Alvary Exan Rerung
Sekolah Tinggi Theologia Intim Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Orang Tua Dalam Menciptakan Kepercayaan Diri Anak Usia 18 Tahun Menggunakan Teori Psikososial Erik Erikson Alvary Exan Rerung
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2023): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/harati.v3i1.123

Abstract

The purpose of this study was to show the reality of low self-esteem among 18 year olds in Indonesia. This is certainly a dilemma, because self-confidence plays a very important role in interactions that will be carried out in a social environment. Not only that, losing self-confidence can trigger children to experience mental disorders and social anxiety, and can end in cases of suicide. Several aspects show that most children lose confidence in themselves because they receive inappropriate parenting from their parents. Seeing the reality of the problem, this paper uses descriptive qualitative methods, central studies and interviews to provide an understanding of how to apply proper parenting through Erik Erikson's Psychosocial theory. Erikson's theory will show how to treat (raise) children aged 0-1 years, 2-3 years, 3-5 years, 6-13 years, and 14-18 years. This will greatly assist parents in carrying out their role when raising their children. The findings of this study will help parents find out what things need to be done and avoided when raising children at a certain age. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan realitas rendahnya tingkat kepercayaan diri pada anak usia 18 tahun di Indoensia. Hal ini tentu menjadi dilema, sebab kepercayaan diri sangat berperan dalam interaksi yang akan dilakukan di lingkungan sosial. Tidak hanya itu, kehilangan rasa percaya diri dapat memicu anak mengalami gangguang mental dan kecemasan sosial, dan bisa berakhir pada kasus tindakan bunuh diri. Beberapa aspek menunjukkan bahwa sebagian besar anak kehilangan rasa percaya pada dirinya sendiri dikarenakan menerima pola asuh yang kurang tepat dari orang tuanya. Melihat realitas masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, studi pusata dan wawancara hendak memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya menerapkan pola asuh yang benar melalui teori Psikososial Erik Erikson. Teori dari Erikson ini akan memperlihatkan bagaimana seharusnya memperlakukan (mengasuh) anak ketika berusia 0-1 tahun, 2-3 tahun, 3-5 tahun, 6-13 tahun, dan 14-18 tahun. Hal ini akan sangat membantu orang tua dalam melakukan perannya ketika mengasuh anak mereka. Temuan penelitian ini akan membantu para orang tua dalam mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari ketika mengasuh anak pada usia tertentu.
Membaca Narasi Dosa Anak dengan Perspektif John Calvin dari Konteks Gereja Toraja Alvary Exan Rerung; Adelia Paelongan
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v3i1.59

Abstract

Abstract: This research talks about the reality of problems that often occur in the current church area, namely differences in views on a particular subject of study. One example of this is the Toraja Congregation of Sundung Church, which is the location of this research. There are different views that occur in the Toraja Church of the Sundung Congregation about who bears the sins of children who have not received confirmation of sidi. Most church members admit that it is their parents who bear their sins, and only a few reject this view. It is this difference in views that the author will examine using qualitative narrative methods, literature studies and interviews. Because the Toraja Congregation of Sundung Church is a Calvinist sect, this research will also use the narration of John Calvin's theory about child sin. This research aims to provide understanding to the members of the Toraja Congregation of Sundung Church, that according to John Calvin only Jesus Christ is the only human who has no sin and therefore He deserves to bear and atone for human sins.Abstrak: Penelitian ini berbicara tentang realitas masalah yang sering terjadi di dalam wilayah gereja saat ini, yaitu perbedaan pandangan tentang suatu pokok kajian tertentu. Salah satu contohnya yang terjadi di Gereja Toraja Jemaat Sundung yang menjadi lokasi penelitian ini. Ada perbedaan pandangan yang terjadi di Gereja Toraja Jemaat Sundung tentang siapakah yang menanggung dosa anak yang belum menerima peneguhan sidi. Sebagian besar warga gereja mengaku bahwa orang tualah yang menanggung dosa mereka, dan hanya sedikit yang menolak pandangan tersebut. Perbedaan pandangan inilah yang akan diteliti oleh penulis menggunakan metode kualitatif naratif, studi pustaka dan wawancara. Oleh karena Gereja Toraja Jemaat Sundung merupakan aliran Calvinis, maka penelitian ini juga akan menggunakan narasi teori John Calvin tentang dosa anak. Penelitian ini hendak memberikan pemahaman kepada warga Gereja Toraja Jemaat Sundung, bahwa menurut John Calvin hanya Yesus Kristus satu-satunya manusia yang tidak memiliki dosa dan oleh karena itu Dia layak menanggung serta menebus dosa manusia
Menangkal Radikalisme Agama Berdasarkan Paradigma Misi Kristen Yang Berlandaskan Doktrin Allah Trinitas Alvary Exan Rerung
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.213

Abstract

The reality of the number of radicalism in Indonesia is news that creates a dilemma for the diversity in it. In Christianity itself, religious radicalism is also evident when reading the pattern of Christian missions which is based on the text of the Great Commission as an order for Christianity. This pattern of mission also makes other religions increasingly suspicious of Christianity. They are wary of such a pattern of Christian teachings. Especially in Christianity, many say that such a mission is what Jesus wants according to his command in the great commission. Seeing this reality, an effort is needed to be able to see whether these teachings are still in line with the values of Pancasila and the 1945 Constitution which uphold tolerance. This paper uses descriptive qualitative methods and a literature study approach in providing answers to these problems. This paper offers a pattern of Christian missions based on the doctrine of God the Trinity as an effort to counter religious radicalism. This mission pattern sees missions centered on the Trinitarian God and leaves the mission pattern based on the Church. This mission will provide values of tolerance and will be a shield in countering religious radicalism in Indonesia.Realitas angka radikalisme di Indonesia merupakan berita yang membuat dilema bagi kemajemukan yang ada di dalamnya. Pada agama Kristen sendiri, radikalisme agama juga nyata ketika membaca pola misi Kristen yang berlandasakan pada teks amanat agung sebagai perintah kristenisasi.  Pola misi ini juga yang membuat agama-agama lain semakin mencurigai agama Kristen. Mereka was-wasa terhadap pola ajaran agama Kristen yang demikian. Apalagi dalam agam Kristen banyak yang mengatakan misi yang seperti itulah yang Yesus kehendaki sesuai dengan perintahnya dalam amanat agung. Melihat realitas tersebut, maka diperlukan usaha untuk dapat melihat ajaran-ajaran tersebut apakah masih sejalan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945 yang menjunjung tinggi toleransi. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptip dan pendekatan studi pustaka dalam memberikan jawaban atas masalah tersebut. Tulisan ini menawarkan pola misi Kristen yang berlandaskan doktrin Allah Trinitas sebagai upaya untuk menangkal radikalisme agama. Pola misi ini melihat misi yang berpusat pada Allah Trinitas dan meninggalkan pola misi yang berlandaskan pada Gereja. Misi ini akan memberikan nilai-nilai toleransi dan akan menjadi tameng dalam menangkal radikalisme agama di Indonesia.