Riris Johanna Siagian
Sekolah Tinggi Theologia HKBP Pematangsiantar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SAHALA: KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS MASYARAKAT BATAK DAN ALKITAB Riris Johanna Siagian
VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR'S LUB LUWUK BANGGAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.358 KB) | DOI: 10.35909/visiodei.v1i1.13

Abstract

This study is an effort to explore a more concrete and holistic understanding related to the existence and woman's role in Batak society. In reality, Batak has several terms which refer to the strong existence of women in Batak society. However, since the lineage is drawn from the male line, as is the case in a patriarchal culture, the strategic roles of women themselves often become neglected. This study conducted a constructive critical study to position women’s leadership in the context of the Batak community. It began by describing the actual conditions of women in the context of the Batak community. Furthermore, a constructive critical study was carried out by looking at religious literature and myth. The use of myths as study material is usually done in the study of the Sciences of Religions because people believe that myths contain teachings about the moral of a society, which are accepted and lived as teaching in daily life. Through that, things can also be found to be learning for the future. The study of the Sciences of Religion also uses the Sociology of Religion to discuss humanity and religion. Theological reflection on specific texts in the Bible is carried out with a new perspective. This way is done to raise the strength of women. Of course, this study has already been finished by a deep and prolonged study, so what is presented here is the result of the researcher's recommendations only.
Telaah Kritis Konstruktif Struktur dan Isi Pemahaman Bersama Iman Kristen dalam Perspektif Lutheran Riris Johanna Siagian
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.951 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.51

Abstract

The Common Understanding of the Christian Faith is the second of Documents on Church Unity, published by the resource department of Indonesia Church Communion. Since this document was published as a document of together in Indonesia in 1984 in Ambon, for churches have good awareness to get a theology for together in understanding. Nowadays, Indonesia has many problems about how to manage many persons with many different religions. For goal by doing a constructive analysis in Lutherans perspective for this document is very important to prepare this document to be relevant in many situations especially in multicultural, ethnic and religious context in Indonesia.AbstrakPemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) adalah dokumen kedua dari  empat bagian  Dokumen Keesaan Gereja (DKG), yang diterbitkan oleh Litbang Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Dokumen ini terdiri dari 7 bab. Bab I, memuat  tentang Allah, dan bab terakhir yakni bab 7, memuat tentang Alkitab. Sejak ditetapkan sebagai Pengakuan Iman Bersama di Indonesia tahun 1984 di Ambon, bagi gereja-gereja makin tumbuh kesadaran akan pentingnya satu teologi yang dapat dipahami bersama sehingga aksi oikumenis dapat dilakukan dalam kehidupan beragama di Indonesia. Telaah kritis konstruktif dari perspektif Lutheran  atas dokumen ini dilakukan terutama untuk mempersiapkan agar dokumen ini tetap relevan menghadapi berbagai persoalan sosial dan kecenderungan di tengah-tengah masyarakat yang multikultural dalam konteks Indonesia.
Eksistensi Gereja Sebagai Tubuh Kristus di Era Globalisasi Gomgom Simorangkir; Riris Johanna Siagian
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3188

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja sebagai Tubuh Kristus dalam menghadapi tantangan globalisasi, khususnya bagaimana gereja tetap relevan sekaligus mewujudkan kasih Allah di tengah masyarakat modern. Dalam era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterbukaan budaya, gereja menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai persekutuan orang percaya (Ekklesia tou Theou). Gereja dipanggil untuk menjalankan tri-tugas panggilannya koinonia, diakonia, dan marturia secara utuh dan kontekstual agar tetap menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia yang berubah cepat. Globalisasi membawa peluang bagi gereja untuk memperluas pelayanan, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa sekularisasi, hedonisme, dehumanisasi, dan relativisme moral. Oleh karena itu, gereja harus mampu menafsirkan kembali imannya secara kreatif dan teologis dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia masa kini, tanpa kehilangan kebenaran Injil. Gereja diutus bukan untuk menolak perubahan, tetapi untuk mentransformasikannya menjadi sarana pewartaan kasih Kristus. Dalam konteks ini, gereja perlu mengembangkan diakonia yang bersifat transformatif, keterbukaan terhadap dialog lintas iman, serta sikap kritis terhadap dampak sosial dan ekologis globalisasi. Dengan demikian, eksistensi gereja sebagai Tubuh Kristus tetap terjaga sebagai komunitas iman yang hidup, dinamis, dan misioner di tengah arus global yang kompleks.
Tantangan Sosial di Tengah Polarisasi Politik Identitas Ben Petrus; Riris Johanna Siagian
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3364

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis berbagai tantangan sosial yang muncul di tengah menguatnya polarisasi politik identitas dalam masyarakat multikultural. Polarisasi politik identitas yang semakin menajam dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi stabilitas sosial dan politik, tetapi juga mengganggu relasi antarwarga, melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi, serta menghambat kolaborasi lintas kelompok. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi bentuk-bentuk utama polarisasi yang muncul, seperti segregasi sosial berdasarkan etnis dan agama, meningkatnya ujaran kebencian, serta menguatnya kompetisi simbolik yang membatasi ruang dialog dan perjumpaan antaridentitas. Tujuan utama penelitian ini adalah memahami bagaimana polarisasi politik identitas mempengaruhi kohesi sosial masyarakat, serta merumuskan strategi mitigatif yang dapat ditempuh oleh pemerintah, organisasi keagamaan, komunitas sipil, dan lembaga pendidikan. Pendekatan ini menekankan pentingnya rekonstruksi budaya dialog, pembangunan jejaring lintas identitas, serta penguatan literasi sosial dan politik guna meminimalkan potensi konflik serta meningkatkan resiliensi sosial. Selain itu, penelitian ini bertujuan menawarkan model pendekatan yang dapat digunakan sebagai acuan kebijakan dalam menciptakan ruang publik yang inklusif, demokratis, dan anti-diskriminatif. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengayaan kajian akademik mengenai dampak polarisasi politik identitas serta menyediakan landasan konseptual bagi upaya transformasi sosial yang berkelanjutan dalam masyarakat plural.