofilia sebagaimana ditemukan dalam menu kedai kopi dan kafe EarthCafe dan kafe Aqeela. Analisis akan berfokus pada kosakata dan idiom dan akan mengabaikan properti-properti linguistik lainnya. Dengan menggunakan analisis wacana kritis, tulisan ini akan berupaya menjawab pertanyaan: mengapa praktik xenoglosofilia semakin luas dan banyak digunakan dalam daftar menu kafe di Yogyakarta? Pengamatan ini mengkonfirmasi bahwa praktik xenoglosofilia merupakan hasil dari dominasi ideologi pasar bahasa Inggris terhadap praktik kultural lokal bahasa Indonesia.This paper is a smalt investigation on the practice of xenoglossophilia as it is now widely used within the social sphere of coffee-stall and cefin region of Yogyakarta. Through the medium of the menu, the social practice of language use has become such a symptom of "social pathology" in which self-identity and selfregard are getting increasingly marginalized and disregarded, whereas the use of foreign language is practiced more and more.The main objective of this small research is to overview how this use of foreign language has pledged its domination strongly in the considerable part of lndonesian community. By using Fairclough's framaaork of citical discourse analysis, this paper will investigate and discuss the practice of xenoglossophilia as it is found in the menu of coffee-stall and cafEarthCafe and cafAqeela. The analysis will focus on the vocabularies and idioms and will disregard the other linguistic properties. By using the critical discourse analysis, this paper would try to answer the question: why is the practice of xenoglossophilia widely and increasingly used in the menu of cafes in Yogyakarta? The investigation confirms that the practice of xenoglossophilia results from the domination of the market ideology of English language against the locally cultural practice of lndonesian language.