Hefni Zain
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL BERBASIS MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA Hefni Zain
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v8i1.386

Abstract

Fenomena meningkatnya dekadensi moral dan perilaku takterpuji seperti kekerasan, tawuran, eksklusivisme dan lemahnyatoleransi serta penghargaan terhadap orang lain dalam segalabentuknya merupakan indikator belum efektifnya fungsi pendidikanIslam yang dijalankan. Dari berbagai fenomena tersebut, banyakpihak memandang perlu dikembangkannya model pendidikan Islammultikultural yang terfokus pada pentingnya penghormatan terhadapkeragaman dan pengakuan kesederajatan paedagogis terhadap semuaorang (equal for all) yang memiliki hak yang sama untuk memperolehlayanan pendidikan dan penghapusan berbagai bentuk diskriminasisehingga terwujud suasana toleran, demokratis, humanis, inklusif,dan sinergis tanpa melihat latar belakang kehidupannya.
Eksistensi dan Perkembangan Tarekat Wahidiyah: The Existence and Development of the Wahidiyah Order Hefni Zain
Fenomena Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i1.406

Abstract

The resurgence of spiritual orientation amid modern humanity's existential crisis has sparked a significant revival of Sufi orders, including the understudied ghairu mu’tabarah tariqa such as Wahidiyah. This study aims to describe the development, main teachings, characteristics, and motivating factors for joining the Wahidiyah Tariqa at the As Sa'adah Islamic Boarding School in Jember. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed inductively and continuously. The findings reveal that the tariqa's development passed through three phases: growth (1981), consolidation (1986), and expansion (1989). Its core teaching is returning to the path of Allah (Fafirru ilallah) through dhikr in the form of shalawat, always using the Prophet Muhammad as a wasilah (intermediary). The primary factor for joining is the perceived effectiveness of the dhikr in bringing peace to the heart. In conclusion, the Wahidiyah Tariqa is characterized by its unique practice of wasilah and mujahadah, and it is recommended for further development as a counterbalance to hedonistic and materialistic lifestyles. Maraknya arus balik spiritual di tengah krisis eksistensial manusia modern telah memicu kebangkitan tarekat sufi, termasuk tarekat ghairu mu’tabarah seperti Wahidiyah yang belum banyak terpublikasi secara akademik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan, ajaran pokok, karakteristik, serta faktor yang melatarbelakangi seseorang mengikuti Tarekat Wahidiyah di Pondok Pesantren As Sa’adah, Jember. Dengan menggunakan desain kualitatif model studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara induktif dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan tarekat ini melalui tiga fase: pertumbuhan (1981), konsolidasi (1986), dan pengembangan (1989). Ajaran pokoknya adalah kembali ke jalan Allah (Fafirru ilallah) melalui dzikir shalawat dengan menjadikan Rasulullah sebagai wasilah. Faktor utama seseorang bergabung adalah kemanfaatan dzikir yang terbukti menentramkan hati. Kesimpulannya, tarekat ini memiliki karakteristik unik dalam praktik wasilah dan mujahadah, serta direkomendasikan untuk terus dikembangkan sebagai penyeimbang gaya hidup hedonistik dan materialistik.
Pemberdayaan Da'i Perempuan dan Kesetaraan Gender melalui Learning Organization di Lembaga Dakwah NU (LDNU) Jember: Empowerment of Female Preachers and Gender Equality through Learning Organization at the NU Da'wah Institute (LDNU) Jember Hefni Zain
Fenomena Vol 9 No 2 (2010): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v9i2.470

