Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENCEGAHAN INTOLERANSI, RADIKALISASI, DAN KEKERASAN EKSTRIMISME MELALUI PENDEKATAN TRANSFORMASI GENDER PADA SISWA SMA X JAKARTA DALAM PELATIHAN ONLINE Nisrina Farahana Salsabila Wibowo; Dicky Chresthover Pelupessy
Abdimas Galuh Vol 4, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v4i2.7981

Abstract

Peningkatan dalam kesadaran dan pengetahuan mengenai norma gender, kepatuhan secara kaku, diskusi mengenai definisi ulang norma gender menjadi norma yang sehat, meningkatkan keterampilan sosial dan empati, dan lainnya dalam menerima keberagaman dengan lebih terbuka dan positif sehingga peserta dapat menjadi individu yang lebih toleran. Pelatihan ini diberikan kepada siswa SMA X Jakarta secara online selama 7 sesi, dengan tiap sesi 90 menit. Terdapat 25 peserta yang mengikuti pelatihan ini. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskripif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara narasi dan analisis dokumen yang bersangkutan dengan penelitian ini. Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan psikologis dalam melihat bahaya intoleransi, radikalisme dan ekstrimisme pada siswa SMA X Jakarta. Pelatihan ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan anak muda SMA dengan mengidentifikasi peran gender yang secara aktif dapat mencegah intoleransi, radikalisasi, dan kekerasan ekstrimisme. Agar tercencegah dari paham radikal di kalangan remaja harus dilakukannya  pembinaan terhadap remaja tersebut dengan membentuk suatu komunitas dan komunitas tersebut harus melakukan pelatihan-pelatihan  atau sosialisasi. 
EVALUASI KEBIJAKAN LAYANAN REHABILITASI NARKOTIKA INTERVENSI BERBASIS MASYARAKAT (IBM) DI JAWA BARAT Dian Surtikanthi; Muhammad Syahroni Rofii; Dicky Pelupessy; Palupi Lindiasari
Jurnal Endurance Vol. 8 No. 1 (2023): Jurnal Endurance : Kajian Ilmiah Problema Kesehatan
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jen.v8i1.1910

Abstract

Penyalahgunaan Narkotika telah merambah ke pedesaan, di lain pihak, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menyediakan layanan rehabilitasi. Hal ini sungguh memprihatinkan mengingat dalam beberapa kebijakan pemerintah mengharuskan penyalah guna Narkotika untuk mendapatkan layanan rehabilitasi. Guna mengatasi hal ini, sejak tahun 2020 BNN telah menginisiasi pembentukan 306 Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM). Namun, hanya 13 IBM yang dapat memberikan layanan Prima tahun 2021. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi kebijakan program IBM. Tujuan penelitian adalah memberikan gambaran perbandingan hasil evaluasi kebijakan serta memetakan hambatan pelaksanaan IBM yang dilakukan di dua IBM, yakni IBM terkategorisasi Prima (IBM Mandiri) dengan IBM terkategorisasi Berkembang (IBM Pelita). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif. Teori yang digunakan adalah teori analisis kebijakan dan teori sistem dengan pendekatan evaluasi formal. Dalam pendekatan formal ini, penulis menggunakan tipe evaluasi proses retrospektif dengan teknik evaluasi pemetaan hambatan pada setiap aspek sistem, yakni struktur (input), proses, luaran (output). Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dari hasil wawancara mendalam dan studi literature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan kepedulian yang tinggi dari Kepala desa untuk mendukung program IBM berupa perhatian, dana dan sarana prasarana; pembinaan dan pengawasan BNNP/Kab; serta Agen Pemulihan(AP) yang memiliki kepedulian tinggi terhadap IBM.
Hubungan Antara Protection Motivation dan Perilaku Sharenting di Kalangan Orang Tua Devira Ayusta Putri; Dicky Chresthover Pelupessy
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.229 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i12.11282

Abstract

Perilaku sharenting adalah perilaku orang tua membagikan informasi detail anak dalam bentuk foto, video, atau post di media sosial yang dapat memunculkan dampak negatif bagi anak, sehingga dapat disebut sebagai perilaku non-protektif. Berdasarkan Protection Motivation Theory (PMT), perilaku protektif dimotivasi oleh threat appraisal (threat severity, intrinsic rewards, extrinsic rewards) dan coping appraisal (self-efficacy, response efficacy, response cost). Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah faktor-faktor PMT berhubungan secara signifikan dengan perilaku sharenting di kalangan orang tua. Survei daring dilakukan pada orang tua yang sering membagikan konten anak di media sosial dan sebanyak 67 data terkumpul. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa threat severity berkorelasi negatif secara signifikan dengan perilaku sharenting, sementara intrinsic rewards dan extrinsic rewards berkorelasi positif secara signifikan dengan perilaku sharenting. Self-efficacy, response efficacy, dan response cost tidak ditemukan berkorelasi dengan perilaku sharenting. Hasil penelitian ini kemudian didiskusikan lebih lanjut berdasarkan penelitian sebelumnya serta bagaimana aplikasinya untuk penelitian di masa mendantang.
National Resilience in Regards to Drug Problems: The Effects of Perceived Threat and Sense of Coherence: [National Resilience Dalam Masalah Narkoba: Pengaruh Perceived Threat dan Sense of Coherence] Anita Rahma Yeni; Dicky C. Pelupessy
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.5206

