This Author published in this journals
All Journal Penamas
Sabara Sabara Sabara
Balai Litbang Agama Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POTRET KERUKUNAN UMAT BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA OHOIDERTAWUN, KABUPATEN MALUKU TENGGARA Sabara Sabara Sabara
Penamas Vol 32 No 2 (2019): Volume 32, Nomor 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v32i2.313

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi best practice kerukunan umat beragama berbasis komunitas masyarakat yang multi agama. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Ohoidertawun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Masalah penelitian adalah bagaimana gambaran komunitas antar agama di Ohoidertawun bisa hidup bersama secara damai? Bagaimana gambaran komunitas tersebut nmembangun hubungan yang aktif dalam berbagai aspek kehidupan? Bagaimana komunitas agama menjaga masyarakatnya dalam menghadapi pengaruh ekstrimisme agama dari kelompok luar? Penelitian menggunakan metode kualitatif-etnografis, yaitu mendeskripsikan data secara sistematis, faktual dan akurat dengan menggambarkan secara detail praktik kerukunan pada masyarakat Ohoidertawun, Masyarakat Ohoidertawun terdiri atas 3 agama; Islam, Kristen dan Katolik dengan praktik kehidupan keagamaan berlangsung secara harmonis dengan praktik-praktik kerukunan yang saling menerima dalam perbedaan. Best practice kerukunan umat beragama di Ohoidertawun terwujud dalam sikap merayakan perbedaan dengan nilai kearifan lokal dan semangat persaudaraan sebagai pemantiknya. Kearifan lokal efektif secara fungsional dalam membangun hubungan harmonis antar umat beragama, sehingga ketika konflik bernuansa agama melanda Maluku termasuk Kepulauan Kei, Ohoidertawun mennjadi titik yang paling aman dari konflik agama. Masyarakat Ohoidertawun membangun mekanisme pertahanan atas tatanan sosial budaya dan keagamaan mereka yang terjalin harmonis melalui pendekatan kearifan lokal dan pemahaman keagamaan yang moderat, sehingga pemahaman keagamaan ekstrem tak mendapat tempat dalam kehidupan keagamaan masyarakat Ohoidertawun.