ABSTRAKPartai Aceh sebagai kekuatan politik yang dominan dan diperhitungkan dalam kontestasi politik di Aceh. Partai ini didirikan oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, dalam keikutsertaannya Partai Aceh memenangkann kontestasi pemilu sebanyak tiga kali secara berturut-turut sejak pertama kali keikutsertaannya pada pemilu 2009. Pada pemilu 2019 lalu partai-partai yang mengalami pelonjakan suara dapat dipastikan sangat dibantu oleh suara-suara generasi milenial. Di Aceh suara milenial pada pemilu lalu bahkan sampai pada angka 25%. Tujuan dari penelitian ialah untuk mengetahui sejauh mana proses Partai Aceh dalam melakukan rekrutmen terhadap generasi milenial dan untuk memahami dampak dari rekrutmen politik yang dilakukan Partai Aceh terhadap generasi milenial. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan data analisis melalui dokumentasi dan wawancara. Teori yang digunakan dalam penilitian ini ialah teori partai politik dan teori reikrutmen politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Partai Aceh saat telah melakukan perubahan dan mekanisme dalam menghimpun kekuatan dan menarik minat generasi milenial untuk dapat bergabung di Partai Aceh. Pola yang sebelumnya yang menerapkan sistem rekrutmen tertutup dan saat ini pola rekrrutmen yang terbuka menunjukkan Partai Aceh sangat berbenah atas kekurangan mereka. Dampak kemunculan Muda Seudang sangat berperan penting dalam proses menjaring generasi milenial Aceh dalam partipasi ke dalam Partai Aceh sehingga ini menjadi modal yang sangat bagus bagi Partai Aceh sendiri dengan adanya Muda Seudang secara tidak langsung, akan menjadikan kader-kader yang dipersiapkan untuk dapat berproses di Partai Aceh. Partai Aceh harus mengikuti perkembangan kualitas demokrasi yang salah satunya melakukan regenerasi di internal Partai Aceh dan menjadi institusi Partai politik yang modern dalam dinamika politik lokal maupun nasional. Kata Kunci: Rekrutmen, Partai Politik, Partai Aceh, Muda Seudang.ABSTRACTThe Aceh Party is a dominant political force that is taken into account in political contestation in Aceh. This party was founded by former combatants of the Free Aceh Movement, in its participation the Aceh Party won the election contestation three times in a row since its first participation in the 2009 elections. In the 2019 elections, the parties that experienced a surge in votes were certainly greatly assisted by the voices of the millennial generation. In Aceh, the millennial vote in the last election even reached 25%. The purpose of the research is to find out the extent of the Aceh Party's process in recruiting the millennial generation and to understand the impact of political recruitment carried out by the Aceh Party on the millennial generation. The approach in this research uses a descriptive qualitative approach, and data analysis through documentation and interviews. The theories used in this research are political party theory and political recruitment theory. The results showed that the Aceh Party has made changes and mechanisms in gathering strength and attracting millennials to join the Aceh Party. The previous pattern of implementing a closed recruitment system and now an open recruitment pattern shows that the Aceh Party is very improved for their shortcomings. The impact of the emergence of Muda Seudang is very important in being a banging force in the process of attracting Aceh's millennial generation in participating in the Aceh Party so that this is a very good capital for the Aceh Party itself with the existence of Muda Seudang indirectly, will make cadres who are prepared to be able to process in the Aceh Party. The Aceh Party must follow the development of the quality of democracy, one of which is to regenerate within the Aceh Party and become a modern political party institution in local and national political dynamics. Keywords: Recruitment, Political Parties, Aceh Party, Muda Seudang.