Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MAKNA DALAM GELAR: UPAYA MEMUDAHKAN MEMAHAMI MEGALITIK NIAS Wiradnyana, Ketut
Naditira Widya Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.145

Abstract

It is necessary to know physical and non-physical aspect of the megalithic remains at Nias to comprehend its significance. Recognizing Nias physical aspects does not directly grasp the essence of its megalithic culture and describe the people who once built the remnants. Therefore, it is necessary to understand its non physical aspect, such as names and titles of nobility of Nias community, because it is important part of their culture and act as symbol of characteristic, kinship, social standing and culture territory. This article discusses the importance of understanding the names and titles or nobility to futher explain the significance of megalithic remains in Nias.
ARTEFAK NEOLITIK DI PULAU WEH: BUKTI KEBERADAAN AUSTRONESIA PRASEJARAH DI INDONESIA BAGIAN BARAT Wiradnyana, Ketut
Naditira Widya Vol 6, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i1.79

Abstract

Abstrak. Hinga kini peninggalan artefak masa neolitik di Indonesia bagian barat sangat sulit ditemukan, sehinggasejumlah ahli arkeologi meragukan adanya aktivitas pendukung budaya Austronesia di kawasan ini. Namun, kapakbatu yang ditemukan di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menunjukkan karakteristik morfologis danteknologi alat batu neolitik. Berdasarkan jenisnya yang berupa kapak lonjong, kapak persegi dan belincungmenunjukkan aktivitas kebudayaan prasejarah Austronesia pernah berlangsung di Pulau Weh. Fakta tersebutmenguatkan asumsi adanya migrasi masyarakat pendukung budaya Austronesia ke Pulau Weh. Oleh karenamasih terbatasnya data pembabakan kronologis prasejarah di Pulau Weh, maka penelitian ini dilakukan denganmembandingkan karakteristik kapak batu yang ditemukan di kawasan Indonesia bagian barat lainnya. Hasil kajianini menunjukkan bahwa Pulau Weh memiliki posisi geografis strategis yang potential sebagai daerah kunjungan danlingkungan yang menguntungkan untuk lokasi pemukiman. Di lain pihak, kapak batu Pulau Weh menunjukkankarakteristik yang khas berupa perkawinan morfologi dan teknologi antara kapak lonjong dan kapak persegi.
PERKEMBANGAN RELIGI PRASEJARAH: TRADISI MASYARAKAT GAYO Wiradnyana, Ketut
AMERTA Vol. 33 No. 1 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Keberadaan religi pada masyarakat Gayo sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Pemahaman religi pada masa itu diketahui dari sisa aktivitas yang di antaranya masih dikenali dari sisa penguburan di Situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang. Pola penguburan dan bekal kubur di situs dimaksud merupakan hal yang paling jelas menunjukkan adanya konsep religi di masa Prasejarah. Di dalam prosesnya telah menunjukkan adanya perkembangan dari bentuk yang sederhana ke hal yang lebih kompleks, namun beberapa bagian dari religi lama tampaknya masih dianut hingga ke masa-masa kemudian. Untuk memahami perkembangan religi tersebut, maka identifikasi tinggalan arkeologis, baik yang berupa sisa penguburan kerangka manusia, artefak ataupun fitur menjadi pusat kajian. Dalam konsep religi akan dilakukan pendekatan etnoarkeologi, sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa pemahaman akan religi menggunakan alur induktif yang merupakan bagian dari metode penelitian kualitatif. Sejalan dengan itu dilakukan juga wawancara mendalam dalam upaya mendapatkan konsep-konsep religi lama yang masih dikenal oleh masyarakat Gayo. Metode tersebut akan menghasilkan pemahaman religi dari masa prasejarah hingga kini dan beberapa bagian dari konsepsi lama yang masih dikenal masyarakat dalam konteks religi di masa kini. Kata Kunci: Penguburan, Konsep religi, Prasejarah, Tradisi Abstract. Prehistoric Religion Development: Gayo Communities Tradition. Religion lived out by Gayo communities has been practiced since the prehistoric period. The religion of that period is evidenced from remains of activities, among others from burial remains at Loyang Mendale and Loyang Ujung Karang Sites. Burial patterns and funeral gifts are the most apparent evidences of the existence of religion concept during the prehistoric period. The process shows a development from simple form to more complex ones, but some aspects of ancient religion can still be found in later periods. In an attempt to understand it, identification of archaeological remains in forms of burial remains such as human remains, artifacts, and features are used as the focus of study, and ethnoarchaeological approach will be employed in this study on the concept of religion. Thus, in general it can be said that this attempt to understand religion will use inductive flow, which is part of qualitative research method. Interviews will also be carried out to acquire concepts of ancient religions that are still recognized among the Gayo communities. This method will generate a comprehension on religions from the prehistoric period until nowadays, with ancient conceptions that are still known among contemporary communities. Keywords: Burial, Concept of religion, Prehistory, Tradition
MELACAK KONSEP RELIGI LAMA DARI BERBAGAI FOLKLOR PADA MASYARAKAT NIAS Wiradnyana, Ketut
AMERTA Vol. 26 No. 1 (2008)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Melimpahnya tinggalan arkeologis di Nias memerlukan pemahaman yang baik akan kebudayaan masa lalu. Salah satu unsur budaya yang erat berkaitan dengan tinggalan budaya dimaksud adalah unsur religi. Di dalam religi itu sendiri memiliki konsep-konsep yang sangat sulit di lacak lagi mengingat masyarakat Nias tidak memiliki budaya tulis dan sudah berubahnya religi masyarakat. Dalam upaya memahami tinggalan arkeologis yang ada tersebut maka diperlukan pengetahuan akan konsep-konsep religi yang akan dilacak melalui berbagai folklor yang ada hingga kini. Folklor dimaksud tidak hanya terbatas pada folklor lisan akan tetapi juga folklor bukan lisan (tinggalan materi). Kata kunci: Konsep religi; folklor lisan; folklor bukan lisan   ABSTRACT. Retracing Old Religion Concept from Various Folklores Among The People of Nias. In our attempt to reveal the secrets behind the abundant archaeological remains in Nias, we need to have good comprehension about old culture. One of the cultural elements, which is closely-related to the remains, is religion. Within religion there are concepts that are difficult to retrace because the Nias people do not have written tradition; furthermore, their old religion has changed. Retracing the religion concepts is conducted by studying verbal and non-verbal folklores that survive until now. Keywords: Religion concepts; Verbal folklore; Non-verbalfolklore