Akuisisi kedalaman menggunakan Airborne LiDAR Batimetri adalah suatu metode pengukuran yang efisien untuk topografi dasar air di area perairan dangkal. ALB memiliki keterbatasan kemampuan penetrasi sensor terhadap badan air seperti kekeruhan, suhu dan salinitas. Faktor kekeruhan sangat mempengaruhi kemampuan gelombang hijau untuk masuk sampai permukaan dasar air. Untuk meningkatkan jumlah point cloud yang mewakili seabed, perlu dilakukan pengolahan sinyal gelombang hijau. Pengolahan sinyal gelombang hijau sebelumnya menggunakan metode sinyal individu yang terisolasi yang dianggap mewakili sekitar. Pada penelitian ini digunakan pengolahan sinyal gelombang infra merah dekat dan gelombang hijau dengan metode perwakilan pantulan mayoritas menggunakan software Leica LSS 3.1. Penentuan nilai maximum amplitude threshold, maximum amplitude threshold, dan slope threshold dilakukan otomatis oleh software berdasarkan sigma rata-rata mayoritas pantulan. Metode perwakilan pantulan mayoritas memberikan hasil yang baik di perairan jernih maupun di perairan keruh. Pada kondisi perairan jernih Pulau Ular penetrasi gelombang hijau pada permukaan dasar perairan mencapai kedalaman 13,87 meter. Sedangkan pada perairan keruh Pantai Tanjung Sari penetrasi gelombang hijau hanya mencapai 7,2 meter. Kekurangan dari pengolahan sinyal gelombang dengan metode ini adalah jumlah noise point cloud menjadi banyak sehingga pengolahan data menjadi lebih lama. Dari hasil uji akurasi dengan proses output control report menggunakan data sounding colok RTK dari kedalaman 0 sampai 1,5 meter didapatkan nilai RMS 0,331 meter.