Abdulkadir Sunito, Melani
Department Of Communication And Community Development Science, Faculty Of Human Ecology, IPB University, Jl. Kamper Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Penghidupan dengan Perspektif Gender pada Rumah Tangga Nelayan Buruh di Kelurahan Kangkung, Lampung Denada Melona Anggia; Melani Abdulkadir Sunito
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i1.1109

Abstract

Nelayan buruh hidup dalam ketidakpastian akibat fluktuasi alam dan juga keterbatasan sumber daya penghidupan. Rumah tangga nelayan buruh berstrategi untuk mencukupi kebutuhan hidup melalui berbagai kegiatan kerja yang menghasilkan pendapatan dan melibatkan anggota keluarga baik laki - laki maupun perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sumber daya penghidupan yang dimiliki oleh anggota rumah tangga laki - laki dan perempuan, mendeskripsikan strategi penghidupan rumah tangga nelayan buruh, serta menganalisis hubungan sumber daya penghidupan dengan strategi penghidupan rumah tangga nelayan buruh. Penelitian ini menggunakan metode penggabungan pengamatan kualitatif dan wawancara mendalam dengan pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner (mixed method). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya yang paling besar dimiliki rumah tangga nelayan buruh adalah sumber daya sosial. Bentuk strategi yang paling banyak dilakukan adalah intensifikasi dan ekstensifikasi. Laki - laki berstrategi dengan memperpanjang waktu melaut dan perempuan dengan meminjam uang pada koperasi atau bank. Seluruh sumber daya penghidupan memiliki hubungan nyata dengan strategi penghidupan yang dilakukan rumah tangga nelayan buruh di Kelurahan Kangkung.
Perilaku Masyarakat Adat terhadap Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Kasus: Masyarakat Adat Baduy): Indigeneous Peoples’ Behavior towards Local Wisdom in Natural Resources Management (Case: Baduy Indigeneous Peoples) Jasmine , Lidia Faiza; Saharuddin; Murdianto; Abdulkadir, Melani
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i2.951

Abstract

Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang ramah lingkungan semestinya sudah menjadi paradigma utama saat ini. Masyarakat adat Baduy dapat menjadi contoh tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang seimbang antara kesejahteraan dan kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perilaku masyarakat adat Baduy terhadap kearifan lokalnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di wilayah Baduy. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif, didukung dengan data kualitatif dari hasil wawancara mendalam. Metode kuantitatif dilakukan dengan metode survei menggunakan teknik accidental sampling yang kemudian diuji menggunakan uji regresi linear sederhana untuk melihat pengaruh perilaku masyarakat adat Baduy terhadap kearifan lokalnya dalam pengelolaan sumberdaya alam. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku masyarakat adat Baduy terhadap kearifan lokalnya memengaruhi pola-pola implementasi pengelolaan sumber daya alam pada masyarakat adat Baduy, sehingga kelestarian lingkungan dapat terus terjaga. Dapat dikatakan juga bahwa kelestarian lingkungan di wilayah Baduy terjaga oleh sistem kearifan lokal mereka.
The Limit to Politics of Ethnicity? Migration and Upland Transformation in Central Sulawesi Abdulkadir Sunito, Melani; Adiwibowo, Soeryo; Soetarto, Endriatmo; A.Kinseng, Rilus; Foley, Sean
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 5 No. 3 (2017): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.954 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v5i3.19396

Abstract

ABSTRACTAlthough in early 2000s ethnic politics was used to gain access to land inside the National Park, thus transformed land use in an upland village in Central Sulawesi, a decade later it losts its role as the main driver to further expansion of agriculture-land. Using political ecology approach, this paper discusses territorialization through politics of ethnicity and ethnicity/identity as mechanism to access. The findings indicated that ethnic politics are enabled, and constrained, by certain conditions within the community as well as from external situation. In the latter trajectory of upland transformation, politics of ethnicity are constrained by an alteration of ethnic groupings as new migrants came to the village community, a ‘leveling-off playing field’ in land access and high-external input agriculture commodities, as well as a change in forest-policy.Keywords: ethnic politics, migration, upland transformationABSTRAKMeski pada permulaan tahun 2000an politik etnisitas digunakan untuk memperoleh akses atas tanah hutan di dalam Taman Nasional, lantas merubah penggunaan lahan pada suatu desa dataran tinggi di Sulawesi Tengah, satu dekade setelahnya politik etnisitas tak lagi berperan dalam ekspansi lanjutan tanah pertanian itu. Menggunakan pendekatan ekologi politik, tulisan ini membahas teritorialisasi melalui politik etnisitas dan penggunaan kuasa etnisitas/identitas sebagai mekanisme untuk mengakses. Temuan penelitian menunjukkan bahwa politik etnisitas dimungkinkan, ataupun dibatasi, oleh kondisi-kondisi di dalam komunitas maupun situasi eksternal. Pada trajectory transformasi desa yang belakangan, politik etnisitas dibatasi oleh perubahan pengelompokan etnis akibat migrasi baru pada komunitas desa yang kian beragam etnis, suatu leveling-off playing field dalam akses atas tanah dan budidaya komoditas pertanian tinggi-input yang mengarah pada pemerataan kesempatan ekonomi dan pendapatan, serta perubahan dalam kebijakan kehutanan.Kata kunci: politik etnisitas, migrasi, transformasi dataran tinggi pedalaman
From Traditional Agricultural Practices to Monoculture Plantations: Impacts on Indigenous Communities' Land Tenure,Land Use, and Livelihoods Tirza Pandelaki; Melani Abdulkadir Sunito; Lala M Kolopaking
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 13 No. 1 (2025): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/13202564283

Abstract

The shift from traditional agriculture to monoculture plantations has significantly altered land tenure, land use, and livelihoods among the Dayak Hibun Community in villages of West Kalimantan. This study aims to examine the impacts of oil palm development on land relations, cultural values, and livelihoods within Indigenous communities embedded in the palm oil commodity supply chain.  This study uses a mixed-methods approach, combining qualitative methods such as field observations, transect, interviews, and FGDs. Snowball sampling was employed to identify key informants with deep contextual knowledge. A survey of 31 Dayak Hibun households provided quantitative data on livelihood activities, land access, and resource relations, which  strengthened the qualitative analysis. The unit of analysis was the household of Dayak Hibun farmers in Gunam Village located in the lowland area of Sanggau district. Findings indicate that households that own less than 2 hectares of oil palm farms predominantly experience survival conditions, some of which engage in consolidation intensification, and diversification. In contrast, households that own more than 2 hectares of land tend to pursue consolidation diversification, intensification, extensification, and accumulation. Cultural values serve as a collective strength across all social strata particularly for survival household condition with landholdings of less than two hectares.