Himaladin Himaladin
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERANCANGAN FASILITAS INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI PENYELESAIAN KONFLIK RUANG JALAN DI PERMUKIMAN MATRAMAN Alexandra Clarissa Alverina; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21749

Abstract

of the district consist of residential area in which each sector is gateless and the houses are located directly on the edge of a local road. The high building density of the district create less space for the community to interact and carry out activities resulting these activities to be carried out on the streets. This sequence of activities create conflict with the function of the road resulting road degradation. This degradation happened due to the overloading activities that disturbs the actual function of the road as a transportation network. As a response in solving this conflict, a separation and allocation of people’s interaction and activities with the function of road were conducted therefore hinders these two sets of activities from causing a conflict. By raising this issue, this project offers a solution by building a social space facility in five different places in Asam Gede, Matraman which work as both central and sectoral solution as a form of Urban Acupuncture solution. By using Programmatic Density methods as the architectural design approach, this project serves as third place which combines both existing and new activities as the activity programme.  These social space nodes work as a forum for community activities whether it’s intentional or unintentional. Keywords:  Facility; Matraman; Road; Social Interaction;  Spatial Road Conflict; Road Degradation; Social Space Abstrak Matraman merupakan kawasan dengan kepadatan penduduk dan bangunan yang tinggi. Delapan puluh lima persen dari kawasan Matraman merupakan area dengan fungsi hunian dengan tipe hunian tanpa portal perumahan, sehingga rumah-rumah terletak langsung di tepi jalan lokal. Padatnya bangunan membuat minimnya ruang bagi masyarakat untuk berinetraksi dan beraktivitas sehingga aktivitas tersebut dilakukan pada jalan-jalan lokal. Bertemunya aktivitas interaksi masyarakat dan fungsi jalan sebagai jaringan kendaraan menimbulkan konflik yang menyebabkan degradasi ruang jalan. Degradasi ruang jalan ini terjadi karena overloading activities yang menghambat fungsi jalan sebenarnya sebagai jaringan transportasi. Oleh karena itu, sebagai respon penyelesaian konflik dilakukan pemisahan dan alokasi aktivitas interaksi masyarakat dengan fungsi jalan sehingga kedua rangkaian aktivitas tersebut tidak menyebabkan konflik. Dengan mengangkat isu ini, proyek ini menawarkan respon penyelesaian dengan membuat fasilitas area sosial (social space) pada lima titik di area Asam Gede, Matraman yang bekerja sebagai area penyelesaian pusat maupun sektoral sebagai bentuk solusi Urban Akupuntur. Pendekatan perancangan arsitektur menggunakan metode Programmatic Density sebagai tempat ketiga yang menggabungkan rangkaian kegiatan eksisting maupun tambahan yang ada sebagai program kegiatan tempat aktivitas ketiga. Titik-titik social space ini menjadi wadah aktivitas masyarakat baik yang bersifat terencana (intentional) dan tidak terencana (unintentional).
PERANCANGAN TEATER PADA KAWASAN MARUNDA UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN LINGKUNGAN YANG MENGALAMI INDUSTRIALISASI Stephanie Calista Indriyanthi; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21750

