Abdul Hadi Hassan
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Karakteristik Klinis dan Histopatologi Pasien Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. M. Salamun Kota Bandung Tahun 2020-2021 Hauradarry Aurella Permadi; Meike Rachmawati; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6662

Abstract

Abstract. Globally there were 11.26 million cases of Benign Prostatic Hyperplasia in 2019. BPH mostly affects men over 60 years old in Indonesia. BPH is the second most common disease found in urology clinics in Indonesia. The quality of life of BPH patients is disrupted due to persistent irritative and obstructive symptoms. Histopathological picture of hyperplasia of prostate gland cells. The purpose of this study was to assess the clinical and histopathological features of BPH patients at RSAU dr. M. Bandung City. The sampling technique for this study used total sampling using 36 medical records of BPH patients at RSAU dr. M. Salamun Bandung City. This research uses descriptive method. The results of the study from 36 total samples, the clinical picture of 13 people (36.1%) patients experienced intermittent, 20 patients (55.6%) experienced weak flow, 30 people experienced hesitancy, 13 people (36.1%) experienced dysuria , 12 people (33.3%) had BAK that was not light and a further 13 people (36.1%) had nocturia. Histopathology showed that 19 patients (52.8%) had prostatic acini dilatation, 17 patients (47.2%) had prostatic acini hyperplasia, 16 patients (44.4%) had acini lumen containing corpora amylase, 21 patients ( 58.3%) had hyperplastic acini epithelial cells, then 32 people (88.9%) had nuclei within normal limits. The conclusion of this study is to get the most clinical picture of Benign Prostatic Hyperplasia is experiencing a weak bladder flow and hesitancy. The histopathological picture shows that most of the prostatic acini are dilated, the acini epithelial cells are hyperplastic, the nuclei are within normal limits. Abstrak. Secara global terdapat 11.26 juta kasus Benign Prostatic Hyperplasia di tahun 2019. BPH banyak diderita laki-laki lebih dari 60 tahun di Indonesia. BPH termasuk penyakit kedua terbanyak yang ditemukan dalam klinik urologi di Indonesia. Kualitas hidup pasien BPH terganggu akibat gejala iritatif dan obstruktif yang timbul secara terus menerus. Gambaran histopatologi berupa hiperplasia sel-sel kelenjar prostat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai gambaran klinis dan gambaran histopatologi pasien BPH di RSAU dr. M. Kota Bandung.Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dengan menggunakan 36 data rekam medis pasien BPH di RSAU dr. M. Salamun Kota Bandung. Penelitian ini mengguanakan metode deskriptif . Hasil penelitian dari 36 total sampel, gambaran klinis sebanyak 13 orang (36,1%) pasien mengalami intermittency, 20 pasien (55,6%) mengalami aliran yang lemah, 30 orang mengalami hesistency, 13 orang (36,1%) mengalami disuria, 12 orang (33,3%) mengalami BAK yang tidak lampias dan kemudian 13 orang (36,1%) mengalami nokturia. Gambaran histopatologi menunjukan sebanyak 19 orang (52,8%) pasien mengalami dilatasi acini prostat, 17 pasien (47,2%) mengalami hiperplasia acini prostat, 16 orang (44,4%) terjadi lumen acini yang mengandung corpora amilase, 21 orang (58,3%) terjadi sel-sel epitel acini yang hiperplastis, kemudian 32 orang (88,9%) terjadi inti dalam batas normal. Kesimpulan penelitian ini didapatkan gambaran klinis terbanyak Benign Prostatic Hyperplasia adalah mengalami aliran kemih yang lemah dan hesistency. Gambaran histopatologi menunjukan sebagian besar terjadi dilatasi acini prostat, sel-sel epitel acini yang hyperplastis, inti dalam batas normal. Kata kunci: Benign prostatic hyperplasia, BPH, karakteristik BPH
Hubungan Stres Kerja dengan Karakteristik Perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Adela Sulistira; Meta Maulida D; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6641

