Olga Nauli Komala
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PASAR TEMATIK PELITA SUKABUMI: STRATEGI MENGHIDUPKAN KEMBALI PASAR DENGAN METODE URBAN AKUPUNKTUR Beatriks Meylika Bataric; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21756

Abstract

Traditional markets are one of the most important parts of the city. Markets not only play an important role in the city's economy, but are also a social space for sellers, buyers and market participants. With the development of the more modern and digital age, modern markets and online shops have emerged, threatening the existence of increasingly abandoned traditional markets. The stigma of traditional markets as dirty, smelly, messy, and unsafe places, has led to fewer visitors and buyers coming to traditional markets. Pelita Market as the oldest and largest traditional market in Sukabumi City, is also affected by the shortage of visitors and the gradual loss of attractiveness in the community. Therefore, in order to revitalize the market as a commercial center and as a third space in society, a design strategy that can regain the image of the Pelita Market region is necessary. This study uses an urban acupuncture approach and a third place design method. Data was taken from primary data sources such as surveys and direct interviews, and secondary data sources were from literature, books, journals and the internet. The strategy to revive Pasar Pelita area is carried out with the scenario of "Journey to Pelita Sukabumi Thematic Market Area", where the roads around the market are used as a sub market area that can support Pelita Market as a regional main attractor. Based on this scenario, as a thematic market, each road segment has its own theme based on the commodities traded by traders. Jalan Perniagaan as a market for food and cloth, Jalan Pasar Timur as a market for staples, Jalan Kapten Harun Kabir as a market for second-hand fashion items, Jalan Station Barat and Gang Lipur as a souvenir market. Keywords: thematic market, traditional market; third place; urban acupuncture Abstrak Pasar tradisional merupakan salah satu komponen penting di kota. Selain memegang peranan penting dalam perekonomian kota, pasar juga merupakan ruang bersosialisasi bagi penjual, pembeli, dan pengunjung pasar. Seiring dengan perkembangan zaman yang lebih modern dan digital, muncul pasar modern dan toko online yang lebih mudah diakses masyarakat dan mengancam keberadaan pasar tradisional. Stigma pasar tradisional sebagai tempat yang kotor, bau, berantakan, dan tidak aman menyebabkan semakin berkurangnya pengunjung dan pembeli yang datang ke pasar tradisional. Pasar Pelita sebagai pasar tradisional tertua dan terbesar di Kota Sukabumi, ikut terdampak sepi pengunjung dan mulai kehilangan daya tarik di masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya strategi desain yang dapat memulihkan citra kawasan Pasar Pelita agar dapat menghidupkan kembali pasar sebagai sentra perdagangan sekaligus tempat ketiga di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan urban akupunktur dan metode desain tempat ketiga. Data diperoleh melalui sumber data primer seperti survei dan wawancara langsung, dan sumber data sekunder berasal dari literatur, buku, jurnal, dan web. Strategi menghidupkan kembali kawasan Pasar Pelita dilakukan dengan skenario "Journey to Kawasan Pasar Tematik Pelita Sukabumi", yaitu ruas jalan di sekitar pasar dijadikan sebagai sub market area yang dapat mendukung Pasar Pelita sebagai magnet kawasan. Berdasarkan skenario tersebut, sebagai pasar tematik setiap ruas jalan memiliki tema masing-masing berdasarkan komoditas yang diperjualbelikan oleh pedagang. Jalan Perniagaan sebagai pasar makanan dan bahan kain, Jalan Pasar Timur sebagai pasar bahan pokok, Jalan Kapten Harun Kabir sebagai pasar pakaian bekas, Jalan Stasiun Barat dan Gang Lipur sebagai pasar oleh-oleh.
PEMROGRAMAN KEMBALI PASAR HEWAN JATINEGARA: HEWAN PELIHARAAN SEBAGAI MAGNET KOMUNITAS Vania Diandra Abigail; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21757

