Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Latihan Push-up terhadap Massa Otot Triceps Pria Rafael J. Tambuwun; Fransiska Lintong; Maya E. W. Moningka
eBiomedik Vol. 10 No. 1 (2022): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v10i1.37879

Abstract

Abstact: Push-up is a bodyweight training that can help build upper body strength and increase muscle size. Muscle size increase especially the m. triceps brachii which is one of the muscles that works the most when doing push up. The purpose of this study is to determine the effect of push up exercise on the triceps muscle mass. Methods: This is study conducted on two groups: the pretest and posttest design. The subjects were a combined number of 50 males, from the Exclusive gym Manado and students from Sam Ratulangi University Class of 2018, forming 2 groups. Triceps muscle mass was measured using a skinfold caliper in units (mm) during the span of 6 weeks. Results: After obtaining the research data, the Wilcoxon test was conducted in the groups to determine the difference before and after the exercise. In the first group, male members from Exclusive gym Manado, the result is <.001. This result indicate that push up exercise is effective towards the tricep mass. In the second group, non-member gym (Students of Sam Ratulangi University Class of 2018), the results were >.001. In conclusion, push up exercises shows an effective result on triceps muscle mass in male members at the Exclusive gym Manado.Keywords : Triceps, Muscle mass, Push-up ExerciseAbstrak: Push-up merupakan bentuk latihan beban yang menggunakan beban berat badan sendiri untuk memperkuat tubuh bagian atas dan menambah massa otot. Pembesaran pada otot terutama pada m. triceps brachii yang merupakan salah satu otot yang bekerja saat melakukan push-up. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan push-up terhadap massa otot triceps. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental lapangan dengan rancangan two group pretest dan posttest. Subjek penelitian  adalah memper pria di Exclusive gym Manado dan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2018 dengan total subjek penelitian yaitu 50 orang yang dibagi ke dalam dua grup. Massa otot triceps diukur menggunakan skinfold caliper dengan menggunakan satuan (mm) sebelum dan sesudah latihan selama 6 minggu. Hasil: Setelah mendapatkan data hasil penelitian, dilakukan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan rerata sebelum dan sesudah latihan pada masing-masing grup. Pada grup pertama yaitu member pria di Exclusive gym Manado didapatkan hasil <.001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara latihan push-up terhadap massa otot triceps pada grup eksperimen pertama. Pada grup kedua yaitu non-member gym (mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2018) didapatkan hasil >.001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara latihan push-up terhadap massa otot triceps pada grup ekperimen kedua. Sebagai simpulan, terdapat pengaruh antara latihan push-up terhadap massa otot triceps pada member pria di Exclusive gym Manado.Kata Kunci: Triceps, Massa otot, Latihan Push-up.
Hubungan Lama Duduk Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Bawah Ruth O. Hutasuhut; Fransiska Lintong; Jimmy F. Rumampuk
eBiomedik Vol. 9 No. 2 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i2.31808

Abstract

Abstract: Low back pain is a musculoskeletal disorder that is often found in society. Low Back Pain can cause quality of life to deteriorate and inhibits certain activities. Certain influential factors such as age, gender, Body Mass Index, stress, length of sitting, and posture when doing work. Low Back Pain is a risk to medical students. Purpose of this study was to determine the relationship between sitting time and complaints of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. The research method used is an observational analytic method with a cross-sectional design. Data were collected using a questionnaire and then analyzed using the Pearson Chi-square test. The results showed a p value (p <0.001) between the length of sitting and complaints of low back pain, with a sitting time of 5- 8 hours. In conclusion, there is a significant relationship between sitting time and complaints of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University.Keywords: Low Back Pain, prolonged sitting, medical students  Abstrak: Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering ditemukan dalam masyarakat. NPB dapat menyebabkan kualitas hidup memburuk dan menghambat aktivitas tertentu. Beberapa faktor tertentu yang berpengaruh seperti umur, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh, stres, lama duduk, dan sikap tubuh ketika melakukan pekerjaan. NPB berisiko terjadi pada mahasiswa kedokteran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner  kemudian di analisis menggunakan uji statistik Pearson Chi-square. Hasil penelitian menunjukan p value (p < 0,001) antara lama duduk dan keluhan nyeri punggung bawah, dengan lama duduk 5- 8 jam. Sebagai simpulan, terdapat hubungan bermakna antara lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Kata Kunci : Nyeri Punggung Bawah, lama duduk, mahasiswa kedokteran 
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Range of Motion (ROM) Articulatio Talocruralis pada Lansia Gracela M. Siada; Jimmy F. Rumampuk; Fransiska Lintong
Jurnal Biomedik:JBM Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.v16i1.53613

Abstract

Abstract: Joint Range of Motion (ROM) values indicate the flexibility of the respective joints. An increase in Body Mass Index (BMI) is one of the factors that can lead to a decrease in ROM values, consequently affecting muscle strength and joint functionality. Several studies have established a connection between increased BMI and reduced ROM, particularly in populations with obesity, where ROM tends to be more limited compared to non-obese populations. This research aims to explore the relationship between Body Mass Index (BMI) and the Range of Motion (ROM) of the articulatio talocruralis in the elderly population of Wioi Village, Minahasa Tenggara Regency. This study adopts an analytical observational approach with a cross-sectional design. The tools utilized in this research include digital scale and stature meter for BMI measurement, and goniometer for ROM measurement. The research sample was selected using simple random sampling technique. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. Among the 51 respondents examined, the Spearman correlation analysis revealed a significant negative relationship between BMI and Dorsiflexion (p= 0.004, r= -0.397) and Plantarflexion (p= 0.001, r= -0.435). In conclusion, there is a significant association between Body Mass Index (BMI) and the Range of Motion (ROM) of the articulatio talocruralis in the elderly population of Wioi Village, Minahasa Tenggara Regency. Keywords: body mass index (BMI); range of motion (ROM); articulatio talocruralis; elderly   Abstrak: Nilai ROM sendi menunjukkan fleksibilitas sendi tersebut. Peningkatan nilai IMT merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan nilai ROM menurun dan akan mempengaruhi kekuatan otot dan sendi. Beberapa penelitian menghubungkan peningkatan IMT dengan penurunan ROM dimana populasi dengan obesitas memiliki ROM yang terbatas dibandingkan dengan populasi yang tidak mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan range of motion (ROM) articulatio talocruralis pada lansia di Desa Wioi, Kab. Minahasa Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital dan stature meter untuk mengukur IMT, dan goniometer untuk mengukur ROM. Sampel penelitian dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi spearman. Dari 51 responden yang diteliti, analisis korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan negatif yang bermakna antara IMT dengan Dorsofleksi (p = 0,004, r = -0.397) dan Plantarfleksi (p = 0,001, r = -0,435). Sebagai simpulan, terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Range of Motion (ROM) articulatio talocruralis pada lansia di Desa Wioi, Kab. Minahasa Tenggara. Kata Kunci: indeks massa tubuh (IMT); range of motion (ROM); articulatio talocruralis; lansia