Sutrisnowati Machdijar Odang
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PUSAT KEBUDAYAAN BETAWI DI RAWA BELONG, JAKARTA BARAT Christina Feny Santono; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21722

Abstract

Rawa Belong located in Kebon Jeruk, West Jakarta is one of the areas with Betawi values ​​that still survive, not only from its history but the Betawi people who still live in Rawa Belong are also still trying to preserve Betawi culture. However, because there are many other sectors that are developing, such as the education sector and industrial development, what is happening is even more focused on providing facilities in these other sectors. In a development, of course, requires a land, because it is more focused on providing other facilities, so that the land used by Betawi culture in the past is decreasing. The Rawa Belong Cultural Center project is a suitable and necessary urban acupunture development in the Rawa Belong area which has limited land for development in the development of its Betawi value sector. It can be seen from the things that need to be considered when building a Cultural Center itself which is in line with the original purpose of urban acupunture. Like paying attention to the value of existing historical references, a cultural center plays an important role in maintaining the values ​​and beliefs of the surrounding community. By using the everyday urbanism method, which is a method that describes an interaction that occurs daily in urban spaces, everyday life is 'very present', but still not separated from the past. Knowing the values ​​that existed in the past will help in tracing to the present and useful in making design decisions. The daily architecture of Rawa Belong shows a social reality that is influenced by the values ​​of Betawi culture which are starting to fade, so we need a place that can evoke the values ​​of everyday Betaw culture that still exist but are closed and starting to be forgotten. With the aim of being able to re-travel and develop the remnants of the Betawi heritage that still survives in Rawa Belong. By taking into account the historical reference values ​​that already exist, a cultural center plays an important role in maintaining the values ​​and beliefs of the people who live in Rawa Belong. As well as being able to contribute to the future with the function to be achieved in the development of this project, it is hoped that the values ​​that were almost lost due to priorities in the development of other sectors can persist and will remain a distinctive feature for Rawa Belong. Keywords: Betawi; Culture Center; Degradation; Urban Acupuncture Abstrak Rawa Belong yang berada di Kebon Jeruk, Jakarta Barat merupakan salah satu area dengan nilai Betawi yang masih bertahan, bukan hanya dari sejarahnya tetapi penduduk Betawi yang masih bertempat tinggal di Rawa Belong juga masih berupaya untuk melestarikan kebudayaan Betawi. Namun karena banyaknya sektor lain yang sedang berkembang seperti pada sektor pendidikan dan industri pembangunan yang terjadi malah lebih terfokus pada penyediaan fasilitas-fasilitas pada sektor lain tersebut. Pada suatu pembangunan tentunya membutuhkan suatu lahan, karena lebih terfokus pada penyediaan fasilitas lain membuat lahan-lahan yang digunakan budaya Betawi dahulu makinlah berkurang. Proyek Rawa Belong Cultural Center ini merupakan pembangunan urban acupunture yang cocok dan diperlukan pada area Rawa Belong yang memiliki lahan terbatas untuk pembangunan pada perkembangan sektor nilai Betawinya. Dapat dilihat dari hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun sebuah cultural center itu sendiri yang sejalan dengan tujuan asli dari urban acupunture. Seperti memperhatikan nilai referensi sejarah yang telah ada, sebuah pusat budaya memainkan peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai dan keyakinan bagi masyarakat sekitarnya. Dengan menggunakan metode everyday urbanism yang merupakan suatu metode yang menjelaskan tentang suatu interaksi yang terjadi sehari- hari di daIam ruang kota, everyday life ini bersifat ‘sangat sekarang’, tapi tetap tidak Iepas dari masa lalu. Jika dapat mengetahui nilai - nilai yang ada pada masa lalu maka akan membantu dalam merunut ke masa sekarang dan berguna dalam mengambiI keputusan desain. Arsitektur keseharian pada Rawa Belong menunjukkan suatu realitas sosial yang dipengaruhi oleh niIai budaya Betawi yang mulai luntur, sehingga diperlukannya suatu wadah yang dapat membangkitkan niIai budaya betaw sehari-hari yang masih ada namun tertutup dan mulai dilupakan. Dengan tujuan untuk dapat kembali menelusuri dan mengembangkan lagi sisa-sisa warisan Betawi yang masih bertahan di Rawa Belong. Dengan memperhatikan nilai referensi sejarah yang telah ada, sebuah pusat kebudayaan memainkan peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai dan keyakinan bagi masyarakat yang bertempat tinggal di Rawa Belong. Serta dapat berkontribusi untuk masa depan dengan fungsi yang ingin di capai dalam pembangunan proyek ini, diharapkan nilai-nilai yang tadinya hampir hilang karena prioritas pada pembangunan sektor lain dapat tetap bertahan dan akan tetap menjadi ciri khas tersendiri bagi Rawa Belong.
PENERAPAN TEKNIK AKUPUNTUR KOTA TERHADAP PUSAT OLAHRAGA DAN REKREASI SEBAGAI RUANG KETIGA DI TEPI DANAU SUNTER Marviera Liandry; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21723

