James Erich D. Rilatupa
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

REVITALISASI EKS BANDARA KEMAYORAN Alvin Rivaldo Ngaginta; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21731

Abstract

Urban acupuncture is a method applied to revive a particular area through local internventions; This intervention is believed to act as a catalyst which could bring a previously dead or damaged back to life. Kemayoran International Airport was the first international airport in Indonesia, which operated from 1940 to 1985, when the Soekarno Hatta airport was opened. Now all that is left is an abandoned building, which holds a historical value with the potential of re-development and should be preserved accordingly. Despite being located in quite a crowded area, the condition of the building creates an unappealing atmosphere to its surroundings. Therefore, this project aims to revive the building previously known as Kemayoran airport, to fulfill the potential that it holds, by using the adaptive reuse method which is supported by architectural technologies for realization, in hopes that this would result in the increase of crowd numbers, therefore supporting the economic conditions of nearby areas. The main program included in this building was an aviation museum which tells the history of Kemayoran airport at its glory; Moreover, this building also includes a co-working space and a community center, as a respond to the vision of PPPK which is to make the area into a business district. With this revitalization, it is hoped that the former Kemayoran Airport can function again and have a positive impact on its surroundings. Keywords: Adaptive Reuse; Architectural Technology; Aviation Museum; Kemayoran Airport; Revitalization; Urban Acupuncture Abstrak Urban acupuncture merupakan metode yang diaplikasikan untuk menghidupkan kembali suatu kawasan melalui intervensi lokal; Intervensi ini diharapkan untuk berfungsi sebagai katalistor yang dapat menghidupkan kembali kawasan yang sudah mati atau rusak. Bandar Udara Internasional Kemayoran merupakan bandara internasional pertama di Indonesia, yang resmi beroperasi dari tahun 1940 sampai 1985, pada saat bandara Soekarno-Hatta dibuka. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan terbengkalai, sedangkan bangunan tersebut sebenarnya memiliki nilai historis yang seharusnya dipelihara selayaknya dan berpotensi untuk dikembangkan kembali. Walaupun berada di kawasan yang cukup ramai dengan pengunjung, tetapi kondisi bangunan tersebut membuat suasana sekitar menjadi kurang mengenakan. Maka dari itu, proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali bangunan eks Bandara Internasional Kemayoran sesuai dengan potensi yang dimilikinya, dengan menggunakan metode adaptive reuse yang didukung dengan teknologi arsitektur untuk merealisasikannya, dengan harapan bahwa hasil dari revitalisasi ini akan meningkatkan jumlah pengunjung yang akan membantu perekonomian kawasan sekitar. Program utama yang terdapat dari bangunan ini merupakan museum aviasi yang menceritakan sejarah bandara Kemayoran pada masa kejayaannya; Selain dari itu, pada bangunan ini juga terdapat co-working space dan community center, sebagai respon dari visi PPPK yang akan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan bisnis. Dengan adanya revitalisasi ini diharapkan Eks Bandara Kemayoran dapat berfungsi kembali dan membawa dampak positif terhadap sekitarnya.
TEMPAT PENGOLAHAN PERIKANAN ADAPTIF DI PASAR IKAN MUARA ANGKE, JAKARTA Christopher Julio Kurniawan; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21739

