Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Literatur: Penggunaan Smartphone terhadap Keluhan Mata Kering Gaida Salsabila; Fajar Awalia Yulianto; Sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5987

Abstract

Abstract. The use of smartphones today can facilitate long-distance and short-distance communication, access the internet, use social media, or learning media. Smartphone usage activity can be viewed and managed in the duration of the screen time every day. An increase in screen duration can cause health problems, one of which is dry eye complaints. The aim of this study was to find evidence of a relationship between smartphone use and dry eye complaints from previous studies. The results showed that the use of smartphones for a high duration, i.e. >3 hours/day, can cause dry eye complaints and there is a relationship between smartphone use and dry eye complaints. Abstrak. Penggunaan smartphone saat ini dapat memudahkan komunikasi jarak jauh maupun jarak dekat, akses internet, menggunakan media sosial, ataupun media pembelajaran. Aktivitas penggunaan smartphone dapat dilihat dan diatur dalam durasi waktu layar setiap harinya. Peningkatan durasi layar dapat menyebabkan gangguan kesehatan, salah satunya yaitu keluhan mata kering. Tujuan penelitian adalah untuk mencari bukti hubungan antara penggunaan smartphone dengan keluhan mata kering dari penelitian-penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smartphone dalam durasi yang tinggi yaitu >3 jam/hari dapat menyebabkan timbulnya keluhan mata kering dan terdapat hubungan antara penggunaan smartphone dengan keluhan mata kering.
Hubungan antara Indeks Masa Tubuh dengan Range Of Motion Sendi Panggul dan Lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019 Tarisya Salsabila Putri Asmara; Mudjtahid Ahmad Djojosugito; Sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6521

Abstract

Abstract. Body mass index (BMI) is a metric currently used to define anthropometric height or weight characteristics in adults. The range of motion (ROM) is the full motion potential of the joint, usually the flexion range and extension. The hip joint is an inferior limb joint. While the knee joint is the largest joint and the superficial joint. It can be known that there is an influence of BMI on the ROM of a human being, especially on the joints of the hip and knees. It is also commonly known that medical students carry out their lecture activities in a sitting position for a long period of time. This can trigger weight gain, thus reducing the ROM of the student. This study aims to determine the connection between BMI and ROM of the hip and knee joints in UNISBA Medical Faculty students. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Sampling in this study used the consecutive sampling method and respondent calculations were carried out using a correlation analytical formula, a minimum of 39 respondents were obtained by students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University and this study has received ethical approval 146 / KEPK-Unisba / V / 2022. This research data was taken from the primer in the form of questionnaires and measurements of degrees in the joints of each student who was a respondent. The results of the research were obtained based on statistical tests, the p value was 0.004 (p < 0.05), which means that there is a relationship between Body Mass Index and knee joint ROM in students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University Class of 2019.Abstrak. Indeks massa tubuh (IMT) adalah metrik yang saat ini digunakan untuk mendefinisikan karakteristik tinggi atau berat antropometrik pada orang dewasa. Range of motion (ROM) merupakan potensi gerakan penuh sendi, biasanya rentang fleksi dan ekstensi. Sendi panggul merupakan suatu sendi ekstremitas inferior. Sedangkan sendi lutut merupakan sendi terbesar dan sendi yang superfisial. Dapat diketahui terdapat pengaruh dari IMT ke ROM seorang manusia khususnya pada sendi bagian pinggang dan lutut. Biasa di ketahui juga mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan perkuliahannya dengan posisi duduk dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat memicu penaikan berat badan sehingga mengurangi ROM dari mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ROM sendi panggul dan lutut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling dan dilakukan perhitungan responden menggunakan rumus analitik korelasi, didapatkan minimal responden sebanyak 39 mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung dan penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan etik 146/KEPK-Unisba/V/2022. Data penelitian ini diambil dari dari primer berupa kuesioner dan pengukuran dari derajat pada sendi setiap mahasiswa yang menjadi responden. Hasil dari peneltian didapatkan berdasarkan dengan uji statistik didapatkan nilai p value ialah 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan ROM sendi lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019.
Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh dengan Range of MotionSendi Panggul dan Lutut Tarisya Salsabila Putri Asmara; M. Ahmad Djojosugito; Sandy Faizal
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.1, Juli 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1876

