Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN DRAINASE DALAM UPAYA ADAPTASI DAN MITIGASI BENCANA BANJIR TERKAIT KONSEP CLIMATE RESILIENT INFRASTRUCTURE STUDI KASUS: KECAMATAN BALEENDAH Mohd Abi Rafdi; Dinar Oktaria Supardi Kusumah
JURNAL DARMA AGUNG Vol 31 No 2 (2023): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v31i2.3020

Abstract

Beberapa tahun belakangan, dampak perubahan iklim begitu dirasakan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya aktivitas manusia yang memicu terjadinya fenomena perubahan iklim. Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim adalah perubahan cuaca yang menjadi tidak teratur. Ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi tidak teratur. Salah satu akibatnya yakni meluapnya sungai akibat hujan dengan intensitas tinggi sehingga memicu terjadinya banjir di beberapa daerah. Penelitian ini mengambil wilayah studi di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang merupakan salah satu daerah yang rutin terjadi banjir setiap tahun saat musim hujan. Hal ini disebabkan karena wilayah topografi Kecamatan Baleendah berada lebih rendah dibandingkan kawasan sekitarnya dan letaknya yang dilalui oleh Sungai Citarum dan Sungai Cisangkuy. Penelitian ini menggunakan Mixed Methods yakni perpaduan antara data kuantitatif dan kualitatif. Strategi yang digunakan dalam penelitian yaitu concurrent embedded strategy, yakni metode penelitian yang mengkombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif dengan cara simultan dengan metode primer lebih berat bobotnya untuk mendapatkan data utama dan metode sekunder digunakan untuk mendukung data dari metode primer. Unit amatan penelitian ini adalah infrastruktur jalan dan drainase meliputi perkerasan jalan dan kinerja drainase. Adapun unit analisis yang dilakukan meliputi kondisi eksisting bangunan untuk kemudian di bandingkan dengan kondisi ideal dalam konteks Climate Resilient Infrastructure. Kondisi yang terdapat di Kelurahan Baleendah dan Kelurahan Andir adalah masih kurang optimalnya fungsi drainase, sehingga pada saat terjadi banjir, pada titik terendah di Kelurahan Baleendah dan Kelurahan Andir tergenang dalam waktu yang lama, hingga 10 hari. Sehingga dibutuhkan beberapa rekomendai sebagai bentuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
PRAKTEK NEOLIBERALISME DALAM KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) DI INDONESIA (STUDI KASUS: KEK SEIMANGKEI) Widjaja, Arni Muslimah Handayani; Kusumah, Dinar Oktaria Supardi; Fauzi, Difa Farhan
JURNAL DARMA AGUNG Vol 30 No 2 (2022): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v30i1.2594

Abstract

Pengembangan kawasan ekonomi strategis di Indonesia bukanlah hal baru, namun pada periode pemerintahan saat ini terdapat konsep pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang didaulat untuk mewujudkan 4 dari 9 poin urgensi pembangunan di Indonesia dalam konteks “NAWACITA”. Pengembangan KEK ini diinspirasi oleh suksesi SEZ Shenzen di Cina dalam mempercepat laju urbanisasi sekaligus meningkatkan kualitas penghidupan (QoL) penduduknya. Berdasarkan epistimologi Ong (2011), pembangunan SEZ dan konsep sejenisnya merupakan suatu bentuk intervensi pemerintah dalam menerapkan praktek “neoliberal exception” pada kawasan administrasi khusus agar memiliki iklim kewirausahaan yang menunjang terciptanya pasar bebas. Tujuan yang paling utama dari dibentuknya zona ekonomi khusus adalah untuk menarik FDI sebanyak-banyaknya, meningkatkan efisiensi produksi, dan menghasilkan peningkatan terhadap GNP. Namun epistimologi Ong tersebut dikritisi oleh Simpson (2016) dalam konteks penyematan gelar SAR Macau. Kedua persepektif penulis tersebut kemudian menjadi landasan berfikir dalam menjelaskan praktek “neoliberal exception” di Indonesia dengan KEK Sei Mangkei sebagai lokasi studi yang dipandang memiliki kemiripan zona kegiatan industry dengan SEZ Senzhen dibandingkan dengan KEK lainya di Indonesia. Pembahasan akan dilakukan dengan menelaah sisi historis dari terbentuknya KEK di Indonesia sebagaimana Simpson (2016) melakukan kajian histolology untuk mengetahui identitas SAR Macau. Selanjutnya dilakukan pembahasan mengenai atribut ruang dan sistem kelembagaan di KEK Sei Mangkei dan sekilas dikaitkan dengan apa yang terjadi di Senzen. Dan yang terakhir dilakukan pembahasan mengenai kegiatan industri yang dilakukan di KEK Sei Mangkei, apakah menerapkan konsep cluster atau hanya aglomerasi dari sekumpulan footloose industri saja. Sehingga kemudian mengantarkan kesimpulan dan rekomendasi bagi pelaksanaan pengembangaan KEK Sei Mangkei di masa yang akan datang.
Identification of Creative Economy Potential in Cirebon City City Branding Efforts Wafi, Abil Hibatul; Firmansyah, Mukhamad; Widjaja, Arni Muslimah Handayani; Kusumah, Dinar Oktaria Supardi
Indonesian Journal of Advanced Research Vol. 4 No. 8 (2025): August 2025
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/ijar.v4i8.15159