Abstract

DKI Jakarta is predicted to sink in 2050 which causes frequent tidal floods. The area of North Jakarta which borders the sea has a major impact on sea level rise.The Fish Market in Muara Angke is located in Penjaringan,Jakarta.The Notrch,which is the place for processing the fishery sector,often gets tidal floods that cannot be predicted when it will come.Whereas in Muara Angke almost the majority of the population works in the fishery sector and this area has great potential for development.In addition,the Muara Angke area is famous for processing fisheries into processed products,especially dried fish,but the process still uses conventional methods,namely relying on direct sunlight.The author will use the Urban Acupuncture approach to identify problems in architectural design in an effort to create Fish Market buildings and fish processing places that are able to adapt to the environment and pay attention to the locality of the existing area with structural design,use of sustainable technology and material selection and design programs which can support the sustainability of trade and services to increase the role of the fish market in the Muara Angke area so that in the future it can develop and be able to adapt to areas that often occur during floods.ebb and flow of sea water.The method used is to study literature studies,collect data with electronic media sources to understand the project and the author also conducts field surveys to collect data that becomes the design guideline. Keywords: Adaptive Architecture; Fish Market; Fish Processing; Localicm; Urban Acupuncture Abstrak DKI Jakarta di prediksi akan tenggelam pada tahun 2050 yang menyebabkan sering kali terjadinya banjir pasang surut air laut.Daerah Jakarta Utara yang berbatasan dengan laut ini mempunyai dampak yang besar terhadap kenaikan permukaan air laut tersebut.Pasar Ikan di Muara Angke terletak pada Kecamatan Penjaringan,Jakarta Utara yang merupakan tempat pengolahan sektor perikanan ini sering kali mendapatkan banjir pasang surut air laut yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya.Padahal di Muara Angke hampir mayoritas penduduknya bekerja dalam sektor perikanan dan kawasan ini mempunyai potensi besar dalam perkembangannya. Selain itu Kawasan Muara Angke terkenal dengan tempat pengolahan perikanan menjadi produk olahan terutama ikan kering,namun prosesnya masih menggunakan cara konvensional yaitu mengandalkan sinar matahari langsung.Banjir telah menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan menyebabkan kondisi Pasar Ikan yang di gunakan sebagai fasilitas masyarakat untuk berjualan menjadi terganggu.Penulis akan menggunakan pendekatan Akupuntur Perkotaan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pada perancangan arsitektur dalam upaya menciptakan bangunan Pasar Ikan dan tempat pengolahan perikanan yang mampu beradaptasi pada lingkungan dan memperhatikan lokalitas kawasan yang ada dengan rancangan struktur,penggunaan teknologi berkelanjutan dan pemilihan material serta merancang program-program yang dapat mendukung keberlangsungan perdagangan dan jasa untuk meningkatkan peran pasar ikan di Kawasan Muara Angke ini agar kedepannya dapat berkembang dan dapat beradaptasi dengan kawasan yang sering terjadi banjir pasang surut air laut.Metode yang digunakan adalah dengan mempelajari studi literatur,pengumpulan data dengan sumber media elektronik untuk memahami proyek serta penulis juga melakukan survey lapangan untuk pengumpulan data yang menjadi pedoman perancangan.
PERANCANGAN ‘ACTIVE MOBILITY HUB’ SEBAGAI DAMPAK MENINGKATNYA KEPADATAN KENDARAAN BERMOTOR DI AREA SEKITAR STASIUN KERETA API MEDAN Gilbert Kholin; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21740

Abstract

The increase in vehicle density has become an increasingly concerning problem in regards to the degradation of our environment. Therefore, the design of an Active Mobility Hub that centralizes various public transportations at a main transit point in one of the most densely populated areas in Medan, especially with emphasis on the use of bicycles and pedestrians, aims to reduce the need for locals to use personal vehicles as much as possible.. The method used for designing is qualitative, comparative, primary and secondary in nature, in which the author will collect various informations to be analyzed and synthesized using selected indicators in order to produce a design that will answer the research questions and obtain results necessary for research objectives. The resulting design is located around Medan’s Train Station area, precisely on Jalan Jawa, which has a very high level of vehicle density. Some of the programs that will be provided in this Active Mobility Hub are Hub Area, Bicycle Supporting Facilities, Park, Charge and Walk Center, Integrated Transit Station, Service Area, and Operational Area. The design method used to produce the final building composition is a metaphorical method, in which the shape of the final building is formed from the exploration of the basic shape of a bicycle to represent the emphasis on the use of bicycles, as well as the mobility aspect of the building's function as an Active Mobility Hub. Design engineering aspects in the building are also presented through the application of Pivoting Walls, Dome Hatch, etc. Through this design, it is expected that the high amount of vehicle density around the area of Medan’s Train Station could be significantly reduced, and to reduce the traffic jam in that area as well. Keywords:  Bicycle; Medan’s Train Station; Transit Hub; Vehicle Density Abstrak Kepadatan kendaraan bermotor yang semakin meningkat telah menjadi sebuah masalah degradasi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Oleh karena itu, perancangan Active Mobility Hub yang mengumpulkan berbagai kendaraan umum pada sebuah titik transit di salah satu area dengan kepadatan paling tinggi di Kota Medan, serta dengan penekanan lebih terhadap penggunaan sepeda dan pejalan kaki, bertujuan untuk mengurangi keperluan bagi masyarakat sekitar untuk menggunakan kendaraan pribadi. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode kualitatif, metode komparatif, dan metode pengumpulan data primer dan sekunder, dimana berbagai informasi akan dikumpulkan untuk dianalisis dan disintesakan menggunakan indikator-indikator yang terpilih supaya dapat menghasilkan sebuah hasil perancangan yang akan menjawab pertanyaan riset dan mendapatkan hasil dari tujuan riset. Hasil perancangan yang dimaksud mempunyai tapak yang terletak di sekitar daerah Stasiun Kereta Api Medan, tepatnya di Jalan Jawa, dengan tingkat kepadatan kendaraan yang sangat tinggi. Beberapa program yang disediakan pada perancangan ini adalah seperti Hub Area, Bicycle Supporting Facilities, Park, Charge and Walk Centre, Integrated Transit Station, Area Servis, dan Area Operasional. Metode desain yang digunakan untuk menghasilkan gubahan akhir adalah metode metafora, dimana bentuk bangunan yang dihasilkan merupakan eksplorasi desain dari bentuk dasar sebuah sepeda untuk merepresentasikan penekanan tujuan terhadap penggunaan sepeda, dan juga aspek mobilitas dari fungsi bangunan sebagai sebuah Active Mobility Hub. Aspek rekayasa desain di bangunan juga dihadirkan melalui adanya penerapan Pivoting Walls, Dome Hatch, dll. Melalui perancangan tersebut, diharapkan bahwa masalah kepadatan kendaraan yang tinggi pada daerah Stasiun Kereta Api Medan tersebut dapat berkurang secara signifikan, sekaligus dapat mengurangi kemacetan di daerah tersebut.
RESPON ARSITEKTUR TERHADAP DEGRADASI LAHAN PERTANIAN KAWASAN KEMBANGAN MELALUI PERTANIAN PERKOTAAN VERTIKAL Fatin Nurlia Sari Dewi; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21741