Abstract

Jatinegara animal market is the oldest animal market in Jakarta, however the condition now are lack of visitors. This deserted market makes the surrounding buildings abandoned and many buildings are rented out. This is because the physical condition of the market which is shabby, slippery and irregular. The market stalls take up the pedestrian area which disturbs the surrounding activities. The dimensions of the market stall are also one of the main problems making the experience of buying and selling animals less comfortable. The solution in this case uses urban acupuncture by making the market an attraction for the Jatinegara area. Re-programming is a way to make adjustments from existing programs and then insert new programs such as animal playgrounds, animal contests, bazzars, festivals, pet hotels, pet foster & care, pet grooming, and adoption centers as the market attraction. In this case using animals as a main attraction in the market because it has a role as a social lubricant for human society. Analysis of market conditions includes analysis of existing markets and the relationship between animals and humans which are done by observation, interviews, literature studies, studies of precedents, and mapping. The design of a market with an interaction space between animals and humans are the solution in the Jatinegara Animal Market area. Keywords:  interaction space; Jatinegara Animal Market; pets; re-programming; urban acupuncture Abstrak Pasar hewan Jatinegara merupakan pasar hewan tertua di Jakarta, namun kondisinya sekarang semakin sepi pengunjung. Pasar yang sepi ini membuat bangunan sekitar menjadi terbengkalai dan banyak bangunan disewakan.  Hal ini dikarenakan kondisi fisik pasar yang kumuh, licin dan tidak beraturan. Kios-kios pasar mengambil area pedestrian yang membuat aktivitas di sekitarnya menjadi terganggu. Dimensi kios pasar juga menjadi salah satu masalah utama membuat pengalaman jual beli hewan menjadi kurang nyaman. Penyelesaian dalam kasus ini menggunakan urban akupunktur dengan menjadikan pasar sebagai daya tarik kawasan Jatinegara. Re-programming merupakan salah satu cara untuk melakukan penyesuaian dari program yang sudah ada dan kemudian menyisipkan program-program yang baru seperti taman bermain hewan, kontes hewan, bazzar, festival, pet hotel, pet foster & care, pet grooming, dan adoption center sebagai daya tarik pasar. Dalam hal ini, hewan sebagai daya tarik utama yang berperan sebagai social lubricant. Analisis terhadap kondisi pasar meliputi analisis existing pasar dan hubungan antara hewan dengan manusia yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka, studi preseden, dan mapping. Perancangan pasar dengan ruang interaksi antara hewan dengan manusia merupakan hasil dari penyelesaian masalah kawasan Pasar Hewan Jatinegara.
INTERVENSI SPASIAL ARSITEKTUR KESEHARIAN DALAM MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN JALAN JAKSA Gabriela Azaria; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21758

