Yulianti
Manajemen Komunikasi, Ilmu Komunikasi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Interpretasi Pesan Menggunakan Kredit Online Fatimah Hammam Mirza; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i1.5422

Abstract

Abstract. The presence of ShopeePaylater in the Shopee application certainly attracts the attention of the public as well as an innovation that is worth trying, namely transacting online using this feature. According to ShopeePaylater statistical data presented on the LDN website, currently the number of borrowers reaches 1,270,101 people, of which 850,631 people are active borrowers. This indicates that the Indonesian people are increasingly literate towards financial technology such as the Paylater feature found on Shopee. Moreover, Shopee is currently widely accessed by millennials, some of whom are still in college like students. This study aims to determine the motives, meanings, and experiences of students at the Islamic University of Bandung using ShopeePaylater. In this study, researchers will use an interpretive paradigm with a phenomenological study approach. Using qualitative research methods is in accordance with the wishes of the researcher in achieving the research objectives. The subjects of this study were 2 women and 2 men aged 18-23 years who were active users of ShopeePaylater online credit for approximately 3 years, and had certain or unexpected experiences when using ShopeePaylater. The results of the study show that the user's motive for using ShopeePaylater is because there are economic problems, so that users can achieve their goals, namely fulfilling their wants and needs. The implied meaning of use is that ShopeePaylater is a tool that can fulfill the wants and needs of its users. The user experience experienced is divided into two, namely male users who do not have good or bad experiences due to wise use, and female users who have bad experiences due to unwise, careless, and careless use. Abstrak. Hadirnya ShopeePaylater dalam aplikasi Shopee tentu menarik perhatian masyarakat sekaligus menjadi inovasi yang patut dicoba yaitu bertransaksi secara online menggunakan fitur tersebut. Menurut data statistik ShopeePaylater yang dipaparkan di situs LDN, saat ini jumlah peminjam mencapai 1.270.101 orang, dengan 850.631 orang adalah peminjam aktif. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia semakin melek terhadap teknologi finansial seperti fitur Paylater yang terdapat pada Shopee. Apalagi Shopee saat ini banyak diakses oleh masyarakat milenial, yang di antaranya masih duduk di bangku kuliah seperti mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif, makna, dan pengalaman mahasiswa Universitas Islam Bandung menggunakan ShopeePaylater. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan paradigma interpretatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Menggunakan metode penelitian kualitatif cocok dengan keinginan peneliti dalam mencapai tujuan penelitian. Subjek penelitian ini 2 perempuan dan 2 laki-laki dengan usia 18-23 tahun yang merupakan pengguna aktif kredit online ShopeePaylater selama kurang lebih 3 tahun, dan memiliki pengalaman tertentu atau tidak terduga saat menggunakan ShopeePaylater. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa motif pengguna menggunakan ShopeePaylater karena terdapat masalah ekonomi, agar pengguna dapat mencapai tujuannya yaitu memenuhi keinginan dan kebutuhan. Makna penggunaan yang tersirat adalah ShopeePaylater merupakan alat bantu yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan para penggunanya. Pengalaman pengguna dialami dibagi menjadi dua, yaitu pengguna laki-laki yang tidak memiliki pengalaman baik atau buruk karena penggunaan yang bijak, dan pengalaman pengguna perempuan yang mendapatkan pengalaman buruk karena penggunaan yang tidak bijak, ceroboh, dan tidak teliti.
Self Disclosure pada Anggota Komunitas ATP Siti Nabila Meiriskha; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i1.6672

Abstract

Abstract. The community is a place for social interaction, both educational and non-educational. Researchers suspect that self-disclosure on social media or online networks, especially Instagram, is carried out for certain reasons or motives that make individuals more likely to express themselves on Instagram social media. Problems that arise on social media Instagram, in which there is a process of communication from within the individual as outlined in photos (status), videos, live Instagram, and Insta-stories. With this, the writer wants to know the self-disclosure of ATP members in using Instagram social media. Because in terms of self-disclosure it can also be realized not only by face-to-face communication, but can also be through the media or channels to be able to communicate it. This relates to the existence of self-disclosure in individuals. The theory used is the functional theory of self-disclosure by Derlega & Grzelak, 1979: Omarzu, 2000 which was developed for social media on the grounds that different social media capabilities activate different disclosure purposes, which in turn shape disclosure. The purpose of this study was to determine social legitimacy, expression, relationship development, identity clarification and social control on self-disclosure of Instagram social media users. The research method used in this study is to use descriptive quantitative research methods. The results of the research on self-disclosure of members of the ATP community on Instagram are disclosed in general, but on the dimension of social legitimacy for private employee work groups it is more open than the other dimensions, namely self-employed work and for the dimension of identity clarification for male and female gender groups both open, while in another dimension men are more open than women. Abstrak. Komunitas menjadi wadah untuk melakukan interaksi sosial baik bersifat edukasi maupun non edukasi. Peneliti menduga bahwa pengungkapan diri di media sosial atau jejaring online khususnya Instagram dilakukan karena ada alasan maupun motif – motif tertentu yang membuat individu lebih cenderung mengungkapkan dirinya di media sosial Intagram. Permasalahan yang muncul pada media sosial Instagram, didalamnya terdapat suatu proses komunikasi dari dalam diri individu yang dituangkan dalam foto (status), video, live Instagram, maupun Insta-stories. Dengan begitu penulis ingin mengetahui keterbukaan diri anggota ATP dalam menggunakan media sosial Instagram. Karena dalam hal keterbukaan diri dapat pula terwujud tidak hanya dengan komunikasi tatap muka, namun dapat pula melalui media atau saluran untuk dapat mengomunikasikannya. Hal ini berhubungan dengan adanya self disclosure pada individu. Teori yang digunakan adalah teori fungsional pengungkapan diri oleh Derlega & Grzelak, 1979: Omarzu, 2000 yang dikembangkan ke media sosial dengan alasan bahwa kemampuan media sosial berbeda mengaktifkan tujuan pengungkapannya yang berbeda, yang pada gilirannya membentuk pengungkapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keabsahan sosial, ekspresi, perkembangan hubungan klarifikasi identitas dan kendali sosial pada self disclosure pengguna media sosial Instagram. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah adalah menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian Self disclosure anggota komunitas ATP di Instagram diungkapkan secara umum, namun pada dimensi keabsahan sosial untuk kelompok pekerjaan pegawai swasta lebih terbuka dari pada dimensi lain, yaitu pekerjaan wiraswasta dan untuk dimensi klarifikasi identitas untuk kelompok jenis kelamin laki-laki dan perempuan sama-sama terbuka, sedangkan dimensi lain laki – laki lebih terbuka dari pada perempuan.