Abstract

Kembangan has a history as an area where the majority of the people's livelihoods are farmers. Kembangan District is one of the sub-districts located in West Jakarta. The current phenomenon is the development of the Kembangan area causing the issue of the agricultural land crisis. The conversion of agricultural green land into other functions continues to occur along with the development of the city. Degradation of agricultural land will have an impact on the loss of the identity of the Kembangan area as an agricultural area and if it continues to increase it can cause food security problems in an area. The method used in this study is a descriptive method by looking at the current facts regarding the degradation of agricultural land in the Kembangan sub-district. The limitation of the research with a city acupuncture approach is that it takes a radius of 3000 meters from the selected area. The design method takes the symbiotic architectural method by analyzing the continuity of history and the needs of current program activities first. The symbiotic architectural method is used to incorporate agricultural programs into urban activities. The aim of this paper is to find an urban agricultural design that adapts to the characteristics of the city. The formation of mass composition takes the metaphorical exploration method of leaf chloroplast geometry. The conclusion obtained from the results of this study is that one way to develop the agricultural industry to maintain food security in the midst of the land crisis is through vertical urban agriculture that adapts architectural engineering technology. Keywords: metaphor architecture; symbiotic architecture; agricultural land degradation; food security Abstrak Kawasan Kembangan memiliki sejarah sebagai kawasan yang mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai petani. Kecamatan Kembangan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Jakarta Barat. Fenomena yang terjadi saat ini adalah perkembangan kawasan Kembangan menyebabkan isu krisis lahan pertanian. Alih fungsi lahan hijau pertanian menjadi fungsi lain terus terjadi seiring perkembangan kota. Degradasi lahan pertanian akan berdampak pada hilangnya identitas kawasan Kembangan sebagai kawasan pertanian dan apabila terus meningkat dapat menyebabkan permasalahan ketahanan pangan suatu kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif dengan melihat fakta yang terjadi saat ini terkait degrasi lahan pertanian di kecamatan Kembangan. Batasan penelitian dengan pendekatan akupuntur kota mengambil radius 3000 meter kawasan terpilih. Metode desain mengambil metode aritektur simbiosis dengan menganalisis kesinambungan sejarah dan kebutuhan aktivitas program saat ini terlebih dahulu. Metode arsitektur simbiosis digunakan untuk memasukan program pertanian ke dalam aktivitas kota. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah untuk menemukan desain pertanian perkotaan yang menyesuaikan karakteristik kota. Pembentukan gubahan massa mengambil metode metafora eksplorasi geometri bentuk kloroplas daun. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian ini adalah salah satu cara mengembangkan industri pertanian untuk menjaga ketahanan pangan ditengah isu krisis lahan melalui pertanian perkotaan vertikal yang mengadaptasi rekayasa teknologi arsitektur.
KANTOR STARTUP INCUBATOR UNTUK MEMBANTU PERUSAHAAN STARTUP SERTA UMKM YANG TERDAMPAK PANDEMI COVID-19 DI JELAMBAR, JAKARTA BARAT Raynaldi Ariano Harliman; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21748

