Cange Esra Runisi Gulo
Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsekuensi Atas Pemberitaan Injil Palsu Menurut Galatia 1:8-9: Sebuah Analisis Tentang Kemarahan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia Cange Esra Runisi Gulo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.255

Abstract

Consequences of false preaching of the gospel in (Galatians 1:8-9): An analysis of the apostle Paul's anger at the Galatians. The anger expressed by the apostle Paul was of great benefit especially to the Galatians who passed from Christ to living under the Law. In this study, the author used the exegesis method with a syntactic and semantic approach to text analysis by focusing on the text itself and interacting with other texts in the Bible as well as with various libraries, books, journals that discuss related topics. So, through this method, the author was able to find the meaning of the apostle Paul's anger in (Galatians 1:8-9). The results of this research can be revealed that the consequence of false preaching of the gospel is a curse that creates separation from God and becomes a person who does not love God. It can be known that when man is separated and does not live in Christ, he can do nothing and will perish. Thus, the activity of preaching the gospel should be carried out together with God the Holy Spirit who is the guide so that everyone who carries out the preaching of the gospel, the Ecclesiastes and Teachers of dogma, does not deviate from the purpose of God's mission, and faithfully embraces people to become believers and have faith in the Lord Jesus Christ.Keywords: consequences; gospel; false; aacursed; separated AbstrakKonsekuensi atas pemberitaan injil palsu dalam (Galatia 1:8-9): Sebuah analisis tentang kemarahan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Kemarahan yang diungkapkan rasul Paulus ini sangat bermanfaat terutama bagi jemaat Galatia yang beralih dari Kristus kepada hidup dibawah Hukum Taurat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode eksegesis dengan pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis dengan berfokus pada teks itu sendiri dan melakukan interaksi dengan teks-teks yang lain dalam Alkitab serta dengan berbagai pustaka, buku-buku, jurnal yang membahas topik terkait. Sehingga melalui metode ini, penulis dapat menemukan makna dari kemarahan rasul Paulus dalam (Galatia 1:8-9). Hasil dari penelitian ini dapat disingkapkan bahwa konsekuensi dari pemberitaan injil palsu adalah sebuah kutukan yang menimbulkan keterpisahan dengan Allah serta menjadi pribadi yang tidak mengasihi Allah. Dapat diketahui bahwa ketika manusia terpisah dan tidak hidup dalam Kristus, ia tidak dapat berbuat apa-apa dan akan binasa. Jadi, kegiatan pemberitaan injil seharusnya dilakukan bersama dengan Allah Roh Kudus yang menjadi penuntun sehingga setiap orang yang melaksanakan pemberitaan injil, para Pengkhotbah dan Pengajar dogma, tidak menyimpang dari tujuan misi Allah, dan dengan setia merangkul orang-orang untuk menjadi percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.Kata kunci: konsekuensi; injil; palsu; terkutuk; terpisah
Konsep Mencapai Doa sebagai Persembahan yang Murni kepada Tuhan menurut St. Ishak dari Niniweh Cange Esra Runisi Gulo
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.72

Abstract

Abstract: Talking about prayer may not always be interesting in certain circles to be discussed. Because it can be influenced by different paradigms or perceptions about prayer and then cause confusion. Prayers that you may be familiar with are expressing all requests and even giving thanks to God for all the goodness received. Even though the understanding of prayer that might be more specific is about building a relationship with God and fellowship with Him in prayer. There are also those who make prayer a tool to get what they want. And this is a mistake in understanding what prayer is like. The purpose of this writing is to contribute insights to readers, especially to practice true prayer. With the right understanding of prayer, of course the practice of prayer will be even better and not just a formality. This study uses the literary method, namely collecting data and collaborating with the theoretical basis to discuss the topic of discussion. As a result, prayer is a pure offering to be offered to God. Prayers that are done with full concentration in silence and wakefulness can make these prayers purer so that they are worthy of being an offering to God. So that when everyone correctly understands the meaning and purpose of this prayer, there will not be an act of prayer as a mere formality, or the perception that prayer is a spiritual activity to relate to God, but instead have the view that prayer can be a pure offering to God.Abstrak: Berbicara mengenai doa mungkin tidak selalu menarik dalam beberapa kalangan tertentu untuk dibahas. Karena dapat saja dipengaruhi karena paradigma atau persepsi tentang doa yang berbeda-beda dan kemudian menimbulkan kebingungan. Doa yang mungkin familiar dikenal adalah mengutarakan segala permohonan bahkan mengucap syukur kepada Tuhan terhadap segala kebaikan yang diterima. Padahal pemahaman tentang doa yang mungkin lebih spesifik yakni tentang membangun relasi dengan Tuhan serta bersekutu dengan-Nya dalam doa. Ada juga yang menjadikan doa sebagai alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dan ini merupakan kekeliruan dalam memahami doa itu seperti apa. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih wawasan bagi para pembaca, terutama untuk mempraktikkan doa yang benar. Dengan pemahaman yang benar tentang doa, tentunya praktik doa akan semakin lebih baik dan tidak hanya sekadar formalitas. Penelitian ini menggunakan metode Literatur, yakni mengumpulkan data dan melakukan kolaborasi dengan landasan teori untuk membahas topik bahasan. Alhasil, doa merupakan persembahan yang murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Doa yang dilakukan dengan penuh kosentrasi dalam keheningan serta keterjagaan dapat menjadikan doa tersebut semakin murni hingga layak menjadi persembahan kepada Tuhan. Sehingga ketika setiap orang memahami dengan benar makna dan tujuan doa ini, maka tidak akan terjadi tindakan doa sekadar formalitas, atau persepsi bahwa doa merupakan kegiatan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan, melainkan memiliki pandangan bahwa doa dapat menjadi persembahan yang murni kepada Tuhan.