Abstract

Marunda is one of the urban villages in North Jakarta that is currently undergoing industrialization. This happens because of the very good potential of Marunda in the export-import sector due to its proximity to the Java Sea. This incident caused Marunda to experience degradation, especially physically and socially, which triggered Marunda to experience a loss of regional identity. Marunda used to be an ordinary residential area, has now turned into a dense industrial area, so that human needs especially in the entertainment sector in the Marunda area are gradually being forgotten and replaced by an industrial environment that forces people to work continuously. Therefore, we need a place or area that can accommodate all the entertainment activities of the Marunda community outside of the daily industrial activities. This project offers a response to solving problems in Marunda by creating an entertainment area in the form of a theater and developing an area around the site that is focused on the commercial and residential sectors as a form of Urban Acupuncture solutions. The architectural method approach used is the Mixed Programming method, which aims to combine all the programs that are not owned by Marunda into one design area. This project will be a place of entertainment for the people of Marunda and can be a magnet to revive the Marunda area. Keywords:  environmental problems; industrialization; Marunda; theater Abstrak Marunda merupakan salah satu kelurahan di Jakarta Utara yang saat ini sedang mengalami industrialisasi. Hal ini terjadi melihat potensi dari Marunda yang sangat baik dalam bidang eksport - importdikarenakan letaknya yang berdekatan dengan Laut Jawa. Dengan terjadinya peristiwa ini menyebabkan Marunda mengalami degradasi, khususnya dalam fisik maupun sosial yang memicu Marunda mengalami kehilangan identitas kawasan. Marunda yang dulunya merupakan area perumahan biasa sekarang berubah menjadi area industri yang padat, sehingga kebutuhan manusia khususnya dalam bidang hiburan pada area Marunda sedikit demi sedikit mulai terlupakan dan digantikan menjadi lingkungan industri yang memaksa masyarakatnya untuk terus menerus bekerja. Oleh karena itu dibutuhkannya suatu tempat atau area yang bisa menampung seluruh aktivitas hiburan masyarakat Marunda di luar aktivitas Industri yang setiap hari. Proyek ini menawarkan respon untuk menyelesaikan masalah pada Marunda dengan memunculkan area hiburan berupa teater dan melakukan pengembangan area sekitaran tapak yang difokuskan dalam sektor komersial dan hunian sebagai bentuk solusi Urban Akupuntur. Pendekatan metode arsitektur yang digunakan merupakan metode Mixed Programming yang bertujuan untuk menggabungkan semua program - program yang belum dimiliki pada Marunda masuk ke dalam satu area perancangan. Proyek ini akan menjadi tempat hiburan untuk masyarakat Marunda dan dapat menjadi magnet penarik untuk meramaikan kembali kawasan Marunda. 
HUNIAN PALIATIF YANG BERKUALITAS DI LINGKUNGAN RUMAH SAKIT DHARMAIS Vanessa Maria Liemdra; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21751

Abstract

Dharmais Cancer Hospital is surrounded by many residences that have been converted into temporary shelters that do not meet standards and an environment that does not support the needs of its residents, most of whom are cancer survivors. However, a place to live is urgently needed by cancer patients at Dharmais Cancer Hospital because many are undergoing long-term treatment and are from out of town. To get the relationship between the role of the environment and emotional problems of cancer sufferers through architecture, data collection was carried out using qualitative methods. Therefore, through everydayness design methods and healing environments, palliative housing projects can be produced. This project aims to provide an ideal resting space for cancer patients by presenting a functional space within the elongated core to support the treatment process and accommodate emotional issues from an architectural point of view. The function presented also aims to provide support to the patient's family so that the patient has a quality end of life and is psychologically and spiritually ready. Keywords: cancer; healing architecture; palliative; residence Abstrak Rumah Sakit Kanker Dharmais dikelilingi banyak hunian yang dialihfungsikan menjadi rumah singgah sementara yang tidak memenuhi standar dan lingkungan yang kurang mendukung kebutuhan penghuni yang kebanyakan adalah para penderita kanker. Akan tetapi hunian sangat dibutuhkan oleh pasien penderita kanker Rumah Sakit Kanker Dharmais karena banyak yang menjalani pengobatan jangka panjang dan berasal dari luar kota.  Untuk mendapatkan keterhubungan peran lingkungan dan masalah emosional penderita kanker melalui arsitektur dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif. Maka dari itu, keseharian dan healing environment dapat dihasilkan proyek hunian paliatif. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan ruang beristirahat yang ideal bagi para pasien kanker dengan menghadirkan fungsi – fungsi ruang di dalam core memanjang untuk mendukung proses perawatan dan mewadahi permasalah emosional dari sudut arsitektur. Fungsi yang juga dihadirkan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi keluarga pasien sehingga penderita akan memiliki akhir hidup yang berkualitas dan siap secara psikologis dan spiritual.
PERANCANGAN KULINER DAN COLIVING DI JALAN JAKSA SEBAGAI UPAYA MENGADAPTASI KESEJAMANAN Sofie Andriani Saputri; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21753

