Theresia Yulinda Araujo
STPKat St. Fransiskus Assisi Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Orangtua Dalam Pendampingan Persiapan Komuni Pertama Di Stasi St. Benedictus Teluk Siak Estate Paroki St. Yohanes Pembaptis Perawang Theresia Yulinda Araujo; Yustinus Joko Wahyu Yuniarto; Hartutik Hartutik
Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese dan Pastoral Vol. 1 No. 1 (2022): Juni : Jurnal Pendidikan Agama Katekese dan Pastoral
Publisher : Publisher STPKat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.726 KB) | DOI: 10.55606/lumen.v1i1.27

Abstract

The role of parent at st. Benedictus gulf of Siak Estate is less serious than entertaining the Catholic faith in paiding. preparing children for the first communion. Often children who should be able to receive communion are, in fact, unable to accept it because parents are busy with their work or the child himself is not asking the parents to take the first communion preparation. Research aims to review the practical roles of parents with children, to know inhibitors and supportive factors and to know the steps to improving parenting. Research of qualitative methods with this descriptive approach scores the data trianulation. With the respondent's parents of the first communion candidate. Data collection techniques using interviews, and documentation, and observations. Research indicates that parents perform a child's side by taking part in the first communion study, inviting children to the celebration of the Eucharist and teaching reverence before and after receiving holy communion, and actively inviting children to join spiritual activities in the church, both in the ward and at home. The barriers that parents experience are sometimes forgetting to remind children follow communion study and the difficulty of teaching children to manage time between play and learning. Supporting factors of parents have teachers and catechism and the first communion handbook and facilitate transportation. Parish priest and caretaker of gere
PENGARUH PENATAAN LINGKUNGAN HIDUP TERHADAP KUALITAS PERKULIAHAN DI STPKAT ST. FRANSISKUS ASSISI SEMARANG Andarweni Astuti; Stefanus Sriyanto; Hikmatul Khasanah; Theresia Yulinda Araujo
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN AGAMA Vol. 1 No. 1 (2020): Mei : SEMNASPA
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Assisi Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/semnaspa.v1i1.63

Abstract

Lingkungan hidup yang ditata secara rapi dan teratur sangat mendukung keberlangsungan kegiatan perkuliahan. STPKat sebagai lembaga pendidikan tinggi dinilai kurang memperhatikan penataan lingkungan hidup dengan baik, sehingga kurang tersedia lingkungan hijau, kurang adanya sirkulasi udara yang baik, masih adanya sampah-sampah di kelas, dan masih digunakannya kapur dalam setiap ruang kelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penataan lingkungan hidup terhadap kualitas perkuliahan di STPKat St. Fransiskus Asissi Semarang. Fokus penelitian ini adalah persepsi mahasiswa pada kualitas perkuliaan pada kondisi lingkungan hidup di kampus. Data diambil dengan melakukan dengan angket pada mahasiswa dengan populasi 70 orang, dilengkapi dengan observasi dan wawancara mendalam. Data diolah dengan analisis deskriptif. Hasil angket menunjukkan bahwa 76% mahasiswa menyatakan STPKat telah memiliki penerangan yang baik di ruang kelas, 81% menyatakan bahwa suka kalau mahasiswa tidak merokok, 64% menyatakan STPKat memiliki lingkungan hidup dan tanaman hias yang memadai, 57% menyatakan STPKat belum memiliki ahli tata taman dan tata taman belum dilakukan secara efisien serta belum lengkapnya alat-alat tata taman, 67% menyatakan bahwa kurang adanya tanaman perindang di sepanjang ruangan kelas, 77% menyatakan kurangnya ventilasi udara sehingga kelas yang terletak di lantai dua menjadi terlihat panas dan gersang, Berdasar hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa merasa kurang nyaman dengan kondisi lingkungan hidup yang kurang hijau, dan panas serta banyaknya nyamuk. Selanjutnya berdasar observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa gedung STPKat yang terletak di lantai dua dirasa kurang ditata secara efisien dan efektif untuk mengatasi sempitnya lahan dan panasnya. Berdasar hasil penelitian tersebut di atas maka direkomendasikan bahwa untuk menambah kualitas perkuliahan di STPKat perlu penataan lingkungan yang membawa konsekuensi bahwa STPKat hendaknya menambah adanya pegawai tata taman yang dilengkapi fasilitas alat-alat pertamanan untuk membuat lahan yang panas dan sempit menjadi nyaman dan sejuk atau hijau, begitu pula penggunaan kapur diganti dengan white board.