Novrian Satria Perdana, Novrian Satria
Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Penelitian PAUD, Dikdas, Dikmen, dan Dikmas

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Edutech

THE UTILIZATION OF LEARNING MULTIMEDIA AS STRATEGIES TO INCREASE STUDENTS LEARNING ACHIEVEMENT (PEMANFAATAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA) Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 15, No 3 (2016): ESENSI PEMBELAJARAN MASA KINI
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i3.4134

Abstract

Abstract.This study aims to determine the most effective type of learning tool to improve stu-dents’ achievemen . This study uses quasi-experimental method, which connects the causality be-tween variables which are deliberately determined with another variable, with pretest - posttest control group design. The sample of this study is 376 students majoring in accounting at a state vocational school in Jakarta. The results showed: ( 1 ) The use of learning multimedia in the learning process of accounting subject was more effective to improve students’ cognitive abilities in accounting than the use textbooks; ( 2 ) Accounting learning with multimedia was better than learning with text books.Keywords : Learning Media , Multimedia , Learning Achievement .Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis sarana pembelajaran apakah yang paling efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen, yang menghubungkan sebab akibat antara variabel y ang sengaja ditentukan dengan variabel lain, dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel dalam penelitian sebanyak 376 siswa SMK Negeri jurusan akuntansi di DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Penggunaan media pembelajaran multimedia dalam proses pembelajaran akuntansi lebih effektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif akuntansi yang dimiliki siswa daripada penggunaan media buku teks. (2) Pembelajaran akuntansi dengan multimedia lebih baik dibandingkan dengan buku teks.Kata Kunci : Media Pembelajaran, Multimedia, Prestasi Belajar.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PROFESI DAN KARIER KEPALA SEKOLAH Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.5762

Abstract

Abstract. Burden borne by the Principal in leading his school is not matched by the clarity of the position of Principal which in Permendiknas No. 28 of 2010 states that the principal is a "teacher who was given the additional task to lead ....". This makes the load a Principal to grow because he is also a teacher must fulfill teaching hours as much as 6 hours. Under these condi-tions, the authors conducted a study with the aim of the study include: (1) analyze the status of professions principal, (2) analyzing the career path (career path) the principal, and (3) analyze the suitability of legislation related to the duties and burdens working with the school principal conditions that occur in the field. The sample was elementary school principal to BC in the city of Palembang in 2016. The results of this study include: (1) Most of the characteristics of the profes-sion has been owned by the principals in the city of Palembang, except for earnings not describe a significant difference with the level of the job, (2) to become principals in the city of Palembang, to date, in accordance with existing regulations, which must be held by the teacher, not the other positions. There was also a school principal who was appointed did not pass training for candi-date principal, but there were appointed through political appointments / selection of regional heads, (3) the pattern of recruitment of principals in the city of Palembang yet fully implementing the Ministerial Regulation No. 28 of 2010, even to this day do not all principals have NUKS.Keywords: Principal, Profession, Career PathsAbstrak. Beratnya beban yang dipikul oleh Kepala Sekolah dalam memimpin sekolahnya tidak diimbangi dengan kejelasan posisi Kepala Sekolah yang mana dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Kepala Sekolah adalah “guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin….”. Hal ini membuat beban seorang Kepala Sekolah ber-tambah karena dia juga seorang guru yang harus memenuhi jam mengajar sebanyak 6 jam. Ber-dasarkan kondisi tersebut, penulis melakukan penelitian dengan tujuan penelitian antara lain: (1) menganalisis status keprofesian kepala sekolah, (2) menganalisis jalur karier (career path) kepala sekolah, dan (3) menganalisis kesesuaian peraturan perundang-undangan terkait dengan tugas dan beban kerja kepala sekolah dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Sampel penelitian ini adalah kepala sekolah jenjang SD hingga SM di kota Palembang pada tahun 2016. Hasil penelitian ini antara lain: (1) Sebagian besar ciri-ciri profesi telah dimiliki oleh kepala sekolah di kota Palem-bang, kecuali mengenai penghasilan yang belum menggambarkan perbedaan yang signifikan dengan jenjang jabatan tersebut, (2) Untuk menjadi kepala sekolah di kota Palembang hingga saat ini telah sesuai dengan regulasi yang ada, yaitu harus dijabat oleh guru, tidak jabatan lain. Ada juga kepala sekolah yang diangkat juga tidak melewati Diklat Calon Kepala Sekolah, tetapi ada yang diangkat melalui jabatan politik/pilihan kepala daerah, (3) Pola rekrutmen kepala sekolah di kota Palembang belum sepenuhnya mengimplementasikan Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, bahkan hingga saat ini tidak semua kepala sekolah memiliki NUKS.Kata Kunci: Kepala Sekolah, Profesi, Jalur Karier
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DALAM UPAYA PENCEGAHAN KENAKALAN REMAJA Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.9860

