Penelitian ini menggunakan metode riset kuantitatif yang bertujuan untuk melihat kualitas kerjasama tim ditinjau dari aspek komunikasi dan interaksi di kalangan para pelayan gereja. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu aspek yang paling gampang dilihat untuk menilai kualitas kerjasama dalam sebuah tim kerja adalah dengan memperhatikan komunikasi dan interaksi diantara sesame anggota tim kerja tersebut. Komunikasi yang buruk adalah suatu hambatan bagi kerjasama tim. Komunikasi itu sendiri didasarkan oleh budaya yang sama dan bergantung atas harapan yang sama. Ketika harapan berbeda maka komunikasi akan terganggu. Para pelayan jemaat merasa perlu meningkatkan ketrampilan dalam berkomunikasi agar dapat mengembangkan kerjasama tim yang baik. Dari empat faktor komunikasi maka yang paling penting menurut riset ini adalah: (1) menerima saran dengan cara konstruktif, (2) mau berbagi suka dan duka, sukses maupun kegagalan kepada rekan kerja, (3) berusaha lebih memahami sudut pandang rekan kerja lewat mendengarkan secara aktif, serta (4) memiliki akses kepada komunikasi tim dan mengetahui dengan jelas berbagai kegiatan pada masa mendatang. Selain komunikasi ada juga aspek interaksi diantara anggota tim. Komunikasi yang kelihatannya baik belum tentu menjadi jaminan adanya interaksi yang baiak di antara anggota tim. Minimnya interaksi diantara anggota tim akan melemahkan ikatan yang mengikat tim kerja tersebut. Dalam hal ini responden sepakat bahwa kualitas interaksi di antara tim pelayan gereja MAHK masih dapat ditingkatkan. Berikut ini adalah interaksi yang dianggap paling efektif dalam meningkatkan kesatuan tim kerja, antara lain: (1) keterlibatan semua anggota tim dalam semua kegiatan tim kerja, (2) kerelaan mempertahankan kesatuan tim diatas kepentingan pribadi, (3) kerjasama diantara sesame anggota tim, (4) kemauan untuk belajar dari sesama anggota tim, dan (5) lebih memiliki interaksi positif daripada interaksi negative.