Abstract

Abstract. Body mass index (BMI) is a metric currently used to define anthropometric height or weight characteristics in adults. The range of motion (ROM) is the full motion potential of the joint, usually the flexion range and extension. The hip joint is an inferior limb joint. While the knee joint is the largest joint and the superficial joint. It can be known that there is an influence of BMI on the ROM of a human being, especially on the joints of the hip and knees. It is also commonly known that medical students carry out their lecture activities in a sitting position for a long period of time. This can trigger weight gain, thus reducing the ROM of the student. This study aims to determine the connection between BMI and ROM of the hip and knee joints in UNISBA Medical Faculty students. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Sampling in this study used the consecutive sampling method and respondent calculations were carried out using a correlation analytical formula, a minimum of 39 respondents were obtained by students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University and this study has received ethical approval 146 / KEPK-Unisba / V / 2022. This research data was taken from the primer in the form of questionnaires and measurements of degrees in the joints of each student who was a respondent. The results of the research were obtained based on statistical tests, the p value was 0.004 (p < 0.05), which means that there is a relationship between Body Mass Index and knee joint ROM in students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University Class of 2019. Abstrak. Indeks massa tubuh (IMT) adalah metrik yang saat ini digunakan untuk mendefinisikan karakteristik tinggi atau berat antropometrik pada orang dewasa. Range of motion (ROM) merupakan potensi gerakan penuh sendi, biasanya rentang fleksi dan ekstensi. Sendi panggul merupakan suatu sendi ekstremitas inferior. Sedangkan sendi lutut merupakan sendi terbesar dan sendi yang superfisial. Dapat diketahui terdapat pengaruh dari IMT ke ROM seorang manusia khususnya pada sendi bagian pinggang dan lutut. Biasa di ketahui juga mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan perkuliahannya dengan posisi duduk dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat memicu penaikan berat badan sehingga mengurangi ROM dari mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ROM sendi panggul dan lutut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling dan dilakukan perhitungan responden menggunakan rumus analitik korelasi, didapatkan minimal responden sebanyak 39 mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung dan penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan etik 146/KEPK-Unisba/V/2022. Data penelitian ini diambil dari dari primer berupa kuesioner dan pengukuran dari derajat pada sendi setiap mahasiswa yang menjadi responden. Hasil dari peneltian didapatkan berdasarkan dengan uji statistik didapatkan nilai p value ialah 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan ROM sendi lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019.
Durasi Screen Time Smartphone dengan Keluhan Mata Kering pada Mahasiswa Gaida Salsabila; Fajar Awalia Yulianto; Sandy Faizal
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v5i2.11519

Abstract

AbstrakDampak screen time smartphone yang tinggi dapat memengaruhi kesehatan mata, salah satunya keluhan mata kering. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara durasi screen time smartphone dan keluhan mata kering pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Penelitian ini merupakan studi analitik cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling dengan jumlah 145 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung periode Juni–November 2022 Alat ukur yang digunakan, yaitu kuesioner Ocular Surface Disease Index (OSDI). Uji statistik menggunakan chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi screen time smartphone mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dengan gejala mata kering terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok durasi <6 jam/hari sebanyak 45 orang (91,8%) dan kelompok durasi >7 jam/hari sebanyak 74 orang (77,1%). Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara durasi screen time smartphone dan keluhan mata kering pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (nilai p=0,04). Pemeriksaan keluhan mata kering menggunakan kuesioner Ocular Surface Disease Index (OSDI) bersifat subjektif, perlu pemeriksaan objektif untuk mendapatkan proporsi mata kering yang sebenarnya dalam dua kelompok screen time. Duration of Smartphone Screen Time with Dry Eye Complaints in University StudentsAbstractHigh smartphone screen time can impact eye health, including dry eye symptoms. This study aims to investigate the relationship between smartphone screen time and dry eye symptoms in students at the Faculty of Medicine Bandung Islamic University. This study uses an observational analytic research method with a cross-sectional type. Purposive sampling was used for sample selection, and the research subjects included 145 students from the Faculty of Medicine Bandung Islamic University from June–November 2022. A statistical test used was the chi-square test. The results of this study showed that the duration of smartphone screen time in students of the Faculty of Medicine Bandung Islamic University with dry eye symptoms is divided into two groups, namely the <6 hours/day duration group of 45 people (91.8%) and the >7 hours/day duration group of 74 people (77.1%). There is a statistically significant correlation between the duration of smartphone screen time and the incidence of dry eye symptoms in students of the Faculty of Medicine Bandung Islamic University (value of p=0.04). Examining complaints of dry eye symptoms with the subjective Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire requires an objective examination to determine the actual proportion of dry eye in the two screen time groups.
Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh dengan Range of MotionSendi Panggul dan Lutut Tarisya Salsabila Putri Asmara; M. Ahmad Djojosugito; Sandy Faizal
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.1, Juli 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1876

