Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Agama Kristen Esther Bessie; Djoys Anneke Rantung; Lamhot Naibaho
JURNAL KADESI Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4. No. 2. 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v4i2.41

Abstract

Pancasila adalah falsafah yang menjadi landasan hidup, berpikir dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kelima sila dalam Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur yang harus menjadi prinsip dan karakter bangsa; selaras dengan tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia Indonesia manusia Pancasila. Menjadi manusia yang terdidik bukan hanya karena memiliki kemampuan kognitif atau keahlian tertentu tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur sebagai kecakapan hidup (life skills). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mencanangkan Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Ini menjadi tujuan pembentukan karakter melalui pembiasaan-pembiasaan di sekolah pada jenjang Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun Perguruan Tinggi. Penanaman dan pembentukan karakter sesuai nilai-nilai luhur Pancasila ini selaras dengan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pendidikan Agama Kristen adalah satu dari sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah yang harus diterima oleh Pelajar di sekolah maupun Mahasiswa di kampus. Pendidikan Agama Kristen mengajarkan iman Kristen yang berlandaskan pada Wahyu Allah yaitu Alkitab, agar Pelajar maupun Mahasiswa tidak hanya menerima ilmu atau keilmuan keagamaan secara kognitif tetapi juga menjadikan ajaran Alkitab sebagai landasan hidup dan berperilaku secara pribadi. Sekilas terlihat seolah-olah ada dua landasan dengan dua tujuan yang berbeda. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah telah terjadi dikotomi dalam kubuh pendidikan di Indonesia? Apakah Pelajar atau Mahasiswa akan menerima dua landasan yang berbeda? Apakah orang Kristen dapat menjadi manusia Pancasila atau manusia Pancasila dapat menjadi Kristen? Lalu bagaimana seharusnya orang Kristen menyikapi hal ini khususnya dalam pendidikan agama Kristen di sekolah? Penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan formula yang tepat tentang kedudukan dan korelasi antara Profil Pelajar Pancasila dengan Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan di era disrupsi saat ini. Ditemukan, bahwa sesungguhnya keduanya tidak saling bertentangan. Sebaliknya, seorang Kristen sejatinya akan hidup sebagai murid Kristus dan pada saat yang sama ia juga akan memiliki dan mengejawantahkan nilai-nilai luhur Pancasila di dalam kehidupannya sehari-hari.
Meningkatkan Kepuasan Kerja Melalui Penerapan Pembelajaran Dalam Media Sosial Bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Chris Pasuhuk; Bernadetha Nadeak; Djoys Anneke Rantung; Lamhot Naibaho
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 8 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7865621

Abstract

Job satisfaction encourages employees to increase performance, commitment to the organization, reduce absenteeism and increase interest in the profession. It is equally important in the private and public sectors, in developed and developing countries and is an important issue to be considered in educational institutions. Learning in social media is a relatively new theory compared to other learning theories. Learn through interaction with a community of experts and fellow learners. Communication between participants relies on social networking media such as online discussions, blogging, vlogging and text messaging. As we know, there are a lot of social media that are currently used by people, especially Indonesia, namely Facebook, Twitter, Google+, LinkedIn, Instagram, Pinterest, Tiktok, Youtube and others. To apply learning in social media we must pay attention to the features that can be used from each of these social media so that they can support a learning process. Then, determine which social media is suitable for the learning process you want to build. Learning in social media, there are many ways to interact between teachers and students with the presence of educational technology in the digitalization era. Likewise social media learning can support and be useful in improving the quality of teaching staff and their job satisfaction and advanced learning for Christian religious education
Peran Teknologi dalam Proses Pembelajaran: The Role of Technology in the Learning Process Norpin; Lamhot Naibaho; Djoys Anneke Rantung
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 1: JANUARI 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran teknologi dalam proses pembelajaran telah menjadi elemen krusial dalam mengubah paradigma pendidikan di era kontemporer. Integrasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tidak hanya mengubah cara guru menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga meredefinisi interaksi antara siswa dan pembelajaran itu sendiri. Teknologi memberikan aksesibilitas yang lebih luas terhadap informasi, menghadirkan beragam sumber belajar interaktif. Namun, sementara teknologi menawarkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, tantangan terkait keberlanjutan, kesetaraan akses, dan literasi digital juga perlu diatasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran teknologi dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam peenlitian ini adalah studi Pustaka. Hasil penelitian ini adalah integrasi teknologi dalam kelas dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memfasilitasi pembelajaran mandiri. Platform pembelajaran daring, aplikasi edukatif, dan perangkat lunak interaktif memberikan kesempatan untuk menyajikan materi secara dinamis dan mendukung gaya belajar yang beragam. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi pengembangan strategi pembelajaran yang berbasis teknologi, sekaligus memberikan dasar untuk penyempurnaan kebijakan pendidikan yang mengintegrasikan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran.