Raistiwar Pratama, Raistiwar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bupati or Regent? Martanagara of Bandung 1893–1918 Pratama, Raistiwar
Lembaran Sejarah Vol 20, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.52633

Abstract

This paper aims to unfold the dual roles of being local rulers in Indonesia during early twentieth century by reading closely various collections of colonial archives kept at the National Archives of the Netherlands, contemporary newspapers online provided by Delpher and onsite by the Library of Leiden University, and the autobiography of the man himself written in his own mother tongue, Sundanese. It is a rather common view that the Dutch government had been applied indirect ruling policy, but creative responds of the local rulers towards the one-sided policy were rarely considered to be important. By using concept of “middleman” the dual roles of Martanagara of Bandung might shed a light to understand some local rulers’ perspective. His roles both as regent and bupati put himself between two confusing and different worlds but he managed to do so. Ahead of Max Weber’s three ideal types, Martanagara succeeded applying his own ideal types by serving his foreign rulers and at the same time towards his local inhabitants.
Arsip adalah Tempat: Definisi, Paradigma, dan Kepemilikan Pratama, Raistiwar
Diplomatika: Jurnal Kearsipan Terapan Vol 5, No 2 (2022): March
Publisher : Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, DBSMB SV UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/diplomatika.78407

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil riset mengenai salah satu, dari 13 makna menurut Richard Pearce-Moses (2005), keluasan makna lema “arsip”. Riset ini bermetodekan kajian pustaka terhadap thesaurus, glosarium, dan standar deskripsi. Riset berhasil menguraikan keragaman peralihan paradigma tempat simpan arsip dan keragaman pendekatan kepemilikan. Paragdima tempat simpan arsip mengalami tiga ragam peralihan karena ia tidak lagi pasif menyimpan saja namun juga aktif memastikan ketergunaan arsip selama mungkin. Pertama, dari wadah simpan ke cara simpan. Kedua, dari tempat ke fungsi. Ketiga, dari bangunan ke kegiatan. Selama repositori, depot, dan peladen hanya berupa wadah, tempat, dan bangunan; maka temu kembali, konversi dan migrasi, serta akses berkelanjutan pun sulit terjadi. Maka dari itu ketersediaan akses berkelanjutan sebagai hasil dari kerja dwitunggal pengolahan untuk menyusun sarana bantu kembali merupakan kerja menyeluruh dari pelbagai bentuk tempat penyimpanan arsip. Pada akhirnya setiap kerja pengolahan merupakan upaya menyediakan akses secepat dan semudah mungkin baik bagi para penelusur maupun bagi masyarakat luas. Demikian pula, empat pendekatan kepemilikan sejatinya merupakan kepemilikan akses bersama atau kepemilikan terhadap informasinya; bukan hanya kepemilikan mediumnya dan kelengkapannya. Apakah arsip diserahkan kepada lembaga kearsipan, tetap berada di penciptanya, dikelola pihak ketiga, atau dimiliki bersama; kepemilikan sejati adalah kepemilikan lanjutan terhadap akses.