Abstract

Abstract. Many cases of juvenile delinquency that occurred in the community allegedly be-cause there are lack of exemplary and intensive supervision in our educational and community components. According to this reality, it is urgent to know the strategy of strengthening character education in schools to prevent juvenile delinquency. The purpose of this paper is to examine strat-egies in preventing juvenile delinquency through strengthening character education. This paper uses the theory of habituation from the Skinner, such as spontaneous activities, exemplary meth-ods are also a series of behaviorism theory from John Watson, and conditioning activities that are similar to behaviorism theory from Edwin Guthrie . This study includes the type of literature study research by finding reference theory that relevant to the cases or problems found. The data that have been obtained then analyzed by descriptive analysis method. The conclusions from this litera-ture study includes 1) education in Indonesia still focused on cognitive aspect or academic, while the aspect of soft skills or non academic which is the main element of character education so far still get less attention. 2) implementation of strategies to strengthen character education in schools in preventing juvenile delinquency, can be integrated into existing subjects, local content, self-development. 3) the headmaster as the leader of the school organization is fully responsible for the character building of students, so as a model school requires special efforts to integrate the values of character into the learning process and routine activities in schools. Based on the above conclu-sions, some suggestions were formulated: 1) learning in schools should focus on soft skills or non academic (affective and psychomotor) which are the main elements of character education through teaching and learning activities or extracurricular activities; 2)The national education ministries should formulate learning models that use the character component as the largest com-ponent; 3) the national education ministry should cooperate with TNI and POLRI by conducting education to defend the country that there are character and nationalism elements. Abstrak. Maraknya kasus kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat diduga ku-rangnya keteladanan dan pengawasan intensif dari komponen pendidikan dan masyarakat. Ber-dasarkan hal tersebut, mendesak untuk diketahui strategi penguatan pendidikan karakter di sekolah dalam mencegah kenakalan remaja. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji strategi dalam mencegah kenakalan remaja melalui penguatan pendidikan karakter. Penulisan ini menggunakan teori pembiasaan dari Skinner, berupa kegiatan-kegiatan spontan, metode keteladanan yang juga sejalan dengan teori behaviorisme dari John Watson, dan kegiatan pengkondisian yang sejalan dengan teori behaviorisme dari Edwin Guthrie. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi literatur dengan mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau per-masalahan yang ditemukan. Data-data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Kesimpulan dari studi literatur ini antara lain: 1) Pendidikan di Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek soft skills atau non-akademik yang merupakan unsur utama pendidikan karakter selama ini masih kurang mendapatkan per-hatian; 2) Implementasi strategi penguatan pendidikan karakter di sekolah dalam upaya pencega-han kenakalan remaja dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, muatan lokal, pengembangan diri, dan budaya sekolah, dan 3) Kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi sekolah bertanggungjawab penuh terhadap pembinaan karakter peserta didik, sehingga sebagai teladan sekolah diperlukan upaya khusus untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran dan aktivitas rutin di sekolah.. Berdasarkan kesimpulan di atas, dirumuskanbeberapa saran: 1) Pembelajaran di sekolah sebaiknya diutamakan menekankan pada soft skills atau non-akademik (afektif dan psikomotorik) yang merupakan unsur utama pendidikan karakter melalui KBM dan kegiatan ekstrakurikuler; 2) Kemendikbud sebaiknya merumuskan model penilaian yang menggunakan komponen karakter sebagai komponen terbesar; 3) Kemendikbud bekerjasama dengan TNI dan POLRI sebaiknya mengadakan pendidikan bela Negara yang dida-lamnya memuat unsur budi pekerti dan nasionalisme.
KETERCAPAIAN SEKOLAH BERASRAMA DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN AKSES PENDIDIKAN Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i2.15127

