Margareta Kristiani Hartono
Universitas Tarumanagara Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisa Ketidaksetaraan Gender yang Terjadi dan Tanggapan Mahasiswa Perantau Universitas Tarumanegara Adi Pratomo Kusuma Wardhana; Margareta Kristiani Hartono; Therecya Angella Sitio; Vanessa Vanessa; Zefanya Angellin Chen
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9087

Abstract

Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Seringkali masyarakat beranggapan bahwa gender sama dengan jenis kelamin tetapi nyatanya gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender berbeda dengan seks, karena seks pembagian jenis kelamin yang berasal dari Tuhan, sedangkan gender dibentuk oleh sosial budaya dan gender berlaku tergantung waktu dan tempatnya. Karena dengan pemahaman tersebut banyak masyarakat yang belum memahami tentang gender dan masyarakat juga masih melakukan ketidaksetaraan gender dan membedakan status antara perempuan dan laki-laki. Ketidaksetaraan gender adalah diskriminasi yang diterima oleh perempuan atau laki-laki. ketidaksetaraan gender paling sering dirasakan oleh perempuan “Perempuan harus berstatus dibawah laki-laki”. Pemahaman tersebut yang dipahami oleh masyarakat, karena itu perempuan selalu didoktrin untuk harus selalu berada dibawah laki-laki atau berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Di era modern saat ini, pemahaman tersebut masih ada dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat, meskipun dikatakan jika di era modern saat ini sudah tidak ada lagi perbedaan atau diskriminasi lagi antara perempuan dengan laki-laki tetapi tetap saja masih banyak masyarakat yang menganut budaya “Patriarki”. Budaya patriarki adalah budaya yang lebih mengutamakan laki-laki dalam segala hal dan membelakangi perempuan. Selain karena pemahaman budaya patriarki, masih kurangnya juga pemahaman masyarakat terkait persamaan gender diantara laki-laki dan perempuan, oleh karena itu dibutuhkannya perubahan masyarakat terkait persamaan perempuan dan laki-laki.