Abstract

Jaksa Street is a place that was once famous for tourists, especially backpackers. Once known for its cheap lodging and friendly atmosphere, now Jaksa Street has changed a lot as time pass by of time and technological developments. Jaksa Street began to experience changes in terms of social, environmental, physical, and decreased quality of life. In the past, there were still lots of car parks on the roadside, buildings located directly near the road, a friendly atmosphere, now many abandoned buildings, negative space, there are also old buildings and new buildings that have been pushed back far from the road. Seeing this, there is a need for 'healing' on the sick part with an Urban Acupuncture approach using everydayness methods and adaptive spatial design. From there, the co-living, culinary and Coworking space programs were obtained. Co-living is a community-based residence and coworking space is a place where people can work flexibly independently. Programs can be generators in this area. The programs are the result from observing the change that happened. Adjustments were also made in the design of the building that took advantage of the intimacy of the road, the design of the podium building which was made open so that people from outside could feel the atmosphere inside the building, and vice versa. This can be the seed for the return of Jaksa Street who lives in a community, and of course can have a positive impact on social life, as well as the quality of life on Jaksa Street. Keywords:  Co-living; Culinary; Design Adaptation; Jaksa Street Intimacy Abstrak Jalan Jaksa merupakan tempat yang dulunya terkenal bagi para turis terutama backpacker. Sempat dikenal dengan tempat penginapan murah dan suasana warga yang ramah, kini Jalan Jaksa telah banyak berubah seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi. Jalan Jaksa mulai mengalami perubahan dari segi sosial, lingkungan, fisik, dan menurunnya kualitas hidup. Ketika dulu di bahu jalan masih banyak parkir mobil, bangunan yang terletak langsung di dekat jalan, suasana yang akrab, sekarang banyak bangunan terbengkalai, ada juga yang termakan usia dan bangunan baru yang dimundurkan jauh dari jalan. Melihat hal ini, perlu adanya ‘penyembuhan’ pada bagian yang sakit dengan pendekatan Urban Acupuncture menggunakan metode keseharian dan spasial adaptif design. Dari situ kemudian didapatlah program co-living, kuliner dan coworking space. Co-living merupakan hunian berbasis komunitas dan coworking space merupakan tempat orang dapat bekerja dengan fleksibel secara mandiri. Program dapat menjadi generator pada daerah ini. Program muncul dengan melihat dari perubahan yang ada. Penyesuaian juga dilakukan dalam desain bangunan yang memanfaatkan keintiman jalan, bangunan podium desain yang dibuat terbuka sehingga orang dari luar dapat merasakan suasana di dalam bangunan, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut bisa menjadi cara mengembalikan Jalan Jaksa yang hidup berkomunitas, dan juga tentunya dapat memberi dampak positif bagi kehidupan sosial, maupun kualitas hidup di Jalan Jaksa.
EKSPRESI CAHAYA PADA GALERI BAGI ANAK DOWN SINDROM I Made Wahyudi Gelgel; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24238

