Khairul Bahri Nasution
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KRITIK HADIS-HADIS TENTANG SHALAT DALAM KITAB BAHJAT AL-WASĀ’IL KARYA SYEKH NAWAWI AL-BANTANI hafisuddin; Khairul Bahri Nasution
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 5 No. 1 (2024): AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/alisnad.v5i1.352

Abstract

Hadis-hadis dalam kitab Bahjat al-Wasā’il karya Syekh Nawawi al-Bantani umumnya tidak mencantumkan sanad secara lengkap, sehingga memerlukan kajian untuk menentukan kualitasnya. Penelitian ini mengkaji empat dari dua puluh empat hadis terkait shalat dalam kitab tersebut melalui metode takhrij, kritik sanad, dan kritik matan. Penelitian bersifat kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), menggunakan rujukan utama kitab-kitab hadis dalam al-Kutub al-Tis‘ah serta kitab-kitab kritik hadis. Data dikumpulkan melalui dokumentasi referensi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat hadis yang diteliti berstatus sahih dan hasan li ghairih, mencakup tema doa duduk antara dua sujud, riya’ dalam shalat, meninggalkan shalat berjamaah, dan shalat witir. Analisis matan tidak menemukan pertentangan dengan Al-Qur’an maupun hadis lain, bahkan terdapat dukungan dari jalur sanad dan matan lain yang memperkuat statusnya. Oleh karena itu, hadis-hadis tersebut layak dijadikan hujjah dalam ibadah shalat. Penelitian ini menegaskan pentingnya kritik sanad dan matan untuk menentukan validitas hadis, terutama dalam konteks ibadah ritual seperti shalat.
HADIS TENTANG AL-QARDH DAN KEHARAMAN RIBA AL-QARDH Khairul Bahri Nasution
Al-Mu'tabar Vol. 3 No. 1 (2023): Al-Mu'tabar
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.942 KB) | DOI: 10.56874/jurnal ilmu hadis.v3i1.969

Abstract

Al-Qardh is an act that is recommended in Islam, which will be rewarded by Allah SWT, and includes kindness if the borrower provides additional assets or goods borrowed on a voluntary basis, not because the loan conditions are met. It contains compassionate human and social values ​​to fulfill the borrower's needs. But in reality, sometimes the muqtaridh in doing al-qardh requires the benefit of the muqridh. This problem can be motivated by ignorance of the procedures for al-qardh taught by the Prophet in his words. The hadiths regarding al-Qard are from the Prophet ﷺ even though in some of the sanad there are weaknesses, especially in the history of Ibn Majah. However, because it is supported by another Sahih hadith and especially the Qur'an in surah Al-Baqarah: 245: "Who wants to give a loan to Allah, a good loan (spending his wealth in the way of Allah). al-Qardh is permissible as long as it does not lead to benefit, because al-Qardh that takes advantage of is usury. Even though the hadith regarding this is not valid, objects that are valid to be used as al-Qard are objects that can be measured, or weighed, or objects that can be counted.