Abstract

One of the main problems in the field of education in Indonesia to date is quality and access. The decline in the results of the UN 2017 and APK to the next level indicates that a more comprehensive and affordable education model is needed. Dormitory education models in the form of boarding schools can implement a comprehensive-holistic education program including religion, academic development, the ability to survive (soft skills and hard skills), the insight of the Unitary Republic of Indonesia (NKRI), and building global insight. Considering the importance of boarding schools, up to now many boarding schools have been established but little research has been conducted on the conditions of their achievement based on the National Education Standards. Based on this, the purpose of this study was to analyze the achievement of boarding schools in an effort to improve access and quality of education seen from the National Education Standards (SNP). This research method uses purposive sampling by taking a sample in the Province of South Sumatra in 2017. The unit of analysis in this study is boarding schools in South Sumatra Province. Based on the achievement of boarding schools in South Sumatra Province, which consists of aspects of policy in the area about the existence of boarding schools, grades values of boarding schools, and collaboration with outside parties indicate that the existence of boarding schools can overcome the problems of access and quality of education in South Sumatra Province. Regarding access, students in remote areas have been provided with SMK Negeri 1 Gelumbang and for special access to athletes who need time and special curriculum, there is a Sriwijaya State Sports Middle School. To overcome the problem of efforts to improve the quality of education, there have been 17 Palembang State Senior High Schools and South Sumatra State High Schools which have educators and education personnel, learning and care curricula as well as very adequate facilities and infrastructure.Salah satu permasalahan utama dalam bidang pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah kualitas dan akses. Menurunnya hasil UN 2017 dan APK ke level selanjutnya menunjukkan bahwa diperlukan model pendidikan yang lebih komprehensif dan terjangkau. Model pendidikan asrama berupa pondok pesantren dapat melaksanakan program pendidikan holistik yang komprehensif meliputi agama, pengembangan akademik, kemampuan bertahan (soft skill dan hard skill), wawasan NKRI, dan membangun global wawasan. Mengingat pentingnya pondok pesantren, hingga saat ini sudah banyak didirikan pondok pesantren namun belum banyak dilakukan penelitian tentang kondisi pencapaiannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis capaian pondok pesantren dalam upaya peningkatan akses dan mutu pendidikan dilihat dari Standar Nasional Pendidikan (SNP). Metode penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan mengambil sampel di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017. Unit analisis dalam penelitian ini adalah pondok pesantren yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan capaian pondok pesantren di Provinsi Sumatera Selatan yang terdiri dari aspek kebijakan di daerah tentang keberadaan pondok pesantren, nilai nilai pondok pesantren, dan kerjasama dengan pihak luar menunjukkan bahwa keberadaan pondok pesantren dapat mengatasi permasalahan tersebut. akses dan mutu pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan. Soal akses, siswa di pelosok sudah disediakan SMK Negeri 1 Gelumbang dan untuk akses khusus atlet yang membutuhkan waktu dan kurikulum khusus ada SMP Olah Raga Negeri Sriwijaya. Untuk mengatasi masalah upaya peningkatan mutu pendidikan tersebut, telah terdapat 17 SMA Negeri Palembang dan SMA Negeri Sumatera Selatan yang memiliki pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum pembelajaran dan pengasuhan serta sarana dan prasarana yang sangat memadai.
CHARACTER EDUCATION MODEL BASED ON EDUCATION IN ISLAMIC BOARDING SCHOOL Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 14, No 3 (2015): INOVASI MODERN DALAM PENDIDIKAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i3.1387

Abstract

Abstract, Various efforts to make education more meaningful for individuals concerning affective domain has been conducted through several subjects, including Religion Education, Civics Education, Social Sciences Education, Indonesian Language Education, and Physical Education. However, those efforts could not effectively hold character building which is dynamic and adaptive to fast changing era. The failure of character building at formal school must be anticipated, so it is necessary to develop relevant teaching model and education system. The problem of character education in school which is not yet able to build students’ character is affected by several factors: school management, teacher, and learning model. Some researches on best practices of character educationhave been conducted in order to obtain relevant teaching model at several Islamic boarding schools in North Sumatera Province, Nangroe Aceh Darussalam Province, West Sumatera Province, Riau Province, Jambin Province and South Sumatera Province. The data was collected using indepth-interview and observation. It was found that salafiyah Islamic boarding school put more priority on teacher (ustadz) role model, while modern Islamic boarding school applied tight rules to develop students’ discipline, and responsibility. Islamic boarding schools build the characters of caring for other people, sincerity of devotion, modesty, and independence. The policy that could be suggested based on this research is that of the application of character education must be holistically embedded in school program and must be comprehended and obeyed by school’s educators and students alikeBetter implementation could be achieved if the character education is explicitly formulated in the mission statement of the school.   Keywords:  character education, learning model, Islamic boarding school  Abstrak, Berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih mempunyai makna bagi individu yang menyentuh tataran afektif telah dilakukan melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan IPS, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Jasmani. Namun demikian upaya-upaya tersebut ternyata belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap perubahan jaman yang sangat cepat. Permasalahan gagalnya pendidikan formal di sekolah dalam membentuk karakter siswa sangat perlu diantisipasi, sehingga perlu dikembangkan suatu model pembelajaran dan system pendidikan yang dapat digunakan untuk membentuk karakter siswa. Permasalahan pendidikan di sekolah yang belum dapat membentuk karakter siswa dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya factor manajemen sekolah, guru, dan model pembelajaran. Untuk memperoleh model pembelajaran yang cocok, telah dilakukan penelitian tentang best practices pendidikan karakter di beberapa pesantren yang berada di propinsi Sumatera Utara, propinsi Nangroe Aceh Darussalam, propinsi Sumatera Barat, propinsi Riau, propinsi Jambi, dan propinsi Sumatera Selatan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tehnik yang lazim digunakan dalam penelitian dalam penelitian kualitatif, yaitu; observasi dan wawancara mendalam. Ditemukan bahwa pesantren salafiyah lebih mengutamakan keteladanan ustadz, sedangkan pesantren modern menerapkan aturan yang ketat untuk menumbuhkan sikap disiplin dan tanggungjawab. Pesantren menumbuhkan atribut karakter saling tolong menolong, ihklas mengabdi, kesederhanaan, dan kemandirian. Kebijakan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian ini adalah menerapkan pendidikan karakter secara holistic melalui program sekolah yang harus dipahami dan dipatuhi oleh semua unsur pendidik dan peserta didik.  Untuk itu, lembaga pendidikan seharusnya menetapkan misi yang eksplisit terkait pengembangan karakter siswa.  Kata Kunci: pendidikan karakter, model pembelajaran, pondok pesantrenÂ