Abstract

Down syndrome is a disorder that occurs in mental retardation caused by chromosomal abnormalities on number 21. Mental retardation becomes a significant problem, especially in developing countries like Indonesia. Children with down syndrome have limitations in social, cognitive, and physical development. The challenges in the delayed development of children with down syndrome require an environment designed to cater to their needs. Despite their limitations, children with down syndrome have unique abilities, such as being visual learners, imitating movements, and being highly interested in light, which are essential elements in design. Architectural empathy has an impact on children with down syndrome by understanding their needs through the empathetic process, allowing designers to comprehend their daily lives and create spaces that fulfill those needs. Expressing emotions can be difficult for children with down syndrome, even though it is a crucial way for them to communicate. Providing spaces for creative expression, such as painting, singing, and dancing, becomes essential in accommodating their expressive needs. Therefore, it is proposed to create an exession gallery with appropriate lighting to facilitate the expressive needs of children with down syndrome, along with necessary therapy facilities and consultation services. Keywords: architecture empathy; down syndrome children; needs of children with down syndrome Abstrak Down syndrome adalah kelainan yang terjadi pada retardasi mental disebabkan oleh kelainan kromosom pada no. 21. Retardasi mental menjadi masalah dengan implikasi yang besar terutama pada negara berkembang seperti Indonesia, Anak-anak dengan kondisi down syndrome memiliki keterbatasan masalah dalam perkembangan sosial, kognitif, dan fisik. Masalah dalam keterlambatan perkembangan anak down syndrome membutuhkan perancangan lingkungan yang memperhatikan kebutuhan mereka. Dibalik keterbatasan yang mereka miliki, anak down syndrome tetap mempunyai keistimewaan yaitu menjadi visual learner, peniru gerakan, dan sebagian besar tertarik terhadap cahaya, tiga keistimewaan ini menjadikan elemen penting dalam desain. Empati arsitektur memberikan dampak kepada anak down syndrome, melalui proses empati, pengalaman dari kebutuhan mereka, sehingga akan mengetahui semua keseharian anak down syndrome sehingga akan tercipta apa dari kebutuhan mereka. Anak down syndrome juga memiliki kesulitan dalam berekspresi, padahal ini adalah cara anak untuk mengungkapkan emosinya, dengan berekspresi melakukan aktivitas dan menghasilkan sebuah karya menjadi salah satu untuk mewadahinya, seperti melukis, menyanyi, dan menari, sehingga diusulkan galeri ekspresi dengan cahaya yang bisa mewadahi kebutuhan ekspresi anak down syndrome dan kebutuhan kelengkapan fasilitas terapi serta fasilitas untuk konsultasi.
TEMPAT USAHA YANG FLEKSIBEL BAGI GENERASI MUDA Wilbert Lowira; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24239

Abstract

Many young generation face challenges in the world of work due to a lack of understanding of work and adequate adaptation skills. They have difficulty adapting to a new work culture, different rules and procedures, and the demands of co-workers and supervisors. these difficulties also arise in adjusting to longer working hours and higher assignments. Disagreements about directions given by colleagues or superiors often lead to awkwardness at work, which can end in self-reference or dismissal. As a result, their potential is difficult to realize and they have difficulty earning income due to difficulties in adapting to real work life. Therefore we need a platform that can develop the potential of the young generation themselves, as well as take advantage of the potential that exists in them at this time to continue to earn income while they are going through the action phase (looking for a job or have just lost a job). Due to this phenomenon, field surveys, interviews, and collection of documents related to the fresh graduates themselves have been carried out. The purpose of this data collection is to answer the needs in terms of spatial and spatial organization as well as the opportunities that exist today which are intended to make it easier for young generation to achieve their potential development and adapt in the world of work. Keywords: adapt; potential development; work life; young generation Abstrak Banyak generasi muda yang menghadapi tantangan dalam dunia kerja karena kurangnya pemahaman tentang kerja dan keterampilan adaptasi yang memadai. Mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan budaya kerja baru, aturan dan prosedur yang berbeda, serta tuntutan rekan kerja dan supervisor. Kesulitan ini juga muncul dalam menyesuaikan diri dengan jam kerja yang lebih panjang dan tugas yang lebih tinggi. Perbedaan pendapat tentang arahan yang diberikan oleh rekan atau atasan seringkali menyebabkan rasa canggung dalam bekerja, yang dapat berakhir dengan pengunduran diri atau pemecatan. Akibatnya, potensi mereka sulit terwujud dan mereka kesulitan dalam memperoleh penghasilan karena kesulitan dalam beradaptasi dengan kehidupan kerja nyata. Oleh karena itu diperlukan suatu wadah yang bisa mengembangkan potensi diri generasi muda itu sendiri, serta memanfaatkan potensi yang ada pada mereka saat ini untuk tetap mendapatkan penghasilan selagi mereka melalui fase pengangguran (mencari pekerjaan atau baru saja kehilangan pekerjaan). Dikarenakan adanya fenomena tersebut telah dilakukan survei lapangan, wawancara, dan pengumpulan dokumen yang berkaitan dengan fresh graduate itu sendiri. Tujuan pengumpulan data tersebut yakni untuk menjawab mengenai serta peluang yang ada pada zaman sekarang yang diperuntukan untuk memudahkan generasi muda dalam mengembangkan potensi diri dan beradaptasi pada dunia kerja.
RUMAH BELAJAR SEBAGAI UPAYA UNTUK MELINDUNGI PENDERITA TUNADAKSA Kenly Andrianus; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24240