Abstract

In Islamic discourse, especially in the context of da'wah, women are still often undervalued and even marginalized, particularly in holding positions as religious interpreters. This results in half-hearted recognition of their knowledge and leadership. Empirically, however, there are many women in society known for their knowledge and leadership, widely acknowledged for their contributions to development. This research employed a qualitative design with a descriptive approach, collecting data through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies. The findings revealed that the empowerment of female preachers through the learning organization approach at LDNU Jember focused on professionalism and spirituality training, implemented through six disciplines: spiritual motivation, personal mastery, mental models, building shared vision, team learning, and system thinking. The most dominant factor influencing this empowerment was the approach used, as the right approach created a conducive and varied empowerment atmosphere, enabling the goals to be achieved effectively, efficiently, and productively. The steps taken by LDNU Jember in empowering female preachers included setting equality-based empowerment standards, planning training programs according to the established standards, and conducting simulations and program evaluations. Dalam wacana Islam, khususnya dalam konstelasi dakwah, perempuan masih sering dipandang rendah dan bahkan termarginalkan, terutama dalam memegang posisi sebagai penafsir agama. Hal ini berimplikasi pada pengakuan yang setengah hati terhadap pengetahuan dan ketokohan mereka. Padahal, secara empiris di masyarakat terdapat banyak perempuan yang dikenal karena pengetahuan dan ketokohannya serta diakui secara luas kontribusinya dalam pembangunan. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan da'i perempuan melalui pendekatan learning organization di LDNU Jember difokuskan pada pelatihan profesionalitas dan spiritualitas yang diterapkan melalui enam disiplin: motivasi spiritual, penguasaan diri, model mental, membangun visi bersama, pembelajaran tim, dan berpikir sistem. Faktor yang paling dominan mempengaruhi pemberdayaan ini adalah pendekatan yang digunakan, karena dengan pendekatan yang tepat, tercipta suasana pemberdayaan yang kondusif dan variatif sehingga tujuan pemberdayaan dapat dicapai secara efektif, efisien, dan produktif. Langkah-langkah yang dilakukan LDNU Jember dalam upaya pemberdayaan da'i perempuan meliputi: menetapkan standar pemberdayaan berbasis kesetaraan, merencanakan program pelatihan sesuai standar yang ditetapkan, serta melakukan simulasi dan evaluasi hasil program.
Pengembangan Pendidikan Islam Berbasis Multikultural (Studi pada Pondok Pesantren Al-Qodiri dan Al-Ghazali Jember): Development of Multicultural-Based Islamic Education (A Study at Al-Qodiri and Al-Ghazali Islamic Boarding Schools in Jember) Hefni Zain
Fenomena Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v13i2.567

Abstract

Amidst societal awareness of plurality, the development of multicultural education continues to expand to various places, including several Islamic boarding schools in the Jember region, particularly Al-Qodiri and Al-Ghazali Islamic boarding schools. Over the past five years, these two boarding schools have developed multicultural education, which emphasizes the importance of respecting plurality and acknowledging pedagogical equality for all individuals who have the same right to receive educational services, regardless of their ethnicity, social status, religion, or gender. This research is based on the general question: What is the strategy for developing multicultural-based Islamic education at Al-Qodiri and Al-Ghazali Islamic boarding schools in Jember? To address this general question, the research aims to answer three specific questions: (1) How is the implementation of multicultural-based Islamic education development at these two institutions? (2) What steps have the leaders of these institutions taken to develop multicultural-based Islamic education? (3) What are the opportunities and obstacles in developing multicultural-based Islamic education at these two institutions? Dalam kesadaran masyarakat akan pluralitas, pengembangan pendidikan multikultural terus merambah ke berbagai tempat, termasuk beberapa pondok pesantren di wilayah Jember, khususnya Pondok Pesantren Al-Qodiri dan Al-Ghazali Jember. Selama lima tahun terakhir, kedua pondok pesantren tersebut telah mengembangkan pendidikan multikultural, yaitu pendidikan yang menekankan pentingnya penghormatan terhadap pluralitas dan pengakuan kesetaraan pedagogis terhadap semua orang yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan, apa pun etnis, status sosial, agama, dan jenis kelaminnya. Penelitian ini didasarkan pada pertanyaan umum: Bagaimana strategi pengembangan pendidikan Islam berbasis multikultural di Pondok Pesantren Al-Qodiri dan Al-Ghazali Jember? Untuk memahami pertanyaan umum tersebut, penelitian ini berusaha menjawab tiga pertanyaan spesifik: (1) Bagaimana implementasi pengembangan pendidikan Islam berbasis multikultural di kedua lembaga tersebut? (2) Bagaimana langkah-langkah pimpinan kedua lembaga dalam mengembangkan pendidikan Islam berbasis multikultural? (3) Apa saja peluang dan hambatan dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis multikultural di kedua lembaga tersebut?