Abstract

Abstract. Nurse work stress is a human resource management issue in hospitals that is caused by a combination of stress at work, individual characteristics, and stressors outside the organization. Organizational factors and role conflicts have a major effect on work stress for nurses in the Emergency Room (ER). The objective of this study was to investigate at the link between job stress and the characteristics of nurses working in the emergency room (ER). This study employs an observational analytic method with a cross-sectional design. This study was conducted in the Emergency Room between January and July of 2022, using a large sample of 50 participants drawn utilizing non-probability sampling and purposive sampling. The results showed that the nurses in the Emergency Department had the highest stress level, with 23 persons (46%). The majority of nurses were female, with a total of 36 people (72%), the most age was in the 26-30 years group with a total of 15 people (30%), and the most education level was DIII nursing with a total of 26 people (52%), the majority of marriages were married with a total of 35 people (70%), and most had a working period of 4-6 years with a total of 23 respondents (46%). There is no significant relationship between job stress and nurse characteristics (p> 0.05). Work stress on nurses working in the hospital emergency room Health standards are relatively high, but several factors, including age, gender, education level, marital status, and duration of employment, cause significant levels of stress. Abstrak. Stress kerja perawat adalah salah satu masalah manajemen sumber daya manusia di Rumah Sakit yang merupakan kombinasi dari stress saat kerja, karakteristik individu, dan penyebab stres di luar organisasi. Stres kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sangat dipengaruhi oleh kondisi organisasi dan konflik peran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara stres kerja dengan karakteristik perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penelitian ini adalah observational analitik dengan pendekatan Cross-Sectional design. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Juli 2022 di bagian IGD besar sampel penelitian menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 50 orang yang diambil mengunakan non probability sampling dengan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres perawat di bagian Instalasi Gawat Darurat paling tinggi mengalami stres berat yaitu 23 orang (46%). Karakteristik perawat menunjukkan mayoritas perawat berjenis kelamin perempuan sebanyak 36 orang (72%), usia terbanyak pada kelompok 26-30 tahun dengan jumlah 15 orang (30%), tingkat pendidikan paling banyak adalah DIII keperawatan dengan jumlah 26 orang (52%), status pernikahan terbanyak adalah menikah dengan jumlah 35 orang (70%), dan sebagian besar mempunyai masa kerja 4-6 tahun dengan jumlah 23 responden (46%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress kerja dengan karakteristik perawat (p > 0.05). Stres kerja pada perawat yang bekerja di IGD RS. Harapan Sehat Slawi cukup tinggi, namun banyak faktor yang menyebabkan tingginya tingkat stress, tidak hanya faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan lama bekerja.
Hubungan Stadium dan Jenis Terapi dengan Outcome Pasien Kanker Serviks di RSUD Al-Ihsan Fresa Ryan Destina; Abdul Hadi Hassan; Muhammad Syah Misuari Sabirin
Bandung Conference Series: Medical Science 955-962
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22437

