Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Budaya Dayak dan Unsur-Unsur Magis dalam Novel Kembang Gunung Purei Karya Lan Fang Cahyaningrum Dewojati; Ine Wulandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5239

Abstract

This study analyzes the dialectics and negotiation process between elements contained in the narrative mode of magical realism by Wendy B. Faris. The material object is Kembang Gunung Purei novel by Lang Fang. The novel raises the issue of friction between two different cultures. The character of Nanang is described as a modern and logical cultural agent of a big city, while Bua is described as a figure who comes from the traditional Dayak community who believes in local cultural customs and magical things to solve various problems in life. This cultural background difference causes the emergence of dialectical and negotiation processes which can be explained by the five elements of Wendy B. Faris’ magical realism, such as irreducible elements, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, and identity. The five elements seek to equate the dominant subject with the marginalized subject. The results of the study show that the dialectic and negotiation process paved the way for the possibility of heterogeneity, not only from the dominant discourse (Nanang-modern), but also the marginalized discourse (Bua-traditional), not only from the subject called ‘West’ (immigrants-foreigners-city), but also the subject of the so-called ‘Timur’ (Dayak tribe). AbstrakPenelitian ini membahas dialektika dan proses negoisiasi antarelemen yang terdapat dalam mode naratif realisme magis yang digagas oleh Wendy B. Faris. Objek material yang digunakan adalah novel Kembang Gunung Purei karya Lang Fang. Novel tersebut mengangkat isu gesekan antara dua budaya berbeda. Tokoh Nanang digambarkan sebagai agen budaya kota besar yang modern dan logis, sementara Bua digambarkan sebagai tokoh yang berasal dari masyarakat tradisional Dayak yang banyak meyakini adat budaya lokal dan hal-hal magis sebagai solusi berbagai masalah dalam kehidupan. Latar belakang budaya yang berbeda itulah penyebab munculnya proses dialektika dan negosiasi yang dapat dijelaskan dengan lima elemen realime magis Wendy B. Faris, seperti irreducible element, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, dan identity. Kelima elemen tersebut berupaya untuk menyetarakan subjek yang dominan dengan subjek yang termaginalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dialektika dan negosiasi membuka jalan bagi kemungkinan heterogenitas tidak hanya dari wacana yang dominan (Nanang-modern), melainkan juga wacana yang termaginalkan (Bua-tradisional), tidak hanya dari subjek yang disebut ‘Barat’ (pendatang-orang asing-kota), melainkan juga subjek yang disebut ‘Timur’ (suku Dayak).
Pelatihan Penulisan Esai Destinasi Wisata di Kabupaten Gunungkidul bersama Komunitas Pelita Cahyaningrum Dewojati; Wulandari, Ine
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada masyarakat Vol 7 No 2 (2024): 2024: Edisi 2
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bakti.9978

Abstract

Abstrak Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu daerah yang kaya akan objek wisata. Objek wisata yang terdapat di Gunungkidul berupa wisata alam, religi, kuliner, edukasi, sejarah, belanja, dan lain-lain berpotensi untuk memakmurkan masyarakat dari segi ekonomi dan budaya. Namun, banyak di antara objek wisata tersebut belum dikenal dan dikembangkan dengan maksimal. Dengan demikian, perlu langkah strategis berupa penggalian potensi wisata melalui tulisan yang ditulis oleh penulis lokal dan dipublikasikan ke masyarakat umum untuk memajukan potensi tersebut. Hal ini tidak saja berguna untuk pengembangan diri penulis, tetapi juga bermanfaat untuk pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat Gunungkidul. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Budaya berupa penulisan esai ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat guna mengasah keterampilan kreatif. Berdasarkan latar belakang tersebut, tim PkM bekerja sama dengan Komunitas Pelita (Penggiat Literasi Aktif) Gunungkidul telah mengadakan Pelatihan Esai Destinasi Wisata di Kabupaten Gunungkidul. Anggota Komunitas Pelita terdiri atas guru SD, SMP, SMA, pegawai perpustakaan, pensiunan guru, dan masyarakat umum. Melalui pendampingan pada pelatihan ini, mereka telah menghasilkan buku antologi esai yang terdiri atas 37 tulisan tentang berbagai objek wisata Gunungkidul. Kata Kunci: Pengabdian, pelatihan, esai, wisata, Gunungkidul