Abstract

Cirebon City has high local cultural wealth, ranging from batik, craft art, to traditional culinary, seen from this potential, the creative economy sector in Cirebon City is still relatively small contribution (BPS, 2022) . The method used in this research is a qualitative method with a purposive approach through interviews, observations, and analysis using content analysis. This research shows that creative economy actors in Cirebon City have a high enthusiasm for advancing local culture, through product innovation. However, intersectoral coordination remains weak. The government has facilitated programs such as training and product promotion, but understanding of the concepts of the creative economy and city branding remains unequal. Cross-sector collaboration and strengthened communication strategies are needed to optimize the potential of local culture in building a city's image.
Adaptasi Petambak Garam Tradisional Terhadap Variabilitas Iklim di Desa Pengarengan, Kabupaten Cirebon Mohamad Jidan; Ariya Mariany; Dinar Oktaria Supardi Kusumah
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 2 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i2.55624

Abstract

ABSTRACTClimate variability is an early indicator of climate change, contributing to extreme temperature fluctuations, high-intensity rainfall, tidal flooding, and coastal abrasion. Traditional salt farmers are among the most vulnerable groups affected by these phenomena, experiencing declining productivity, deteriorating harvest quality, and reduced market prices. As a result, salt farmers are compelled to develop adaptive strategies to cope with the changing climatic conditions.. This study aims to examine how traditional salt farmers in Pengarengan Village undertake adaptation efforts in response to climate change, as well as the specific climate change impacts affecting the productivity of traditional salt production. A qualitative case study approach was employed, with informants selected through purposive sampling. Data were collected using a triangulation model, combining semi- structured interviews with salt farmers, field observation to identify existing conditions, and documentation through the collection of relevant records. Data analysis followed the Miles and Huberman framework, conducted continuously from the beginning through the conclusion of the study. The findings indicate that the climate phenomena affecting traditional salt farmers include weather variability, which hinders the salt production process; rainfall intensity, which affects both the quality and price of salt; and tidal flooding, which damages production infrastructure. In response, farmers have developed adaptation strategies across four dimensions: the social dimension, through participation in the PUGAR (Salt Farmer Community Empowerment) program; the economic dimension, through the utilization of household assets; the ecological dimension, through the utilization of natural resources; and the technological dimension, through the adoption of geomembrane technology in traditional salt production.Keywords: Adaptation; Coastal Community; Climate Change; Traditional Salt Farmers; VulnerabilityABSTRAKVariabilitas iklim menjadi tanda awal terajadinya perubahan iklim yang berdampak pada pola suhu yang ekstrim, curah hujan tinggi, banjir rob, serta abrasi. Petambak garam tradisional menjadi yeng rentan terhadap fenomena tersebut. Akibatnya, produktivitas menurun, kualitas hasil panen buruk, serta harga jual yang anjlok. Pada akhirnya, petambak dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi iklim yang terjadi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana petambak garam tradisional di Desa Pengarengan melakukan upaya adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim, serta dampak perubahan iklim apa saja yang berimbas terhadap produktivitas garam tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, metode pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, dan data dikumpulkan dengan model Triangulasi yang menggabungkan wawancara semi-terstruktur terhadap petambak, observasi lapangan dengan mengidentifikasi kondisi eksisting, dan dokumentasi dilakukan dengan pengumpulan dokumen yang relevan. Analisis data mengacu pada Miles dan Huberman, analisis dilakukan secara berkelanjutan sejak awal hingga akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa fenomena iklim yang berdampak pada petambak garam tradisional meliputi variabilitas cuaca yang menghambat proses produksi garam, intensitas hujan memengaruhi kualitas dan harga garam, serta banjir rob yang berdampak terhadap infrastruktur produksi. Sebagai respon, petambak mengembangkan strategi adaptasi yang mencakup empat aspek, yaitu aspek sosial melalui pemanfaatan program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR), aspek ekonomi dengan memanfatkan aset yang dimiliki petambak, aspek ekologis melalui pemanfaatan sumber daya alam, dan Teknologi melalui penggunaan geomembran pada produksi garam tradisional.Kata Kunci : Adaptasi,Masyarakat Pesisir, Perubahan Iklim, Petambak Garam Tradisional, kerentanan