Abstract

Lake Sunter, a sports and recreation center area in Sunter, is determined to be the acupoint in this area. East and West Sunter Lakes are a unit that has a function as a sports and recreation facility which is also adjacent to Gelora Sunter where the building supports indoor sports. As a unified area that has the same function, access for pedestrians is still considered lacking because it is separated by a highway with various types of vehicles passing by. Urban Acupuncture is an approach to provide solutions to problems in urban areas, including the problems found in the Lake Sunter area as a center for sports and recreation. By providing a sports center facility equipped with a "Third Place" such as the Food Library, Forest Café, swimming pool facilities, and art galleries. This facility is expected to be able to alleviate problems in sports and recreation center facilities in the area around Lake Sunter. Therefore, the analysis is carried out with reference points in the area around the Sunter Lake area to obtain a program that is considered suitable and able to alleviate or overcome problems around this area. This study uses a descriptive analysis method by examining literary sources which are then described and explained the research objects related to the problem being studied. Keywords:  sunter lake; third place; urban acupuncture Abstrak Danau Sunter, sebuah kawasan pusat olahraga dan rekreasi di Sunter, ditentukan untuk menjadi titik akupuntur pada kawasan ini. Danau Sunter Timur maupun Barat merupakan suatu kesatuan yang memiliki fungsi sebagai sarana olahraga dan rekreasi yang juga berdekatan dengan Gelora Sunter dimana bangunan tersebut menunjang olahraga yang dilakukan didalam ruangan. Sebagai sebuah kesatuan area yang memiliki fungsi yang sama, akses bagi para pejalan kaki masih dianggap kurang karena dipisahkan oleh jalan raya dengan berbagai jenis kendaraan yang lalu lalang. Teknik Akupuntur Kota (Urban Acupuncture) merupakan suatu pendekatan untuk memberikan solusi terhadap masalah di perkotaan, termasuk masalah yang terdapat pada kawasan Danau Sunter sebagai pusat olahraga dan rekreasi. Dengan memberikan sebuah fasilitas pusat olahraga yang dilengkapi dengan “Tempat Ketiga (Third Place)”  seperti Food Library, Forest Café, sarana kolam renang, dan galeri seni. Fasilitas ini diharapkan mampu meringankan permasalahan pada sarana pusat olahraga dan rekreasi di kawasan sekitar Danau Sunter. Oleh karena itu, anaIisis dilakukan dengan titik acuan pada area di sekitar kawasan Danau Sunter untuk mendapatkan sebuah program yang dinilai cocok dan mampu meringankan ataupun mengatasi permasalahan di sekitar kawasan ini. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan mengkaji sumber Iiteratur yang kemudian dideskripsikan dan menjelaskan objek-objek peniIitian yang bersangkutan dengan permasaIahan yang sedang diteliti.
PENGEMBANGAN BUDAYA DAN SEJARAH PELABUHAN SUNDA KELAPA PADA ERA MODERN Lee Gemmy Geminius; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21726

