Hilmarni
Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penetapan Kadar Pektin dan Metoksil Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) yang Diekstraksi Dengan Metode Refluks Rahmayulis Rahmayulis; Tri ulan Dari; Hilmarni
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.44984

Abstract

Salah satu buah yang banyak dimanfaatkan di Indonesia adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Buah naga merah banyak dikonsumsi secara langsung atau diolah menjadi jus, agar-agar, dan pewarna alami, sedangkan kulitnya mengandung pektin ± 10,8% . Pektin merupakan komponen tambahan dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik, pektin digunakan sebagai pengental, pengikat, obat-obatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah. Pengambilan pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut asam klorida (HCl) 0,35 N. Proses ekstraksi pektin pada penelitian ini menggunakan waktu 90 menit. Setelah ekstraksi selesai dilakukan karakterisasi pektin antara lain, kadar pektin, kadar air , berat ekivalen, kadar metoksil. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan kadar pektin 6,118% dan 1,895%, kadar air 23,747% dan 18,059%, berat ekivalen 346,284 mg dan 456,898 mg, kadar metoksil 2,504% dan 1,638%. One fruit that is widely used in Indonesia is the red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus). Dragon fruit is consumed directly or processed into juice, jelly, and natural dyes, while the peel contains ± 10.8% pectin. Pectin is an additional component in the food, pharmaceutical and cosmetic industries, pectin is used as a thickener, binder, medicine. The purpose of this study was to determine the levels of pectin found in red dragon peel. Extraction of pectin contained in red dragon was carried out by extraction method using 0.35 N hydrochloric acid (HCl) solvent. The pectin extraction process in this study used 90 minutes. The results of the research showed that pectin content was 6.118% and 1.895%, water content was 23.747% and 18.059%, equivalent weight was 346.284 mg and 456.898 mg, methoxyl content was 2.504% and 1.638%.
PROFIL PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS SUANGAI PUA KABUPATEN AGAM Shaula Febriyoldini; Muhammad Dhani Ilham; Hilmarni
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 3 No. 1 (2024): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v3i1.84

Abstract

Obat seharusnya dapat disimpan ditempat yang tepat dan sesuai dengan ketetapan yang sudah diatur sehingga mutu obat terjamin dan terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia. Penyimpanan obat mencakup proses sejak penerimaan obat sampai mengirimkan obat ke unit pelayanan di Puskesmas. Penelitian ini akan menjelaskan profil penyimpanan obat yang dilakukan di Puskesmas Sungai Pua Kabupaten Agam Sumatera Barat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana profil penyimpanan obat yang baik dan benar di Puskesmas Sungai Pua Kabupaten Agam. Penelitian ini bersifat deskriptif observasi dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Variabel dalam penelitian ini adalah aspek umum dan aspek khusus, berdasarkan Petunjuk Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas tahun 2019. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Profil Penyimpanan Obat di Puskesmas Sungai Pua Kabupaten Agam, dari segi aspek umum memiliki persantase 90% sedangkan segi aspek khusus memiliki persantase 83,33%, sehingga penyimpanan obat di Puskesmas Sungai Pua termasuk ke dalam kategori sangat baik.
Formulasi Sabun Padat Susu Kambing Dengan Ekstrak Minyak Atsiri Bunga Cengkeh (Syzigium aromaticum L.) Riki Ranova; Deasy Afriani; Hilmarni
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 3 No. 1 (2024): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v3i1.85

Abstract

Bunga cengkeh merupakan salah satu bahan alam yang digunakan sebagai antiseptik karena mengandung tanin, saponin, flavanoid, dan asam fenol. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak minyak atsiri bunga cengkeh terhadap standar kualitas sabun padat susu kambing etawa. Ekstrak minyak atsiri bunga cengkeh yang digunakan berdasarkan 3 variabel jumlah perendaman serbuk bunga cengkeh. Parameter evaluasi fisik sediaan yang diteliti adalah uji organoleptik, uji kadar air, uji pH dan uji stabilitas busa yang dilakukan selama 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu kambing etawa dan ekstrak minyak bunga cengkeh stabil dalam pengujian organoleptik, serta memenuhi standar pH dan stabilitas busa sabun padat.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Analgetik Gel Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Sebagai Analgetik Topikal riki ranova; Hilmarni; Mughnie Hazjirah Irwandi; Mulyani Dwi
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.228

Abstract

Minyak atsiri daun cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung senyawa eugenol yang berpotensi sebagai analgetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas analgetik gel minyak atsiri daun cengkeh dengan konsentrasi 2%, 3%, dan 4% menggunakan mencit dengan metode formalin test. Sediaan gel dioleskan secara topikal sebelum induksi nyeri dengan formalin yang disuntikkan secara subkutan pada punggung kaki mencit. Aktivitas analgetik dievaluasi dari respon menjilat serta menggigit diamati setiap 5 menit selama 20 menit. Sebagai kontrol positif menggunakan krim metil salisilat, sedangkan kontrol negatif berupa gel tanpa minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula gel mampu menurunkan frekuensi respon menjilat dan menggigit dibandingkan kontrol negatif, dengan efektivitas tertinggi pada formula 4%, disusul formula 3% dan 2%. Formula 4% menunjukkan aktivitas yang mendekati kontrol positif terutama pada fase nyeri awal, mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi minyak atsiri berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas analgetik. Secara keseluruhan, gel minyak atsiri daun cengkeh memiliki aktivitas analgetik topikal yang signifikan dan bersifat dose-dependent, dengan formula 4% sebagai konsentrasi paling efektif untuk dikembangkan sebagai kandidat sediaan analgetik berbasis bahan alam.