This study addresses four problems, namely (1) how Ayna overcomes unconsciousness in her; (2) how Ayna can protect her person from the personality that dominates her; (3) how Ayna overcomes the shadow side of herself; and (4) how Ayna gathered courage to face anima and animus in her. This study uses the psychoanalytic approach (archetype) proposed by Carl G. Jung which is related to self-authenticity (the self). Data validity is determined by the validity of the meaning. The analysis is carried out by means of understanding, heuristics, and hermeneutics and meaning to obtain inference according to the purpose of the study. In this study it was found that (1) Ayna represents personalunconscious to provide space for the entry of positive new impulses to encourage self-realization; (2) Ayna acts as a persona when her condition is pressed, namely by revealing her identity when being tried in a boarding school; (3) Ayna makes a harmonious blend or balance between things that are contradictory in her shadow; and (4) Ayna controls herself by suppressing all her shadows and animations to give space for animus emergence so that she can think clearly to save herself. Penelitian ini membahas empat permasalahan, yaitu (1) bagaimana Ayna mengatasi ketidaksadaran (unconscious) dalam dirinya; (2) bagaimana Ayna dapat melindungi personanya dari kepribadian yang mendominasi dirinya; (3) bagimana Ayna mengatasi sisi hitam (shadow) dari dirinya sendiri; dan (4) bagaimana Ayna mengumpulkan keberanian untuk menghadapi anima dan animus dalam dirinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikoanalisis (arketipe) yang dikemukakan oleh Carl G. Jung yang terkait dengan kesejatian diri (the self). Kesahihan data ditentukan dengan validitas makna. Adapun analisis dilakukan dengan cara pemahaman, heuristik, dan hermeneutik serta pemaknaan untuk memperoleh inferensi sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini ditemukan bahwa (1) Ayna merepresikan ketidaksadaran pribadi (personalunconscious) untuk memberikan ruang masuknya impuls-impuls baru yang positif untuk mendorong terwujudnya realisasi diri; (2)Ayna melakukan tindak persona ketika kondisi dirinya terdesak, yaitu dengan cara membeberkan jati dirinya ketika disidang di pondok pesantren; (3) Ayna membuat perpaduan atau keseimbangan yang harmonis antara hal-hal yang bertentangan dalam bayang-bayang dirinya; dan (4) Ayna mengendalikan diri dengan menekan seluruh bayang-bayang dan animanya untuk memberikan ruang munculnya animus sehingga dapat berpikir jernih untuk menyelamatkan diri.