Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Vitamin C Topikal terhadap Sekresi Melanin Michelle C. J. M. Loho; Elvin C. Angmalisang; Sonny J. R. Kalangi
eBiomedik Vol. 10 No. 1 (2022): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v10i1.37543

Abstract

Abstract: One of the cosmetic products that are widely used in skin care is topical vitamin C because it is believed to help in reducing hyperpigmentation of the skin by inhibiting the melanin secretion pathway. This study aims to determine the effects of topical vitamin C on melanin secretion. The study was conducted using a literature review method and the literature was taken from 1 database, Pubmed. The keywords used were topical AND vitamin c OR ascorbic acid AND skin pigmentation OR depigmentation OR antipigmentation OR melanin pigmentation OR melanin synthesis OR melanin index OR melanin. The article search used the PICOS framework, and obtained 10 literatures. In the study, it was found that vitamin C had an effect on melanin secretion. Vitamin C works by inhibiting the tyrosinase enzyme which affects the initial process of melanin secretion. In conclusion, topical vitamin C has an effect on melanin secretion.Keywords: melanin; melanogenesis; vitamin C Abstrak: Salah satu produk kosmetik yang banyak digunakan dalam perawatan kulit merupakan vitamin C topikal karena dipercaya dapat membantu dalam mengurangi hiperpigmentasi pada kulit dengan bekerja pada sekresi melanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin C topikal terhadap sekresi melanin. Penelitian dilakukan dengan metode literature review dan literatur diambil dari 1 database, Pubmed. Kata kunci yang digunakan adalah topical AND vitamin c OR ascorbic acid AND skin pigmentation OR depigmentation OR antipigmentation OR melanin pigmentation OR melanin synthesis OR melanin index OR melanin. Pencarian artikel digunakan PICOS framework, dan didapatkan 10 literatur. Pada penelitian didapatkan bahwa vitamin C memiliki pengaruh terhadap sekresi melanin. Vitamin C bekerja dengan cara menginhibisi enzim tirosinase yang berpengaruh pada proses awal sekresi melanin. Sebagai simpulan, vitamin C topikal berpengaruh pada sekresi melanin.Kata kunci: melanin; melanogenesis; vitamin C
Gambaran Histologi Pankreas Tikus Wistar yang Diberi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) Setelah Diinduksi Aloksan Imanuela P. M. Ticoalu; Sonny J. R. Kalangi; Elvin C. Angmalisang
Jurnal Biomedik:JBM Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.v16i1.53579

Abstract

Abstract: Flavonoids, tannins and alkaloids in soursop leaf extract have antioxidant properties which can repair damage to pancreatic beta cells caused by reactive oxygen species. This research was an experimental laboratory study using Wistar rats as research samples. A total of 20 Wistar rats were injected with alloxan with a dose of 170mg/KgBW to achieve hyperglycemia. All sample were divided into four groups, with five rats in each group. Group A (negative control group) was given regular food for 14 days. Group B (positive control group) was given glibenclamide at a dose of 0.09 mg/200 gBW of mice for 14 days. Group C was the group given soursop leaf extract at a dose of 800 mg/KgBW for 14 days, and group C was the group given soursop leaf extract at a dose of 1000 mg/KgBW for 14 days. In the histological description of Wistar rats pancreas in Group C, two out of four islets of Langerhans were found to undergo atrophy, while the exocrine glands appeared normal. In the histological description of Wistar rats pancreas in Group D, one out of six islets of Langerhans was observed to undergo necrosis and amyloid degeneration. Additionally, necrosis and swelling were identified in some epithelial cells of the exocrine glands.  The histological description of Wistar rats pancreas in group D was better compared to the histological description of Wistar rats in other groups. The ratio of the atrophied islets of Langerhans to the total number of islets in this group was smaller compared to the other treatment groups (one out of six). Therefore, it can be concluded that the administration of soursop leaf extract at a dose of 1000 mg/kgBW is more effective in repairing damage caused by the toxic effects of alloxan on the pancreas. Keywords: histology; pancreas; soursop leaves; alloxan   Abtrak: Kandungan flavonoid, tannin, dan alkaloid dalam ekstrak daun sirsak memiliki sifat antioksidan yang dapat memperbaiki kerusakan sel beta pankreas akibat spesies oksigen reaktif. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan tikus wistar sebagai sampel penelitian. Sebanyak 20 ekor tikus Wistar diinduksi menggunakan aloksan dengan dosis 170 mg/KgBB untuk membuat kondisi hiperglikemi kemudian dibagi ke dalam empat kelompok, dengan lima ekor tikus di setiap kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) diberi pakan biasa selama 14 hari. Kelompok B (kontrol positif) yang diberi glibenklamid dengan dosis 0,09 mg/200 gBB tikus selama 14 hari. Kelompok C adalah kelompok yang diberikan ekstrak daun sirsak dengan dosis 800 mg/KgBB selama 14 hari, dan kelompok D merupakan kelompok yang diberikan ekstrak daun sirsak dengan dosis 1000 mg/KgBB selama 14 hari. Pada gambaran histologis pankreas tikus wistar kelompok C ditemukan dua dari empat pulau Langerhans mengalami atrofi sementara kelenjar eksokrin normal. Pada gambaran histologis pankreas tikus wistar kelompok D ditemukan satu dari enam pulau Langerhans mengalami nekrosis dan degenerasi amyloid. Ditemukan juga nekrosis dan pembengkakan pada sebagian sel epitel kelenjar eksokrin. Gambaran histologis pankreas tikus wistar kelompok D yang diberi ekstrak daun sirsak dengan dosis 1000 mg/KgBB lebih baik dibandingkan dengan gambaran histologi pankreas tikus ketiga kelompok lain. Perbandingan jumlah pulau Langerhans yang mengalami atrofi dibanding total jumlah pulau Langerhans pada kelompok ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain (satu dari enam pulau). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun sirsak dengan dosis 1000 mg/KgBB lebih baik dalam memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh efek toksik aloksan terhadap pankreas. Kata kunci: histologi; pankreas; daun sirsak; aloksan
Gambaran Histologi Ginjal Tikus Wistar yang Diberi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) Setelah Diinduksi Aloksan Sherina L. Agow; Martha M. Kaseke; Elvin C. Angmalisang
Jurnal Biomedik:JBM Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.v16i1.53669

