Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Determinan Perdarahan Postpartum Primer di Wilayah Kerja Puskesmas Batujajar Bandung Tahun 2021 silva dwi rahmizani
NURSING UPDATE : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan P-ISSN : 2085-5931 e-ISSN : 2623-2871 Vol 13 No 4 (2022): DESEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36089/nu.v13i4.959

Abstract

Perdarahan postpartum primer merupakan salah satu permasalahan yang menjadi penyebab kematian ibu di Indonesia. Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan seorang perempuan khususnya, masyarakat pada umumnya. Perdarahan postpartum primer adalah ketika ibu kehilangan lebih dari 500 mililiter darah setelah 24 jam pertama melahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan perdarahan postpartum primer di wilayah kerja Puskesmas Batujajar Tahun 2021. Metode penelitian menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di Puskesmas Batujajar dari sebanyak 148 orang, melalui teknik total sampling. Hasil didapatkan terdapat hubungan jarak kelahiran dengan kejadian perdarahan postpartum primer (p=0,000), terdapat hubungan anemia dengan kejadian perdarahan postpartum primer (p=0,000) dan tidak terdapat hubungan usia dengan kejadian postpartum primer (p=0,409), terdapat hubungan paritas dengan kejadian perdarahan postpartum primer (p=0,000), terdapat hubungan riwayat perdarahan dengan kejadian perdarahan postpartum primer (p=0,000). Simpulan penelitian ini adalah ada hubungan bermakna jarak kelahiran, anemia, paritas dan riwayat perdarahandengan kejadian perdarahan postpartum primer dan tidak ada hubungan bermakna antara usia dengan kejadian perdarahan postpartum primer, faktor dominan yang berhubungan dengan perdarahan postpartum primer di Puskesmas Batujajar Tahun 2021 adalah anemia. Disarankan kepada bidan untuk melakukan penyuluhan mengenai perdarahan postpartum primer khususnya kepada ibu hamil dengan anemia.
Relaksasi Benson dan Relaksasi Autogenik terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Rahmizani, Silva Dwi; Lestari, Yulia Ayu
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 10 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v10i2.1023

Abstract

Kecemasan pada ibu hamil merupakan masalah yang sering terjadi dan dapat memiliki dampak negatif pada kesejahteraan ibu dan janin. Data dari WHO (2017) menunjukkan menunjukkan sekitar 5% wanita tidak hamil mengalami kecemasan, lalu meningkat menjadi 8-10% selama kehamilan, dan meningkat kembali menjadi 13% ketika menjelang persalinan. Teknik relaksasi, seperti relaksasi Benson dan relaksasi Autogenik telah digunakan sebagai pendekatan nonfarmakologi untuk mengurangi kecemasan pada ibu hamil. Namun, perbandingan efektivitas kedua teknik ini belum sepenuhnya terungkap. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan efektivitas relaksasi Benson dan relaksasi Autogenik terhadap perubahan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pretest dan postest design pada dua kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan pertama menerima relaksasi Benson, sementara kelompok kedua menerima relaksasi Autogenik. Tingkat kecemasan diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS). Populasi penelitian ini adalah ibu hamil trimester III sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling, dari seluruh sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu 15 orang diberikan relaksasi Benson dan 15 orang diberikan relaksasi autigenik. Analisis Bivariat menggunakan paired sample T-test dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik relaksasi benson maupun relaksasi Autogenik efektif dalam mengurangi kecemasan pada ibu hamil trimester III (p = 0.000). Namun, penurunan kecemasan ibu yang dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi Benson (27.33) lebih besar daripada ibu hamil yang dilakukan relaksasi Autogenik (22.11). Terdapat perbedaan relaksasi Benson dengan relaksasi Autogenik terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III.
Factors Associated With Stunting Incidents In Toddlers Aged 24-59 Months In Cimahi City In 2022 Lia, Kamila; SD, Rahmizani; Ririn, Heriawanti
MIDWIFERY JOURNAL Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 Juni 2023
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v3i2.10079

Abstract

Background: Chronic hunger, recurrent illnesses, and psychological stimulation all contribute to stunting, a condition of failure to thrive in children under five. There were 167 children with stunting who had their data documented at the Citeureup Health Center. Due to the increasing nutritional requirements for children this age, toddlers between 24 and 59 months have a propensity to be undernourished, which makes kids more susceptible to illness.Finding out what contributes to the prevalence of stunting in children between the ages of 24 and 59 in the Citeureup sub-district is our main goal.Methods: A case-control study approach was used for this study. Simple random sampling is used in the sampling method. The sample for this study consisted of 118 toddlers, 59 of whom had stunting and 59 of whom did not. Chi-Square was utilized for bivariate data analysis, and logistic regression was employed for multivariate data.Results: The nutritional status of the mother during pregnancy (p=0.001; OR 4.194), history of LBW (p=0.001; OR 8.195), exclusive breastfeeding (p=0.000; OR 15.750), and age at first giving complementary foods (p = 0.001; OR 4.052) were factors that significantly correlated with the incidence of stunting. Exclusive breastfeeding accounted for the majority of the variance (exp(B)=3.157; OR 23.503).Conclusion: There is a relationship between the nutritional status of mothers during pregnancy, history of low birth weight, exclusive breastfeeding and age at first giving complementary foods to the incidence of stunting. The most dominant factor is exclusive breastfeeding.Suggestion : It is recommended that midwives work together with cadres to further increase mothers' understanding of the importance of monitoring toddler growth and development at posyandu so that they can detect toddlers who experience failure to thrive earlier and monitor toddlers who experience growth faltering by maximizing KMS. Keywords: Nutritional Status of Mother during Pregnancy, History of LBW, Exclusive Breastfeeding, Age at First Giving MPASI, Stunting ABSTRAK Latar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial. Data balita stunting yang tecatat di Puskesmas Citeureup sebanyak 167 balita. Balita usia 24-59 bulan memiliki kecenderungan menderita status gizi kurang disebabkan asupan gizi yang diperlukan untuk anak seusia ini meningkat, yang menyebabkan anak lebih mudah sakit.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 di kelurahan Citeureup.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian  dengan desain case control. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 118 balita yaitu 59 kasus stunting dan 59 kontrol. Analisis data menggunakan Chi-Square untuk bivariat dan regresi logistik untuk multivariat.Hasil: Faktor yang memiliki hubungan secara signifikan dengan kejadian stunting adalah status gizi ibu saat hamil (p= 0,001; OR 4,194) riwayat BBLR (p= 0,001; OR 8,195), pemberian ASI eksklusif (p= 0,000 ; OR 15,750)dan usia pertama pemberian MPASI (p= 0,001; OR 4,052). Variabel yang paling dominan yaitu pemberian ASI eksklusif (exp(B)=3,157 ; OR 23,503).Simpulan: Terdapat hubungan antara status gizi ibu saat hamil, riwayat BBLR, pemberian ASI eksklusif dan usia pertama pemberian MPASI dengan kejadian stunting. Faktor yang paling dominan adalah pemberian ASI eksklusif.Saran: Bidan bekerjasama dengan kader untuk dapat lebih meningkatkan pemahaman ibu tentang pentingnya pemantauan tumbuh kembang balita di posyandu agar dapat lebih awal mendeteksi balita yang mengalami gagal tumbuh dan pemantauan balita yang mengalami growth faltering dengan memaksimalkan KMS.  Kata Kunci : Status Gizi Ibu saat Hamil, Riwayat BBLR, ASI Eksklusif, Usia Pertama Pemberian MPASI, Stunting