Khawakib Jawahirul
Dosen BK Universitas PGRI Banyuwangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UPAYA PENINGKATAN INTENSITAS BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBERIAN TUGAS TERSETRUKTUR UNTUK MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 2 NEGARA Rahmi Miftachul; Khawakib Jawahirul
SOSIOEDUKASI Vol 7 No 2 (2018): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.882 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Negara dengan menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas, dalam penelitian ini guru berusaha mencari jawaban atas masalah yang menyebabkan tujuan pembelajaran yang diharapkan sulit dicapai, lalu mencari alternatif pemecahan masalah, dan mencoba menerapkannya, dalam hal ini penulis mencoba meneliti dengan judul: ” Sejauh mana Model Pemberian Tugas Tersetruktur dapat meningkatkan intensitas belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran Matematika pada kelas VIII B SMP Negeri 2 Negara” . Setelah melalui proses penelitian yang seksama maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut; 1) pembelajaran yang disertai pemberian tugas tersetruktur dapat mengoptimalkan intensitas belajar serta tanggung jawab peserta didik dalam proses pembelajaran; 2) pemberian tugas tersetruktur dapat meningkatkan tanggung jawab siswa secara individual dan kelompok sehingga dapat meningkatkan ketuntasan belajar, khususnya mata pelajran Matematika ; 3) Pemberian Tugas Tersetruktur sangat efektif diterapkan pada mata pelajaran Matematika guna meningkatkan kuantitas dan kualitas pembelajaran serta ketuntasan belajar (mastery learning).
MENGATASI PERILAKU TERISOLIR SISWA MENGGUNAKAN KONSELING BEHAVIOUR TEKNIK ASSERTIVE TRAINING PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BANGOREJO BANYUWANGI Khawakib Jawahirul
SOSIOEDUKASI Vol 8 No 2 (2019): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.089 KB) | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v8i2.891

Abstract

Salah satu penyebab siswa terisolir diantaranya adalah kurangnya minat bersosial dan kurangnya kemampuan siswa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Salah satu masalah yang dimiliki oleh siswa terisolir adalah kurangnya keasertifan pada siswa sehingga mengakibatkan semakin terasingkannya siswa dari pergaulan teman sekelasnya. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana menngatasi perilaku terisolir siswa menggunakan konseling behavior dengan teknik assertive training. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan penelitian pada rumusan masalah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian dalam penelitian ini berjumlah dua orang siswa dari kelas XI. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pedoman observasi daftar cek dan skala penilaian siswa terisolir serta pedoman wawancara. Instrument tersebut telah diuji cobakan untuk digunakan dalam penelitian. metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik trianggulasi. Hasil penelitian perilaku terisolir siswa sebelum diberikan konseling behavior dengan teknik asertif menunjukkan bahwa minat bersosial siswa terisolir tergolong sedang, kemampuan menyesuaikan diri, kepercayaan diri, respon saat kegiatan, kemampuan bertenggang rasa, kemampuan sportif serta perlakuan teman juga tergolong sedang. Sedangkan kategori tinggi hanya dicapai pada aspek penampilan. Setelah siswa terisolir diberikan konseling behavior dengan teknik asertif, terjadi peningkatan pada beberapa aspek, diantaranya adalah minat bersosial meningkat 15%, kemampuan bersosial meningkat 7%, kepercayaan diri meningkat 4%, kemampuan bertenggang rasa meningkat 5%, dan perlakuan teman meningkat sebanyak 2%. Dapat dilihat dari meningkatnya minat bersosial siswa yang ditandai dengan bertambahnya teman yang dimiliki, siswa terisolir juga tidak lagi menjauhi ataupun ditolak ketika siswa ingin bergabung dalam kelompok. Keasertifan sangat penting dikuasai bagi siswa terisolir. Melalui penyampaian asertif yang tepat, siswa terisolir dapat mengurangi tekanan yang diberikan oleh pihak lain.