Asmanah Widiarti, Asmanah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDIDAYA LEBAH MADU Apis mellifera L. OLEH MASYARAKAT PEDESAAN KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Widiarti, Asmanah; Kuntadi, Kuntadi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.158 KB)

Abstract

ABSTRAKBudidaya lebah madu Apis mellifera di Indonesia telah dipraktekkan terutama di Jawa sejak tahun 1970-an, namun dari segi produktivitas tergolong rendah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk mengidentifikasi  permasalahan  budidaya  lebah  A.  mellifera  dari  perspektif  peternak  telah  dilakukan penelitian di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan yaitu wawancara dengan responden yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling dari desa-desa di Kecamatan Gembong. Hasil penelitian menunjukkan ada enam permasalahan pokok dalam budidaya lebah madu A. mellifera. Penurunan sumber pakan dan kekurangan dana, menurut pendapat responden, adalah masalah utama yang dihadapi  para  peternak,  masing-masing  dikemukakan  oleh  78,13%  dan  59,38%  responden,  kemudian berturut-turut diikuti oleh permasalahan yang terkait dengan kurangnya penyuluhan manfaat perlebahan (50%) dan pembinaan teknis (37,50%), penurunan kualitas ratu (25%), dan hama (18,75%). Untuk mengatasi permasalahan   tersebut,   ada   tujuh   butir   solusi   yang   diajukan   peternak   kepada   pemerintah   yakni pengembangan tanaman pakan lebah di kawasan hutan (87,50% responden), pemberian subsidi gula (50% responden), subsidi peralatan (37,50% responden), standardisasi harga madu (31,25% responden), pengaturan angon (25% responden), aturan penebangan (18,75% responden), dan subsidi bibit (18,75% responden). Ketujuh butir solusi tersebut pada dasarnya hanya berkaitan dengan persoalan tanaman pakan dan pembiayaan. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa berkurangnya ketersediaan tanaman pakan dan masalahan pembiayaan merupakan persoalan utama yang menghambat perkembangan budidaya A. mellifera di Kabupaten Pati khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.
KARAKTERISTIK HUTAN RAKYAT POLA KEBUN CAMPURAN Widiarti, Asmanah; Prajadinata, Sukaesih
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang  karakteristik hutan rakyat dengan pola  kebun campuran atau sering disebut hutan rakyat swadaya, yang dinilai lebih memenuhi aspek kelestarian produksi dan pendapatan. Kajian ditinjau dari aspek teknis dan sosial-ekonomi petani. Hasil kajian menunjukkan kebun campuran saat ini masih dikelola secara tradisional. Komposisi jenis tanaman yang ada bervariasi antar daerah, secara umum jenis kayu yang dijumpai adalah sengon, mahoni, maesopsis sedangkan jenis buah-buahan adalah durian, pete, dan melinjo. Di Pandeglang komposisi tanaman  terdiri dari 38,45% kayu- kayuan, 49,88% buah-buahan, dan 11,67% tumbuhan bawah. Sedangkan di Sukabumi terdiri dari 52,43% kayu-kayuan, 28,68% buah-buahan, dan 18,89% tumbuhan bawah. Penghasilan dari kebun campuran ditentukan oleh perbandingan komposisi antara pohon kayu-kayuan dengan buah-buahan dan bentuk hasil kayu yang dijual. Di Pandeglang pendapatan dari kebun campuran sebesar Rp 2.477.323/ha/tahun (21,62% berasal dari kayu). Sedangkan di Sukabumi sebesar Rp 3.973.039/ha/tahun (60,30% berasal dari kayu). Hasil analisis vegetasi menunjukkan struktur vegetasi   kebun campuran lebih sederhana dibandingkan dengan struktur vegetasi di hutan alam, tetapi dari segi kerapatan pohon dan penutupan tajuk mendekati ekosistem hutan alam. Dari segi keanekaragaman hayati kebun campuran di Pandeglang lebih baik dibandingkan di Sukabumi. Kondisi keanekaragaman kebun campuran di kedua lokasi untuk tingkat pohon dijumpai 28-39 jenis dan dari segi penutupan tajuk berkisar antara 96,4-246,3% sehingga lebih baik dari segi manfaat ekologis. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan perbaikan teknis silvikultur/budidaya dan modifikasi pola tanam.