Abstract

Abstract. Body mass index (BMI) is a metric currently used to define anthropometric height or weight characteristics in adults. The range of motion (ROM) is the full motion potential of the joint, usually the flexion range and extension. The hip joint is an inferior limb joint. While the knee joint is the largest joint and the superficial joint. It can be known that there is an influence of BMI on the ROM of a human being, especially on the joints of the hip and knees. It is also commonly known that medical students carry out their lecture activities in a sitting position for a long period of time. This can trigger weight gain, thus reducing the ROM of the student. This study aims to determine the connection between BMI and ROM of the hip and knee joints in UNISBA Medical Faculty students. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Sampling in this study used the consecutive sampling method and respondent calculations were carried out using a correlation analytical formula, a minimum of 39 respondents were obtained by students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University and this study has received ethical approval 146 / KEPK-Unisba / V / 2022. This research data was taken from the primer in the form of questionnaires and measurements of degrees in the joints of each student who was a respondent. The results of the research were obtained based on statistical tests, the p value was 0.004 (p < 0.05), which means that there is a relationship between Body Mass Index and knee joint ROM in students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University Class of 2019. Abstrak. Indeks massa tubuh (IMT) adalah metrik yang saat ini digunakan untuk mendefinisikan karakteristik tinggi atau berat antropometrik pada orang dewasa. Range of motion (ROM) merupakan potensi gerakan penuh sendi, biasanya rentang fleksi dan ekstensi. Sendi panggul merupakan suatu sendi ekstremitas inferior. Sedangkan sendi lutut merupakan sendi terbesar dan sendi yang superfisial. Dapat diketahui terdapat pengaruh dari IMT ke ROM seorang manusia khususnya pada sendi bagian pinggang dan lutut. Biasa di ketahui juga mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan perkuliahannya dengan posisi duduk dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat memicu penaikan berat badan sehingga mengurangi ROM dari mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ROM sendi panggul dan lutut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling dan dilakukan perhitungan responden menggunakan rumus analitik korelasi, didapatkan minimal responden sebanyak 39 mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung dan penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan etik 146/KEPK-Unisba/V/2022. Data penelitian ini diambil dari dari primer berupa kuesioner dan pengukuran dari derajat pada sendi setiap mahasiswa yang menjadi responden. Hasil dari peneltian didapatkan berdasarkan dengan uji statistik didapatkan nilai p value ialah 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan ROM sendi lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019.
Hubungan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Tambang UD. X Dinda Elvira Maulina; Susan Fitriyana; Sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science 1545-1552
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22218

Abstract

Abstract. Work fatigue is a major issue in occupational safety and health in the mining sector, which involves high physical activity and heavy workloads. Nutritional status as an internal factor is presumed to influence work fatigue. This study aimed to determine the relationship between nutritional status and work fatigue among sand mining workers at UD. X. The research used a cross sectional design with total sampling of 48 workers who met in the inclusion criteria. Nutritional status was measured using Body Mass Indeks (BMI), while work fatigue was assessed through the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire. All respondents were male (100%), and most were in the 26-45 year age group (62,5%). The highest propotion of work tenure was in the 5-10 year category (45,83%), and job divisions were dominated by field workers (41,67%). The most common nutritional status category was normal (39,58%), followed by obesity 1 (14,58%). Mild fatigue was the most prevalent fatigue level, experienced by 41 workers (85,4%). The Fisher-Freeman-Halton Exact Test showed p = 0,196 (p > 0,05), indicating no significant relationship between nutritional status and work fatigue. These findings suggest that fatigue is more influenced by factors such as job characteristics, work exposure duration, and work tenure, highlighting the need for workplace strategies that address these contributing aspects. Abstrak. Kelelahan kerja merupakan masalah pentin dalam keselamatan dan kesehatan kerja, terutama pada sektor pertambangan yang menuntut aktivitas fisik tinggi dan paparan beban kerja berat. Status gizi sebagai salah satu faktor internal disuga berperan dalam memengaruhi tingkat kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja tambang pasir UD. X. penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling terhadap 48 pekerja yang memenuhi kriteria inklusi. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan tingkat kelelahan kerja dinilai melalui kuesioner Industrial Fatuguq Research Committee (IFRC). Selutruh responden berjenis kelamin laki-laki (100%) dan sebagian besar berada pada kelompok usia 26-45 tahun (62,5%). Masa kerja terbanyak pada kategori 5-10 tahun (45.83%), sedangkan divisi pekerjaan didominasi oleh pekerja lapangan (41,67). Status gizi terbanyak adalah kategoru normal (39,58%), diikuti obesitas 1 (14,58%). Tingkat kelelahan yang paling dominan adalah kelelahan ringan dengan 41 pekerja (85,4%). Hasil uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test menunjukan p = 0,196 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan tingkat kelelahan kerja. Temuan ini mengindikasi bahwa kelelahan lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti karakteristik pekerjaan, durasi paparan kerja, dan masa kerja.
Hubungan Kebiasaan Merokok Orang Tua Dengan ISPA Balita Muhammad Naufal Azhar; Siska Nia Irasanti; Sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science 839-846
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22400