Abstract

A covid-19 pandemic that has been going since the last 2 years has made startup companies and SME that haven’t prepared to face crisis such as this collapse. It happened because the lack of place that gives education for them. This pandemic also indirectly  require us to live along with it. Therefore, a new room configuration that can give safety and comfort for the users while goin to a public space is needed and on this case an office space. To get around this, so a ‘startup incubator’ is made with the reason to give hope for startup companies and SME in Jelambar, Grogol Petamburan. This study is using trans programming as it’s method to produce a design concept of a place for education which in this case a ‘startup incubator’. The design was done by using the habit and behaviour of millennial generation which the majority of them creates the startup companies and SME as reference. In the future, this place can be the place for the new companies to maximize their potential. Keywords:  covid-19; millennial generation; startup; SME Abstrak Pandemi covid-19 yang sudah melanda 2 tahun terakhir telah membuat perusahaan-perusahaan ‘startup’ maupun UMKM yang tidak siap menghadapi krisis seperti ini kolaps. Hal ini terjadi karena kurangnya wadah edukasi bagi pelaku usaha ‘startup’ maupun UMKM di kawasan Jelambar, Grogol Petamburan. Pandemi ini juga secara tidak langsung mengharuskan kita untuk hidup berdampingan dengan virus tersebut, karena itu dibutuhkan sebuah konfigurasi ruang baru yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna ketika berada di ruang publik dalam hal ini bangunan kantor. Untuk menyiasati keadaan ini, maka dibuatlah sebuah ‘startup incubator’ yang memiliki tujuan utama untuk memberikan harapan bagi pelaku usaha ‘startup’ serta UMKM di kawasan Jelambar, Grogol Petamburan. Studi ini menggunakan metode trans-programming untuk menghasilkan sebuah konsep perancangan wadah edukatif yang berupa ‘startup incubator’. Perancangan dilakukan dengan menggunakan kebutuhan dan perilaku generasi Y atau milenial yang mayoritas merupakan pelaku usaha ‘startup’ sebagai acuan. Wadah ini kedepannya mampu menjadi sarana bagi perusahaan-perusahaan baru untuk memaksimalkan potensi mereka.
POTENSI RELOKASI PKL KEBON KACANG SEBAGAI LAPANGAN KERJA YANG LAYAK DENGAN KONSEP MOVEABLE ARCHITECTURE DI JALAN TELUK BETUNG BOULEVARD Alexander Jaya Kusli; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24262