Abstract

Sunda Kelapa Harbor is one of the oldest ports in Indonesia, and is the forerunner of the formation of the City of Jakarta. Initially, Sunda Kelapa Harbor was a port of the Pajajaran Kingdom at the Ciliwung estuary, which later developed into the City of Jakarta. Until now, this port still functions as a port that serves traditional ships, namely inter-island transportation in Indonesia. Unfortunately only this area is now an industrial place, even though in the Sunda Kelapa area it has high historical values. Therefore, new media is needed to raise and develop historical values ​​in this area. Qualitative method as a method of collecting data. With the concept of culture and tourism development aims to develop the Sunda Kelapa port area into a tourist area so that it can embrace local wealth in the form of traditional cultural and historical industries as potential for area recovery. Keywords: Culture; History; Sunda Kelapa Abstrak Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan tertua yang ada di Indonesia, dan merupakan awal terbentuknya Kota Jakarta. Pada awalnya, Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran di muara Ciliwung, yang kemudian berkembang menjadi Kota Jakarta. Sampai sekarang,..pelabuhan ini masih berfungsi sebagai pelabuhan yang melayani kapal-kapal tradisional, yaitu angkutan antar pulau di Indonesia. Sayangnya kawasain ini sekarang hanya menjadi tempat industri saja padahal daerah sunda kelapa memiliki nilai sejarah yang tinggi.Sehingga dari itu maka diperlukan suatu media baru untuk mengangkat dan mengembangkan nilai sejarah pada kawasan ini.Metode kualitatif digunakan sebagai metode untuk mengumpulkan data.Dengan konsep cultural dan tourism development bertujuan mengembangakn wilayah pelabuhan sunda kelapa menjadi daerah wisata.sehingga dapat merangkul kekayaan lokal berupa industri tradisional budaya dan sejarah sebagai potensi pemulihan Kawasan.
PUSAT PERTANIAN DI SUNTER, JAKARTA UTARA Maria Maureen; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21728

Abstract

With a fixed amount of land and an increasing number of people, the government needs more residential land, by shifting the function of green land to be industrialized, especially in urban areas. This had such an impact on the farmers that the majority of the urban farmers retreated and went out of business. With the study of the Urban Acupuncture literature crossed with the decline in urban agriculture, this project intends to stimulate agricultural areas affected by the shift in land use above by using a system from the community for the community to revive the soul and surrounding habits that are starting to fade, namely agriculture, especially in the Sunter area, Jakarta Utara. With the location of the building which coincides with the JIS (Jakarta International Stadium) this project is intended to be a stimulus for the agricultural sphere as well as recreation to complement the JIS in the Sunter area. With the results as an outline of agriculture x Recreation, this project contains vertical agricultural land with various systems that support seeds, planting to sales management and also recreation which contains canteens, bazaars and communal areas to distribute more agricultural knowledge, bring people closer together and become a complementary recreation area for JIS itself. By becoming a link between the degradation of conventional urban agriculture with modern agriculture, it is hoped that in the future, this Agricultural Center project can be a driving force for the urban agricultural system to better adapt to the times. Keywords: Urban  Acupuncture; Shifting Agricultural Land; Agricultural Center; Sunter Abstrak Dengan jumlah lahan yang tetap dan jumlah manusia yang kian bertambah, pemerintah membutuhkan lebih banyak lahan perumahan, dengan menggeser fungsi lahan hijau untuk diindustrialisasikan khususnya di perkotaan. Hal ini sangat berdampak bagi para petani sehingga mayoritas petani kota mundur dan menggulung tikar. Dengan kajian literatur Urban Acupuncture yang disilangkan dengan menurunnya pertanian perkotaan, proyek ini bermaksud menstimulasi kawasan pertanian yang terdampak pergeseran fungsi lahan diatas dengan menggunakan sistem dari masyarakat untuk masyarakat untuk menghidupi kembali jiwa serta kebiasaan sekitar yang mulai memudar yakni pertanian khususnya di daerah Sunter Jakarta Utara. Dengan lokasi bangunan yang bertepatan dengan JIS (Jakarta International Stadion) proyek ini dimaksudkan untuk menjadi stimulain bagi lingkup pertanian serta menjadi rekreasi untuk melengkapi adanya JIS di kawasan Sunter ini. Dengan hasil sebagai garis besar pertanian x Rekreasi, proyek ini berisikan lahan pertanian vertikal dengan berbagai sitem yang menunjang bibit, tanam hingga management penjualan dan juga rekreasi yang dimana berisikan kantin, bazar dan area komunal guna mendistribusikan lebih lagi pengetahuan pertanian, mendekatkan masyarakat antar masyarakat dan menjadi area rekreasi pelengkap JIS ini sendiri. Dengan menjadi penyambung antara degradasi pertanian perkotaan konvensional dengan pertanian modern, diharapkan kedepannya, proyek Pusat Pertanian ini dapat menjadi pendorong sistem pertanian perkotaan untuk lebih beradaptasi dengan perkembangan zaman.