Abstract

Jaksa Street is one of the streets in the capital city, which was once a residence for law academy students and developed into a night tourism area. This road then has become a transit point for exploring Indonesia, a place for interaction and cultural exchanges. However, as time goes by, especially starting from 1998s, Jaksa Street's life began to fade due to several factors including: the monetary crisis, followed by acts of terrorism, as well as virus pandemic. In addition, the degredation is also supported by the unavailability of parking which makes it difficult to compete. One of the setbacks of Jaksa Street from spatial perspective can be seen in the streetscape with abandoned, rented, sold, and stalled lands, and its setback movement. Thus we need an attraction that can generate and revive regional activities. The purpose of this study is to identify the daily activities of Jaksa Street in order to become a generator for spatial continuity and regional movement. The research method uses qualitative analysis – synthesis methods. Design method use urban acupuncture method emphasising on regional continuity. Design process uses the everyday method to see daily life of Jaksa Street. The conclusion of design results in a cultural and entertainment hub as a gateway for visitors from tiredness of the surrounding work area by applying 6 types of idea modules as an exploration result from daily activities around Jaksa Street. Keywords: Betawi; Cultural Entertainment; Everyday; Jaksa Street; Urban Acupuncture Abstrak Jalan Jaksa merupakan salah satu jalan di pusat ibukota yang dahulunya merupakan tempat menetapnya mahasiswa akademi hukum dan selanjutnya berkembang menjadi kawasan wisata malam. Jalan ini kemudian mengalami peningkatan menjadi titik transit untuk menjelajahi Indonesia, tempat interaksi, dan pertukaran budaya. Namun seiring berkembangnya zaman, terutama mulai tahun 1998 – an, kehidupan Jalan Jaksa semakin memudar dikarenakan beberapa faktor yang meliputi : krisis moneter, diikuti aksi terorisme, serta pandemi virus. Selain itu, kemerosotan ini didukung juga oleh tidak tersedianya area parkir sehingga kawasan menjadi sulit bersaing. Salah satu kemunduran Jalan Jaksa dari segi spasialnya terlihat pada streetscape kawasan dengan lahan – lahan terbengkalai, disewakan, dijual, dan mangkrak, serta pergerakannya yang semakin lama semakin sepi. Dengan demikian dibutuhkan sebuah daya tarik yang dapat menggerakan dan membangkitkan kembali aktivitas kawasan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi aktivitas keseharian Jalan Jaksa guna menjadi generator bagi kontinuitas spasial dan pergerakan kawasan. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif analisis – sintesis. Metode perancangan menggunakan metode urban acupuncture dengan menekankan pada kontinuitas kawasan. Proses perancangan menggunakan metode desain keseharian untuk melihat kehidupan sehari – hari Jalan Jaksa. Kesimpulan hasil perancangan menghasilkan sebuah cultural and entertainment hub sebagai gateway pengunjung dari rasa penat kawasaan kerja di sekitarnya dengan menerapkan 6 tipe modul ide hasil ekplorasi aktivitas keseharian sekitar Jalan Jaksa.
STRATEGI PERANCANGAN TEMPAT KETIGA SEBAGAI PEMICU JEJARING PERGERAKAN DAN AKTIVITAS DI JALAN PALATEHAN BLOK M Renata Chandra; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21759

