Ahmed Zaranggi Ar Ridho
UIN Sunan Kalijaga

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Zikir Sufistik dalam Tafsir Al-Qur’ān Al-Karīm Karya Mullā Ṣadrā Ahmed Zaranggi Ar Ridho; Safira Malia Hayati
JOUSIP: Journal of Sufism and Psychotherapy Vol. 2 No. 2 (2022): JOUSIP: Journal of Sufism and Psychotherapy, November 2022.
Publisher : Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jousip.v2i2.6031

Abstract

Penafsiran dalam kajian sufistik sering kali dilakukan secara parsial dengan hanya menggunakan pendekatan tasawuf praktis saja sehingga tidak menghasilkan pemahaman konsep zikir yang komprehensif. Tafsir karya Mulla Ṣadrā memiliki kajian yang menarik, yakni corak falsafi teoritis dan praktis sehingga mampu membaca ayat-ayat tentang konsep zikir dengan komprehensif. Mullā Ṣadrā dalam tafsir Al-Qur’ān Al-Karīm menawarkan konsep zikir sufistik yang mempertimbangkan aspek tasawuf teoritis dengan hermeneutika wujūdī. Hermeneutika ini menawarkan pembacaan komprehensif yang melibatkan tiga komponen penting yaitu tekstual, intelektual dan spiritual. Sehingga menghasilkan interpretasi yang holistik tentang zikir dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna konsep zikir perspektif Ṣadrā secara lebih komprehensif. Untuk mencapai tujuan tersebut artikel ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Artikel ini menunjukkan tiga konsep penting dalam zikir sufistik perspektif Ṣadrā. Pertama, zikir sufistik harus melibatkan zikir lahir dan batin. Kedua, terdapat enam tingkatan zikir sufistik yang meliputi żikr lisān, żikr jawārih wal arkān, żikr nafs, żikr qalb, żikr rūh dan żikr sirr yang didasarkan pada gradasi wujud (tasykīk al-wujūd). Ketiga, terdapat tiga keadaan seorang penzikir hakiki (ahwāl aż-żākir al-haqīqī) yang didasarkan pada teori kesatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui (Ittiḥād al-āqil wa al-ma’qūl). Tiga konsep kunci ini menggambarkan keutuhan żikr dalam penafsiran Ṣadrā yang memadukan antara tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.