Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Deteksi Kerusakan Bearing Menggunakan Komponen Utama Kernel Allyaa Putri Asti; Sutawanir Darwis
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v3i1.5471

Abstract

Abstract. Various factors can cause bearing damage, this is a major problem because it can cause substansial losses and affect production schedules. It is recommended to control bearing damage in order to provide early information about the damage. The method used in this paper is Hotelling T2 through Kernel Principal Component Analysis (KPCA). The principal component of kernel used to construct Hotelling T2 statistics in order to obtain T2 statistical values for detection bearing damage. The purpose of this paper is to apply KPCA as a statistic to use normal and damaged bearing. Data from NASA Bearing Dataset that contains normal bearing and damage bearing. Data divided into 1153 data for training and 323 data for testing. In this paper, 8 features are used as input for KPCA, reduced to 6 kernel principal component. Training data can obtained eigenvalue as input Hotelling T2, testing is used to detect bearings condition. Bearings are detected to damaged when T2 > 12.6939 with a significance level of 5%, from 323 training data 294 observations detected as damaged bearings and 29 observations detected as normal bearings. After conducting research, KPCA method can use to detect bearing damage. Abstrak. Berbagai faktor dapat menyebabkan kerusakan bearing, hal ini merupakan masalah utama karena dapat menyebabkan kerugian cukup besar dan mempengaruhi jadwal produksi. Dianjurkan mengontrol kerusakan bearing agar dapat memberikan informasi awal kerusakan bearing. Metode digunakan dalam penelitian Hotelling T2 melalui komponen utama kernel. Komponen utama kernel digunakan untuk mengkontruksi statistik Hotelling T2 sehingga diperoleh nilai statistik T2 untuk deteksi kerusakan bearing. Tujuan penelitian adalah menerapkan komponen utama kernel sebagai statistik untuk menggunakan Hotelling T2 bearing normal dan bearing rusak. Data sekunder NASA Bearing Dataset berisikan data bearing normal serta data bearing rusak. Proses deteksi bearing melalui komponen utama kernel dibagi menjadi data training sebanyak 1153 data sedangkan data testing sebanyak 323 data. Berdasarkan hasil penelitian, 8 fitur dijadikan sebagai input komponen utama kernel, direduksi menjadi enam komponen utama kernel. Menggunakan data training diperoleh nilai eigen sebagai input Hotelling T2, data testing digunakan untuk mendeteksi kondisi bearing. Bearing terdeteksi rusak ketika statistik T2 > 12.6939. Dengan taraf signifikansi 5 %, didapatkan sebanyak 294 data pengamatan dari 323 terdeteksi merupakan bearing rusak sedangkan sisanya 29 data pengamatan terdeteksi merupakan bearing normal. Setelah dilakukan penelitian metode komponen utama kernel layak digunakan untuk mendeteksi kerusakan bearing.
Multivariate Statistical Process Control untuk Mendeteksi Kerusakan Bearing Hani Nurhapilah; Sutawanir Darwis
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v3i1.6323

Abstract

Abstract. Multivariate Statistical Process Control is intended to see the stability of a production process so that it becomes effective. This method was developed to detect bearing damage through the T2 Hotelling control chart. Out-of-control is used as a tool to detect bearing condition. The machine is a unit of various interrelated components, resulting in a series of movements. Bearings are important machine components, supporting the shaft to rotate without experiencing excessive friction. Bearing damage detection is important to ensure optimal performance in an industry. The data used is secondary data from the results of bearing vibration experimental tests from the FEMTO-ST Institute. The vibration data used consists of seven bearings with various conditions, each of which consists of two directions, namely horizontal and vertical. Then, the variance features and RMS bearing1_2 and bearing1_4 are taken for data processing. Furthermore, the data is divided into two phases, namely phase-I which is assumed to be the bearing under normal conditions and phase-II which is assumed to be the bearing to be tested. After that, the calculation of the upper control limit (UCL) is carried out in phase-I, and is used in phase-II to detect bearing conditions. The results of tests carried out in phase-II show that there are points that are out-of-control so that it can be said that there are abnormalities in the bearings which may indicate that there are bearings that are abnormal but not necessarily damaged. Abstrak. Multivariate Statistical Process Control diperuntukkan untuk melihat stabilitas proses dari suatu produksi agar menjadi efektif. Metode ini dikembangkan untuk mendeteksi kerusakan bearing melalui diagram kendali T2 Hotelling. Out-of-control digunakan sebagai alat untuk mendeteksi kondisi bearing. Mesin merupakan kesatuan dari berbagai komponen yang saling berkaitan, sehingga menghasilkan suatu rangkaian gerakan. Bearing merupakan komponen mesin yang penting, menumpu agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Deteksi kerusakan bearing penting dilakukan untuk menjamin performa optimal sebuah industri. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil uji eksperimen vibrasi bearing dari FEMTO- ST Institute. Data vibrasi yang digunakan terdiri dari tujuh bearing berbagai kondisi yang masing-masingnya terdiri dari dua arah yaitu horizontal dan vertikal. Kemudian, diambil fitur variansi dan RMS bearing1_2 dan bearing1_4 untuk pengolahan data. Selanjutnya, data tersebut dibagi menjadi dua fase yaitu fase-I yang diasumsikan sebagai bearing kondisi normal dan fase-II diasumsikan sebagai bearing yang akan diuji. Setelah itu, dilakukan perhitungan batas kendali atas (BKA) pada fase-I, dan digunakan pada fase-II untuk mendeteksi kondisi bearing. Hasil pengujian yang dilakukan pada fase-II menunjukkan bahwa terdapat titik-titik yang berada di luar batas kendali (out-of-control) sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat ketidaknormalan pada bearing yang mungkin berindikasi terdapat bearing yang tidak normal namun belum tentu rusak.