Riska Vitria Khoironi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Samarinda

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis prediksi terjadinya financial distress pada perusahaan kosmetik di indonesia Riska Vitria Khoironi; Set Asmapane; Anisa Kusumawardani
Jurnal Ilmu Akuntansi Mulawarman (JIAM) Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29264/jiam.v0i0.1579

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat potensi terjadinya  financial distress pada perusahaan yang memperoleh laba bersih menurun, tidak melakukan pembayaran dividen lebih satu tahun, dan adanya penurunan harga pasar saham perlembar. Financial distress merupakan tahap penurunan kondisi keuangan atau terjadinya kesulitan keuangan suatu perusahaan sebelum terjadinya kebangkrutan. Objek penelitian ini adalah perusahaan kosmetik di Indonesia dan prosedur pemilihan sampel menggunakan purposive sampling dan menghasilkan 2 perusahaan yang memenuhi kriteria. Data yang dikumpulan dalam bentuk laporan keuangan periode tahun 2012 hingga tahun 2015 yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model analisis Altman Z-score. Altman Z-score ialah suatu alat yang memperhitungkan dan menggabungkan beberapa rasio-rasio keuangan tertentu yang dianggap paling berkontribusi dalam memprediksi terjadinya financial distress. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perusahaan yang memiliki laba bersih menurun,  tidak  melakukan  pembayaran  dividen  lebih  dari  satu  tahun,  dan  adanya  penurunan harga pasar saham perlembar akan menghasilkan nilai z-score yang cenderung kecil disetiap tahunnya dan menyebabkan perusahaan mempunyai potensi terjadinya financial distress. Hal ini terlihat dari pergerakan kedua perusahaan tersebut menunjukan kecenderungan perusahaan yang berada dalam kondisi safe area lebih mengarah kepada kondisi grey area, dimana kondisi ini merupakan kondisi rawan yang juga menandakan bahwa perusahaan mempunyai potensi terjadinya financial distress.