This study aims to analyze the condition of public sphere in the midst of the Covid-19 pandemic. Some events that indicate the intervention of state and market in the public sphere such as: repressive actions and aggressive buzzing, legislation that likes to ignore aspirations, journalistic practices that trigger infodemics. By using descriptive analysis methods, it can be illustrated that the public sphere is currently losing its inclusive, egalitarian, and pressure-free. The process of discourse in the public sphere is not deliberative, and the press still prioritizes commercial aspects in reporting. From these findings, it can be concluded that this condition is like what is termed by Habermas as 'Refeodalization of Public Sphere'. The author then hopes that all elements of society can direct efforts to fix the condition of public sphere so that it supports the climate of handling the Covid-19 pandemic better. Keywords: Public Sphere, Refeudalization, Pandemic, Covid-19 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi ruang publik di tengah pandemik Covid-19. Beberapa peristiwa yang mengindikasikan terjadinya intervensi negara dan pasar di dalam ruang publik diantaranya: aksi yang represif dan dengung yang agresif, legislasi yang hobi abaikan aspirasi, praktik jurnalistik yang memicu infodemik. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, dapat digambarkan bahwa ruang publik saat ini kehilangan sifatnya yang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan. Proses diskursus dalam ruang publik tidak deliberatif, dan pers yang masih mengutamakan aspek komersil dalam pemberitaan. Dari temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi ini seperti apa yang diistilahkan Habermas sebagai 'Refeodalisasi Ruang Publik'. Penulis kemudian berharap agar semua elemen masyarakat dapat mengarahkan upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi ruang publik sehingga mendukung iklim penanganan pandemik Covid-19 yang lebih baik. Kata Kunci: Ruang Publik, Refeodalisasi, Pandemik, Covid-19