Abstract

Physically disabled people are people who have movement disorders due to paralysis, deformities and/or body functions, and limb abnormalities. The Jakarta city is the city with the most disabled people in Indonesia. Even so, the city of Jakarta is very minimal in providing facilities and amenities to help the lives of people with disabilities with disabilities. Building aspects related to the comfort, safety and convenience of disabled people are often forgotten in public buildings. Apart from that, social discrimination, difficulty in care, and lack of awareness of disabled people with disabilities also contribute to the low quality of life for people with disabilities. This inhospitable environment for disabled people also affects their well-being and ability to live independently. Therefore, attention to the needs of disabled people and a supportive environment for them is very important and needed. With architectural empathy, it is expected to be able to design a building that focuses on the needs of the disabled. This design will later use the Inclusive Architecture concept so that it can focus on the needs of building users. In addition to using the concept of Inclusive Architecture, the authors also use the spatial protection design method. This spatial protection method will later be applied to the circulation system and the form of this building. Keywords: architecture inclusive; emphaty architecture; physically disabled people; spatial protection Abstrak Tunadaksa adalah orang yang memiliki gangguan gerak akibat kelumpuhan, kelainan bentuk dan/atau fungsi tubuh, serta kelainan anggota gerak. Kota Jakarta merupakan kota dengan penderita tunadaksa terbanyak di Indonesia. Meskipun begitu kota Jakarta sangat minim dalam penyediaan sarana dan fasilitas untuk membantu kehidupan penyandang disabilitas tunadaksa. Aspek bangunan yang berhubungan dengan kenyamanan, keamanan dan kemudahan penderita tunadaksa, seringkali terlupakan dalam bangunan umum. Selain itu, diskriminasi sosial, sulitnya perawatan, serta kurangnya kesadaran atas penderita tunadaksa ini, juga turut menyebabkan rendahnya kualitas hidup penyandang disabilitas tunadaksa. Lingkungan yang tidak ramah bagi penyandang tunadaksa ini juga ikut mempengaruhi kesejahteraan dan kemampuan mereka untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, perhatian terhadap kebutuhan penyandang tunadaksa dan lingkungan yang supportif bagi mereka sangat penting dan dibutuhkan. Dengan empati arsitektur, diharapkan dapat merancang sebuah bangunan yang berfokus pada kebutuhan penderita tunadaksa tersebut. Perancangan ini nantinya akan menggunakan konsep Arsitektur Inklusif agar bisa berfokus pada kebutuhan pengguna bangunannya. Selain penggunaan konsep Arsitektur Inklusif, penulis juga menggunakan metode desain proteksi spasial. Metode proteksi spasial ini nantinya akan diterapkan pada sistem sirkulas dan bentuk dari bangunan ini.