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus is a chronic and progressive disease characterized by elevated blood sugar levels accompanied by disturbances in carbohydrate, lipid, and protein metabolism. The antioxidant content in soursop leaf extract, when given in appropriate doses, can lower blood glucose levels and repair kidney damage caused by diabetes. This study aims to determine the histological picture of the kidneys in Wistar rats that are given soursop leaf extract after alloxan induction. This type of research is an experimental laboratory study using a simple research design (post-test only control group design). The experimental animals used were 20 Wistar rats randomly divided into 4 groups, each consisting of 5 rats with 4 treatments. These four treatments are Group A as the negative control group (alloxan 170 mg/kgBW), Group B as positive control (alloxan 170 mg/kgBW and glibenclamide 0.09 mg/200 gBW), Group C as treatment (alloxan 170 mg/kgBW and soursop leaf extract 800 mg/kgBW), Group D as treatment (alloxan 170 mg/kgBW and soursop leaf extract 1000 mg/kgBW). The ideal dose of administration of soursop leaf extract is 800 mg/kgBW because it has shown signs of improvement, in which regeneration of tubular epithelial cells with homogenous cytoplasm that are already binucleated are present, compared to the administration of glibenclamide. Meanwhile, a high dose of 1000 mg/kgBW gives toxic effects with histological pictures of the kidneys with tubular epithelial cells undergoing thyroidization and glomeruli undergoing hyalinization and sclerosis which manifest into chronic pyelonephritis.  In conclusion, the histological picture of the kidneys of Wistar rats induced with alloxan with the administration of soursop leaf extract dose of 800 mg/kgBW is better in repairing kidney damage as it has shown the presence of regeneration of tubular epithelial cells with homogenous cytoplasm that are already binucleated, compared to the administration of soursop leaf extract dose of 1000 mg/kgBW. Keyword: Kidney; soursop leaf extract; alloxan; histology   Abstrak: Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronis serta progresif ditandai dengan kadar gula darah yang meningkat dan disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein. Kandungan antioksidan yang terdapat pada ekstrak daun sirsak dengan dosis yang tepat, dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah dan memperbaiki kerusakan pada ginjal akibat diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histologi ginjal pada tikus wistar yang diberi ekstrak daun sirsak setelah diinduksi aloksan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan rancangan penelitian sederhana (post test only control group design). Hewan coba yang digunakan adalah 20 tikus wistar yang dibagi secara acak ke dalam 4 kelompok dan masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus dengan 4 perlakuan. Empat perlakuan tersebut adalah Kelompok A yaitu kelompok kontrol negatif (aloksan 170 mg/kgBB), Kelompok B kontrol positif (aloksan 170 mg/KgBB dan glibenklamid 0,09 mg/200 gBB). Kelompok C perlakuan (aloksan 170 mg/KgBB dan ekstrak daun sirsak 800 mg/KgBB), Kelompok D perlakuan (aloksan 170 mg/KgBB dan ekstrak daun sirsak 1000 mg/KgBB). Pemberian ekstrak daun sirsak dengan dosis yang lebih baik adalah dosis 800 mg/KgBB karena sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, dibandingkan pemberian glibenklamide karena adanya regenerasi sel epitel tubulus dengan sitoplasma yang homogen dan sudah berinti dua , sedangkan dengan dosis tinggi 1000 mg/KgBB memberikan efek toksik dengan gambaran histologi ginjal dengan sel epitel tubulus yang terjadi tiroidisasi dan glomerulus yang terjadi hialiniasasi serta sklerosis yang bermanifestasi menjadi pielonefritis kronik. Sebagai simpulan, gambaran histologi ginjal tikus wistar yang diinduksi aloksan dengan pemberian ekstrak daun sirsak dosis 800 mg/KgBB lebih baik dalam memperbaiki kerusakan ginjal karena sudah menunjukkan adanya regenerasi sel epitel tubulus dengan sitoplasma yang homogen dan sudah berinti dua, jika dibandingan dengan pemberian ekstrak daun sirsak dosis 1000 mg/KgBB. Kata Kunci: Ginjal; ekstrak daun sirsak; aloksan; histologi