Muhammad Yani
Kantor Wilayah Kementerian Agama Prop. Aceh

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

RELEVANSI WALI NANGGROE DENGAN WALIUL ‘AHDI DAN WALI NIKAH Muhammad Yani
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 10 No. 2 (2022): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan memaparkan tentang kedudukan Wali Nanggroe dan relevansinya dengan Waliul ‘Ahdi dan wali nikah. Beralihnya pemerintahan di Aceh dari sistem kerajaan ke dalam sebuah negara bangsa ‘Repuplik Indonesia’, berubah pula kewenangan pemerintah pada sektor agama, khususnya, pada kewenangan wali hakim dalam pernikahan warga muslim di Aceh. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan melakukan pendekatan historis, yuridis dan fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat relevansi antara Wali Nanggroe dan Waliul ‘Ahdi  pada tata cara pemilihan dan relasi tugas dan kewenangan. Di samping itu, terdapat juga relevansi Wali Nanggroe dengan Wali Hakim (wali nikah) dalam perspektif historis, karena Wali Nanggroe dalam perspektif historis merupakan penerus kekuasaaan kerajaan Aceh. Sementara Wali Nanggroe setelah lahirnya Negara Kesatuan RI tidak dapat bertindak sebagai Wali Hakim dalam pernikahan orang muslim di Aceh, jika tidak ada penunjukan dari pemerintah Republik Indonesia, karena Wali Nanggroe sekarang bukan sebagai pejabat eksekutif.   The purpose of this article is to clarify the role of Wali Nanggroe and how it relates to Waliul 'Ahdi and Wali nikah (marital guardians). The government's authority in the religious sphere was also altered with Aceh's transition from a monarchical to a nation-state, Repuplik Indonesia, particularly the role of guardian judges (Wali Hakim) in Muslim weddings. The historical, legal, and fiqh methodologies that were used in this research method, were descriptive in nature. The study's findings indicate that the interaction between the Wali Nanggroe and the Waliul 'Ahdi in terms of the election process and the relationship between responsibilities and authority is relevant. In addition, Wali Nanggroe's historical significance to Wali Hakim is relevant since, historically speaking, Wali Nanggroe is the successor to the power of the Aceh monarchy. If there is no appointment from the Republic of Indonesian government, the Wali Nanggroe after the creation of the Unitary State of the Republic of Indonesia cannot operate as a Guardian Judge (Wali Hakim) in Muslim marriages in Aceh since he is no longer an executive officer.