Abstract

National resilience studies discuss citizens' perceptions on the state's ability to manage and overcome national stressors. National resilience also refers to the population's feelings about the government's ability to manage the country. Drug problem is an important issue due to its potential to be a source of problems harming the state. Therefore, this study aims to describe the condition of national resilience in terms of perceived threat and sense of coherence in the context of drug problems. The participants involved were 315 individuals spread across 14 cities or regencies in West Kalimantan, recruited online with an age range of 18-57 years old (mean = 24.18). Data collection utilized survey by a questionnaire of the study instruments, being: (1) National Resilience Scale Short Version (NR-13); (2) Perceived Threat Measurement Items; dan (3) Sense of Coherence Scale - 13 (SOCS-13). Data analysis utilized multiple hierarchical regression analysis. Results of data processing show that perceived threat and sense of coherence significantly predict national resilience. Participants who feel more threatened by drugs tend to have lower national resilience level. Participants with higher sense of coherence also tend to have higher national resilience as well. From the two variables, perceived threat is stronger in the association with national resilience. This study’s findings show that the population's feelings during the crisis greatly influenced their assessment of the government's ability to overcome the crisis. Studi national resilience membahas pandangan warga negara terhadap kemampuan negara menghadapi dan mengatasi stresor nasional. National resilience juga merujuk kepada perasaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah mengelola negara. Masalah narkoba merupakan isu penting karena berpotensi menjadi sumber permasalahan yang merugikan negara. Maka dari itu, studi ini bertujuan menggambarkan kondisi national resilience yang ditinjau dari nilai perceived threat dan sense of coherence dalam konteks masalah narkoba. Partisipan studi sebanyak 315 individu yang tersebar di 14 kota atau kabupaten di Kalimantan Barat, yang direkrut secara daring dengan rentang usia 18-57 tahun (mean = 24,18). Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan bantuan kuesioner instrumen studi, yaitu: (1) National Resilience Scale Short Version (NR-13); (2) Perceived Threat Measurement Items; dan (3) Sense of Coherence Scale - 13 (SOCS-13). Analisis data menggunakan analisis regresi hierarki berganda. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa perceived threat dan sense of coherence berhasil memprediksi national resilience. Partisipan yang merasa bahwa narkoba sangat mengancam cenderung memiliki tingkat national resilience rendah. Partisipan dengan tingkat sense of coherence tinggi juga cenderung memiliki tingkat national resilience tinggi. Dari kedua variabel tersebut, perceived threat lebih kuat berasosiasi dengan national resilience. Temuan studi ini menunjukkan bahwa perasaan masyarakat semasa krisis sangat berpengaruh terhadap penilaian masyarakat terkait kemampuan pemerintah dalam mengatasi krisis tersebut.
Finding ‘My Happy Place’: Promoting Cooperative Behavior through Place Attachment and Place Memory Erlis Manitar; Dicky Chresthover Pelupessy
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 7 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i7.8357

Abstract

This narrative literature review article aims to understand how cooperative behavior in society can be driven by place attachment and place memory. This review integrates international and local findings. Studies in Indonesia, such as Jakarta, Bandung, and Pekalongan, show that emotional experiences, social interactions, and the physical characteristics of public spaces collectively shape place attachment, which ultimately strengthens cooperative behavior. This study contributes to the understanding of place attachment and place memory and recommends the importance of public space design that can support emotional and social engagement within communities.
Explaining Youth Online Disaster Risk Information Seeking In Disaster-Prone Areas: A Case of an Indonesian Coastal Community Amelia Putri; Dicky Chresthover Pelupessy
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 10 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i10.51846

Abstract

This study tested the utility of the Risk Information Seeking and Processing (RISP) model in explaining disaster risk information-seeking intentions among rural youth in Indonesia. Participants (N = 98) completed a survey measuring RISP constructs, including information insufficiency, perceived hazard characteristics, affective response, informational subjective norms, perceived information gathering capacity, and behavioral beliefs. Regression analysis showed that perceived hazard characteristics (β = 0.114, p < .05) and informational subjective norms (β = 0.344, p < .001) were significant predictors of information-seeking intention, while affective response and behavioral beliefs were not significant (p > .05). The RISP model explained 23.6% of the variance in information-seeking intention (R² = 0.236, Adjusted R² = 0.203). Adding gender as a random effect slightly improved model fit (Conditional R² = 0.267), but gender accounted for minimal variance. These findings extend the RISP model to a high-risk, underrepresented population and provide important theoretical and practical insights for designing targeted risk communication strategies to enhance disaster preparedness among youth.