Abstract

Abstract. Cervical cancer is a malignant tumor of the cervical epithelial tissue, primarily caused by infection with the Human Papilloma Virus. Disease stage and type of therapy are clinical factors commonly examined in relation to patient outcomes. This study aimed to analyze the association between cancer stage and type of therapy with outcome among cervical cancer patients at Al-Ihsan Regional General Hospital during 2019-2024. This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. Data were obtained from the medical records of cervical cancer patients who met the inclusion criteria during the 2019-2024 period using a total sampling technique. The independent variables were cervical cancer stage and type of therapy, while the dependent variable was patient outcome (alive or deceased). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with Fisher’s Exact Test. The results showed that most patients were in advanced stages and received radiotherapy, and outcome was predominantly alive. Bivariate analysis indicated no significant association between cervical cancer stage and outcome (p=1,000) or between type of therapy and outcome (p=0,079). These findings suggest that outcomes are not solely associated with disease stage and type of therapy but may be related to other clinical factors not analyzed in this study. The conclusion of this study is that neither disease stage nor type of therapy is significantly associated with patient outcomes. Abstrak. Kanker serviks adalah tumor ganas pada jaringan epitel leher rahim yang terutama disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus. Stadium penyakit dan jenis terapi merupakan faktor klinis yang sering dikaji dalam kaitannya dengan hasil akhir kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan stadium dan jenis terapi dengan outcome pada pasien kanker serviks di RSUD Al-Ihsan tahun 2019-2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien kanker serviks yang memenuhi kriteria inklusi selama periode 2019-2024 dengan teknik total sampling. Variabel independen meliputi stadium kanker serviks dan jenis terapi, sedangkan variabel dependen adalah outcome (hidup atau meninggal). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien berada pada stadium lanjut dan menjalani radioterapi, serta outcome didominasi oleh kondisi hidup. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stadium kanker serviks dengan outcome (p=1,000) maupun antara jenis terapi dengan outcome (p=0,079). Temuan ini menunjukkan bahwa outcome hidup dan meninggal tidak hanya berkaitan dengan stadium dan jenis terapi, melainkan kemungkinan berkaitan dengan faktor klinis yang tidak dianalisis dalam penelitian ini. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa stadium maupun jenis terapi tidak berhubungan signifikan dengan outcome.
Karakteristik Ibu Hamil dan Kepatuhan dalam Program Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Egalita Adhliya Ardiayuman; Abdul Hadi Hassan; Titik Respati
Bandung Conference Series: Medical Science 1085-1092
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22485

Abstract

Abstract. Maternal adherence to Antenatal Care (ANC) remains an important concern in efforts to reduce maternal and infant morbidity and mortality. Sociodemographic factors such as age and educational level are known to influence ANC patterns; however, studies examining these variables in specific regional contexts are still limited. This study aimed to analyze the relationship between age and educational level with ANC adherence among pregnant women attending Community Health Centers (Puskesmas) in the Antapani District in 2024. This research used an analytical observational method with a cross-sectional design. A total of 153 pregnant women were selected using non-probability sampling based on secondary data from medical records. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test.The results showed that 65% of pregnant women demonstrated good adherence to ANC. Statistical analysis indicated a significant association between educational level and ANC adherence (p=0.007; OR=3.1), while age showed a tendency but was not statistically significant. Pregnant women aged above 20 years and those with medium to high educational levels tended to be more compliant with scheduled ANC visits. In conclusion, educational level is an important predictor of ANC adherence, followed by age. Therefore, structured and personalized health education is recommended particularly for adolescent mothers and pregnant women with low educational levels to improve ANC coverage and quality. Abstrak. Kepatuhan ibu hamil dalam mengikuti program Antenatal Care (ANC) masih menjadi perhatian penting dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi. Faktor sosiodemografi seperti usia dan tingkat pendidikan diketahui berpengaruh terhadap pola kunjungan, namun penelitian yang menilai hubungan kedua variabel tersebut dalam konteks wilayah tertentu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan usia dan tingkat pendidikan dengan kepatuhan ibu hamil dalam mengikuti program ANC di Puskesmas wilayah Kecamatan Antapani tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang. Sampel terdiri dari 153 ibu hamil yang dipilih melalui teknik non-probability sampling berdasarkan data rekam medis. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% ibu hamil memiliki kepatuhan baik terhadap ANC. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan ANC (p=0,007; OR=3,1), sedangkan variabel usia menunjukkan kecenderungan tetapi tidak bermakna secara statistik. Ibu hamil berusia di atas 20 tahun dan memiliki pendidikan menengah hingga tinggi cenderung lebih patuh terhadap jadwal kunjungan ANC dibandingkan kelompok lainnya. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan merupakan prediktor penting kepatuhan ANC, diikuti oleh faktor usia. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang terstruktur dan personal terutama bagi ibu hamil remaja serta ibu dengan tingkat pendidikan rendah untuk meningkatkan cakupan dan kualitas ANC.