Selvone Christin Pattiserlihun
Universitas Gadja Mada, Sekolah Pascasarjana, Center for Religious and Cross-culture Studies

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Kuburan Campur sebagai Media Dialog Antar-Agama Selvone Christin Pattiserlihun
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 8, No 2 (2022): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v8i2.518

Abstract

Several meeting spaces in society have become different in engagement places or media for dialog antar agama in Indonesia unconsciously, such as Graves oft seen as scary spaces can be spaces for dialog antar agama. This paper aims to reveal interfaith dialogue facts from the mixed-grave phenomenon that academics rarely see. This paper uses a qualitative study with the mechanism of observation, interviews, and literature analysis. There are several results. 1) Interfaith dialogue media can be distinguished into three forms of mixed grave phenomena, namely mixed ethnic graves, mixed religions, and mixed ethnicities and religions. 2)These three types of mixed graves conduct dialog antar agama to maintain tolerance through activities carried out by several community groups, both from families and the Indonesian Graveyard community, that hunting activities. 3)Kinship and friendship are important reasons for preserving the values of tolerance in a multicultural and multi-religious society through this phenomenon. Thus, dialog antar agama can be carried out in various public spaces, not just academic areas which are boring and difficult to reach by grassroots communities. Several regions that do not experience religious segregation have practiced these methods for a long time.AbstrakTanpa disadari, beberapa ruang perjumpaan dalam masyarakat menjadi tempat perkawinan perbedaan atau media dialog antar-agama di Indonesia salah satu contohnya adalah kuburan yang dilihat sebagai tempat menakutkan dapat dijadikan sebagai ruang terciptanya dialog antar-agama. Tujuan tulisan ini adalah menganalisis dialog antar agama dari fenomena kuburan campur (mix-grave) yang jarang dilihat para akademisi. Tulisan ini menggunakan studi kualitatif dengan mekanisme observasi, wawancara, dan analisis literatur. Hasilnya, 1) Media dialog antar agama dapat dibedakan dalam 3 bentuk fenomena kuburan campur yakni kuburan campur etnik, campur agama, dan campur etnik dan agama. 2) Ketiga macam kuburan campur ini dapat disadari sebagai ruang baru bagi masyarakat melakukan dialog antar-agama agar tetap memelihara toleransi melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat baik dari keluarga dan juga aktivitas berburu (hunting) kuburan yang dilakukan oleh komunitas Graveyard Indonesia. 3) Hubungan kekerabatan (kinship) dan persahabatan (friendship) menjadi alasan penting pelestarian nilai-nilai toleransi dalam masyarakat yang multikultural dan multiagama melalui fenomena ini. Dengan demikian, dialog antar agama dapat dilakukan di berbagai ruang masyarakat bukan hanya pada ruang akademis yang membosankan dan sulit dijangkau oleh masyarakat akar rumput. Cara-cara ini telah dilakukan dari lama oleh beberapa daerah yang tidak mengalami segregasi agama.