Fenomena Ghosting di jejaring media sosial saat ini sudah terasa sangat biasa, siapa saja bisa menggunakan strategi pelepasan tersebut sebagai langkah disolusi relasi romantisme yang tengah dijalani ketika hubungan yang semula digambarkan dengan menggunakan identitas anonim dalam sebuah aplikasi, berlanjut ke dalam komunikasi yang lebih intens dan intim melalui media aplikasi messaging, dimana pengguna lebih disarankan menggunakan identitas real sebagai gambaran akun mereka berbeda dengan aplikasi anonim yang memungkinkan pengguna untuk berekspresi menggunakan identitas sebagai anonim. Dalam salah satu asumsi dasar yang ada pada teori penetrasi sosial, hubungan yang mudah diprediksi perkembangannya akan memungkinkan mereka yang terlibat untuk memilih menghilang atau mundur begitu saja sebagai langkah disolusi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melibatkan 41 narasumber dengan identitas anonim, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara dengan metode pengisian Googledoc. Hasil penelitian ini menggambarkan sebagai seorang anonim sangat memungkinkan pengguna lain untuk menginterpretasikan gambaran diri dari akun anonim tersebut sebagaimana seperti yang mereka idamkan. Maka ketika hubungan yang telah berlanjut ke dalam tahapan romantisme dan dijalani dalam identitas asli tidak sesuai dengan harapan mereka ataupun melewati batasan privasi yang mereka atur, maka menjadi seorang Ghoster dan melakukan Ghostingadalah pilihan yang paling mudah untuk dilakuan sebagai upaya disolusi hubungan romantisme tersebut.