Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Pencegahan Penularan Virus Prespektif al-Qur-an Studi Sains Surah al-Maidah Ayat 6 Mohammad Ruslan
JURISY: Jurnal Ilmiah Syariah Vol. 3 No. 1 (2023): MARET 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Hasan Jufri Bawean

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37348/jurisy.v3i1.244

Abstract

Latar belakang penyusunan skripsi ini adalah melihat dari beberapa kasus yang terjadi pada hampir semua negara khususnya di Indonesia tentang penyebaran virus, hal tersebut menjadi perhatian lebih bagi penulis untuk mengangkat tema yang berhubungan dengan virus yang dikomparasikan dengan pengetahuan sains serta al-Qur’an. Dari pemaparan di atas, kemudian penulis meneliti menggunakan kajian kepustakaan (Library Reseach) dengan menghimpun data-data tentang penanggulangan penyakit menurut ilmu kedokteran dan mereduksi data-data tersebut sesuai dengan kebutuhan, kemudian menyajikan al-Quran surah al-Maidah ayat 6 dan menjelaskan penafsiran ulama tentang ayat tersebut, dan yang terakhir menganalisis surah al-Maidah ayat 6 menurut pandangan sains dan mengkorelasikannya dengan teori sains dalam pencegahan virus. Adapun rumusan masalah yang diambil adalah a) bagaimana penafsiran surah al-Maidah ayat 6 perspektif sains, b) bagaimana korelasi pencegahan penularan virus dengan ayat al-Qur’an surah al-Maidah ayat 6. Hasil penelitian yang dapat diambil adalah a) penafsiran Q.S. al-Maidah ayat 6 prespektif sains lebih menekankan pada pentingnya menjaga kebersihan terutama kebersihan tubuh yang dilakukan dengan wudu, hal tersebut dapat mencegah adanya infeksi pada beberapa bagian tubuh yang sering berinteraksi dengan lingkungan seperti wajah, tangan, kepala, kaki, dan anggota lainnya, b) sedangkan korelasi yang dapat diambil dari penelitian tersebut adalah dengan praktik wudu yang dilakukan sesuai panduan syariat akan memberikan efek positif bagi tubuh, dari praktik wudu terdapat banyak pencegahan yang dapat dilakukan serta memiliki titik-titik akupuntur pada bagian anggota wudu yang berfungsi sebagai pengobatan bagi tubuh.
Religious Tolerance and the Spirit of Pluralism: QS. Al-Kafirun in Buya Hamka’s Tafsir Al-Azhar Misnatun Misnatun; Mohammad Ruslan; A. Ubaedillah
Al-Irfan : Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. 7 No. 2 (2024): September
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58223/al-irfan.v7i2.385

Abstract

Tolerance is an urgent necessity in a pluralistic society such as Indonesia. As a country rich in cultural, ethnic, and religious diversity, Indonesia faces potential threats of social conflict if harmony is not maintained. The unity and integrity of the nation are strongly influenced by how well its people can uphold peaceful coexistence, especially in matters of religious difference. In this context, the interpretations of Qur’anic exegetes (mufassir) like Buya Hamka become essential, considering that the majority of Indonesians are devout Muslims who respect the teachings of the Qur'an. This study aims to explore the concept of tasamuh (tolerance) as conveyed by Buya Hamka in his Tafsir Al-Azhar, specifically in the interpretation of Surah Al-Kafirun (verses 1–6), and its relevance to multicultural and pluralistic life in Indonesia. This research employs a qualitative library research method, collecting and analyzing literature from classical texts, books, journals, and other relevant sources. Data were then processed using content analysis to explore the values of tolerance embedded in Buya Hamka’s interpretation. The results reveal that Buya Hamka strongly emphasizes the importance of mutual respect and peaceful coexistence among people of different faiths. He argues that Surah Al-Kafirun upholds a firm yet respectful boundary between faiths—encouraging tolerance without promoting religious relativism. The findings contribute to the discourse on Islamic-based character education in Indonesia, reinforcing the message that pluralism should not be feared, but embraced with compassion and integrity.