Abstract

The addition of street vendors or PKL in metropolitan cities in Indonesia is increasing over time. The existence of these street vendors is often described with negative impressions. One of them is the existence of Kebon Kacang street vendors or better known as “GI Side” street vendors. This roadside hawker plays an important role in the survival of the area and the daily life of its people. Therefore, DKI Jakarta Government's decision to evict the Kebon Kacang street vendors in early 2023 is considered unethical and detrimental to many parties. Through this research, the authors conducted a study through an empathetic architectural approach to find the best solution for the Kebon Kacang street vendors. From the results, the proposed solution was in the form of a Kebon Kacang street vendor relocation project which was previously located on Jl. Kebon Kacang Raya to Jl. Teluk Betung Boulevard which is located not far from the initial location. The relocation of street vendors is considered to be able to solve the problems while still being empathetic to the needs of traders and the community. In addition, to overcome the problem of land prices that are not proportional to the income, Moveable Architecture concept is applied in the design to create projects that are non-permanent and help project and site flexibility. Taking into account of robustness, resistance to climate and weather, as well as efficiency in the moving process, the resulting project uses shipping container as the main module in forming the mass compositions. Keywords:  culinary; moveable architecture; relocation; shipping container; street vendor Abstrak Penjamuran pedagang kaki lima atau PKL di kota-kota metropolitan di Indonesia seiring waktu semakin meningkat. Keberadaan PKL ini sering kali digambarkan dengan kesan negatif. Salah satu diantaranya adalah keberadaan PKL Kebon Kacang atau yang lebih dikenal sebagai PKL “Samping GI”. Kawasan jajanan pinggir jalan ini berperan penting dalam kelangsungan hidup kawasan serta kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Oleh karena itu, keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan penggusuran PKL Kebon Kacang pada awal tahun 2023 dinilai tidak etis dan merugikan banyak pihak. Melalui penelitian ini, penulis melakukan studi melalui pendekatan arsitektur empati untuk menemukan solusi terbaik bagi para PKL Kebon Kacang. Dari hasil studi, penyelesaian yang diajukan berupa proyek relokasi PKL Kebon Kacang yang sebelumnya berada di Jl. Kebon Kacang Raya ke Jl. Teluk Betung Boulevard yang terletak tidak jauh dari lokasi awal. Relokasi PKL dinilai dapat menyelesaikan permasalahan yang ada namun tetap berempati terhadap kebutuhan para pedagang dan masyarakat sekitar. Selain itu, untuk mengatasi permasalahan harga tanah yang tidak sebanding dengan pendapatan pedagang, konsep Arsitektur Bergerak diterapkan dalam desain untuk menghasilkan proyek yang bersifat non-permanen dan membantu fleksibilitas proyek dan tapak. Dengan mempertimbangkan faktor kekokohan, ketahanan terhadap iklim dan cuaca, serta efisiensi dalam proses perpindahan, proyek yang dihasilkan menggunakan modul kontainer sebagai modul utama dalam pembentukan gubahan massa.  
RETHINKING TYPOLOGY DESAIN RUANG KERJA DENGAN PENDEKATAN PANCA INDERA Jason Brilliando; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24263

Abstract

Over time, the trend of working remotely, or what is commonly known as remote working is increasing. Work is an effort made to make a living from a financial standpoint. When working, workers often experience stress. A survey conducted by SIRCLO in October 2020 showed that around 50% of workers in Indonesia experience stress during WFH activities. The high number of work stress that occurs makes the issue of work stress cannot be ignored. The latest workspace design typologies, developing technology, and the internet have led to the option of working remotely so the need for flexible workspaces for workers and workers' welfare conditions are the main considerations in this era. However, the fact that 50% of workers experience work stress indicates that the workspace design is not optimal. The purpose of this writing is to create a workspace design that can relieve work stress and increase work productivity with a five-sensory approach. Humans can feel the space around them because of the five senses that receive information, such as color, sound, texture, temperature, darkness, and light space. This information will be received by the brain and affect emotions. The design method used is the multisensory design method and rethinking typology to assist the authors in producing designs. The research was conducted using qualitative research methods with the hope of finding office design elements to update existing standards. Keywords:  multi-sensory; remote workers; stress; typology; work space Abstrak   Seiring berjalannya waktu, tren bekerja jarak jauh atau yang biasa dikenal dengan remote working semakin meningkat. Bekerja adalah usaha yang dilakukan untuk menyambung kehidupan dari sisi finansial. Saat bekerja, pekerja sering kali mengalami stres. Survei yang dilakukan oleh SIRCLO pada bulan Oktober 2020 menunjukkan bahwa sekitar 50% pekerja di Indonesia mengalami stres selama kegiatan WFH. Tingginya angka stres kerja yang terjadi membuat isu stres kerja tidak dapat diabaikan. Tipologi desain ruang kerja terkini, teknologi dan internet yang berkembang menyebabkan opsi bekerja jarak jauh sehingga perlunya ruang kerja yang fleksibel bagi pekerja dan kondisi kesejahteraan pekerja menjadi pertimbangan utama pada era ini. Namun, fakta bahwa 50% pekerja mengalami stres kerja menunjukkan bahwa desain ruang kerja belum optimal. Tujuan penulisan ini adalah membuat desain ruang kerja yang dapat meredakan stres kerja dan meningkatkan produktivitas kerja dengan pendekatan panca indera. Manusia dapat merasakan ruang di sekitarnya karena panca indera yang menerima informasi, misalnya warna, suara, tekstur, suhu, gelap dan terang suatu ruang. Informasi-informasi tersebut akan diterima oleh otak dan memberikan pengaruh terhadap emosi. Metode desain yang digunakan adalah metode multisensory design dan rethinking typology untuk membantu penulis dalam menghasilkan desain. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan harapan menemukan elemen perancangan kantor untuk memperbaharui standar yang ada.