Abstract

Abstract. Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the leading causes of morbidity and mortality among children under five, particularly in developing countries. Exposure to cigarette smoke in the household environment is an important risk factor that may increase the incidence of ARI in toddlers. This study aimed to determine the relationship between parental smoking habits and the incidence of ARI among toddlers at Pabuaran Primary Health Center, Subang Regency. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. A total of 172 toddlers who met the inclusion and exclusion criteria were selected using simple random sampling. Data on parental smoking habits were collected using a structured questionnaire, while ARI incidence was assessed through direct clinical examination at the health center. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. The results showed that most parents were smokers (83.1%), and the majority of toddlers experienced ARI (88.4%). Bivariate analysis revealed a statistically significant association between parental smoking habits and the incidence of ARI among toddlers (p < 0.001). Toddlers with smoking parents had a higher proportion of ARI compared to those with non-smoking parents. In conclusion, there is a significant relationship between parental smoking habits and the incidence of ARI among toddlers at Pabuaran Primary Health Center, Subang Regency. Abstrak. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di negara berkembang. Paparan asap rokok di lingkungan rumah menjadi salah satu faktor risiko penting yang dapat meningkatkan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian berjumlah 172 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Data kebiasaan merokok orang tua diperoleh melalui kuesioner, sedangkan kejadian ISPA dinilai berdasarkan pemeriksaan klinis langsung di puskesmas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memiliki kebiasaan merokok (83,1%) dan mayoritas balita mengalami ISPA (88,4%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita (p < 0,001). Balita yang memiliki orang tua perokok cenderung lebih banyak mengalami ISPA dibandingkan balita dengan orang tua yang tidak merokok. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok orang tua dan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Subang.
Hubungan Pengetahuan Ibu Mengenai Gizi dengan Kepatuhan PMT pada Balita Berat Badan Kurang Inas Ainun Nisa; Nurul Romadhona; sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science 1013-1020
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22458

Abstract

Absract. Underweight in children under five remains a concern; in Bandung City (2023) 7,866 children were classified as underweight (8.34%), and Andir District increased from 5.66% (2022) to 7.76% (2023). The effectiveness of supplementary feeding (PMT) depends on mothers’ nutrition knowledge and adherence. An analytic cross-sectional study was conducted in the Babatan Primary Health Center catchment area (Ciroyom and Kebon Jeruk) during September–November 2025, involving 70 mothers of underweight children. Associations between nutrition knowledge and PMT adherence were tested using Chi-square. Most mothers were adherent to PMT (78.6%). Nutrition knowledge was good (54.3%), fair (30.0%), and poor (15.7%); maternal knowledge was significantly associated with PMT adherence (p=0.012). Non-adherence mainly involved forgetting to provide PMT when traveling and reducing portions without cadre supervision because the child disliked the menu. Strengthened nutrition counseling, routine monitoring, and periodic evaluation are recommended to improve PMT adherence. Abstrak. Masalah berat badan kurang (underweight) pada balita masih menjadi perhatian; di Kota Bandung tahun 2023 tercatat 7.866 balita underweight (8,34%) dan di Kecamatan Andir meningkat dari 5,66% (2022) menjadi 7,76% (2023). Efektivitas program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dipengaruhi pengetahuan gizi ibu dan kepatuhan pelaksanaannya. Studi analitik observasional dengan desain cross-sectional di wilayah kerja Puskesmas Babatan (Kelurahan Ciroyom dan Kebon Jeruk) pada September hingga November 2025, melibatkan 70 ibu balita berat badan kurang. Hubungan pengetahuan gizi dan kepatuhan PMT dianalisis menggunakan uji Chi-square. Kepatuhan ibu mayoritas patuh (78,6%). Pengetahuan gizi kategori baik 54,3%, cukup 30,0%, kurang 15,7%; terdapat hubungan bermakna pengetahuan gizi dengan kepatuhan PMT (p=0,012). Ketidakpatuhan terutama karena lupa membawa/memberikan PMT saat bepergian serta mengurangi porsi tanpa sepengetahuan kader karena balita tidak menyukai menu. Temuan mendukung pentingnya penguatan edukasi gizi, pemantauan, dan evaluasi berkala untuk meningkatkan kepatuhan PMT.