Abstract

As a commercial center, Blok M has succeeded in becoming the center of youth trends in the 80-90s. In fact, in 1992, Blok M had the first Underground Commercial and Transit Hub in Indonesia, namely Mal Blok M. Currently, visitors who come to Mal Blok M only pass through to transit to Blok M Terminal, as necessary activities. The role of movement and activity networks in northern and southern underground access certainly needs to be studied in order to maximize movement to Mal Blok M and Blok M Terminal, so that sensitive areas can be identified and a new movement network triggering activity program is created. The research method was carried out through 2 stages. First, observation of the area is carried out either directly, or through e-books, Google Earth, and Youtube videos. This data is then processed using the method of mapping the movement and activity network in the Blok M area. The design method is carried out by combining the principles of urban acupuncture and third place, where the design will focus on forming a movement network node and making the site a meeting point for 3 main activities, namely as a crossing area (necessary activities), a stopover area (optional activities), and a destination area. (social activities). In addition, this design also utilizes the role of communities within the area (workers) and communities outside the area (visitors).The design strategy resulted in 4 main programs. First, Shop and Go as a stopover area targeting workers and visitors who want to go to Blok M Terminal. Second, Community Co-Working Space as a stopover area for workers who want to continue their work for a while before heading to the transit point. Third, Corporate Powered Co-Working Space as a destination area, providing rental space for small industries. Fourth, Roller Skate Space as a destination area for communities with regular exercises and for visitors from other regional magnets. Keywords:  Movement Linkage; Third Place; Urban Acupuncture Abstrak Sebagai pusat komersil, Blok M telah berhasil menjadi pusat tren kawula muda pada tahun 80-90’an. Bahkan, pada tahun 1992, Blok M memiliki Commercial and Transit Hub Underground pertama di Indonesia, yaitu Mal Blok M. Saat ini, pengunjung yang datang ke Mal Blok M hanya lewat untuk sekadar transit menuju Terminal Blok M, sebagai necessary activities. Peran jaringan pergerakan dan aktivitas pada akses underground utara dan selatan tentunya perlu ditelaah guna maksimalisasi pergerakan menuju Mal Blok M dan Terminal Blok M, sehingga area sakit dapat teridentifikasi dan diciptakannya program aktivitas pemicu jejaring pergerakan yang baru. Metode penelitian dilakukan melalui 2 tahapan. Pertama, observasi kawasan dilakukan baik secara langsung, maupun melalui e-book, Google Earth, dan video Youtube. Data ini kemudian diolah dengan metode mapping jaringan pergerakan dan aktivitas pada Kawasan Blok M. Metode perancangan dilakukan dengan penggabungan prinsip akupunktur kota dan tempat ketiga, dimana perancangan akan terfokus untuk membentuk simpul jaringan pergerakan dan menjadikan tapak sebagai titik temu 3 aktivitas utama, yaitu sebagai area perlintasan (necessary activities), area persinggahan (optional activities), dan area destinasi (social activities). Selain itu, perancangan ini juga memanfaatkan peran komunitas dalam kawasan (para pekerja) dan komunitas luar kawasan (para pengunjung). Strategi perancangan menghasilkan 4 program utama. Pertama, Shop and Go sebagai area persinggahan dengan target para pekerja dan pengunjung yang ingin menuju Terminal Blok M. Kedua, Community Co-Working Space sebagai area persinggahan bagi para pekerja yang ingin melanjutkan pekerjaan sejenak sebelum menuju titik transit. Ketiga, Corporate Powered Co-Working Space sebagai area destinasi, memberikan ruang sewa bagi industri kecil. Keempat, Roller Skate Space sebagai area destinasi bagi komunitas dengan latihan rutin dan bagi para pengunjung dari magnet kawasan lainnya.
METODE KESEHARIAN DALAM PENATAAN KEMBALI KAMPUNG NELAYAN KAMAL MUARA, JAKARTA UTARA, SEBAGAI KAMPUNG WISATA Michelia Giovanni Kurniawan; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22595

Abstract

Kamal Muara Village is a densely populated fishing village located in Kamal Muara Village, Penjaringan District, North Jakarta. This village is one of the villages that was originally intended as a tourist village or better known as Kampung Pelangi. However, the existence of this village as a tourist village did not last long due to the lack of tourist objects in this village. This study aims to dig deeper into the design methods that are appropriate for the realignment of Kampung Kamal Muara as a tourist village. This study used a qualitative research method, namely observing the daily lives of the residents of Kamal Muara village. Observations were made by looking at and mapping the daily life of the population including the spaces for their activities. The use of everyday methods in creating new spaces can improve the spatial quality of the kampung while still being rooted in the everyday life of its inhabitants. In addition, the addition of new programs related to tourism can also attract visitors from outside the area to come so that it will indirectly provide positive synergies for the area. Keywords:  Everydayness; fishermen; jakarta; kamal muara; urban acupuncture; village   Abstrak Kampung Kamal Muara merupakan kampung nelayan padat penduduk yang terletak di Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Kampung ini merupakan salah satu kampung yang awalnya ditujukan sebagai kampung wisata atau yang lebih dikenal sebagai Kampung Pelangi. Namun demikian, keberadaan kampung ini sebagai kampung wisata nyatanya tidak bertahan lama karena kurangnya objek wisata yang terdapat pada kampung ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam metode perancangan yang sesuai dalam penataan kembali Kampung Kamal Muara sebagai kampung wisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu pengamatan terhadap keseharian penduduk kampung Kamal Muara. Pengamatan dilakukan dengan melihat dan melakukan pemetaan terhadap keseharian penduduk termasuk ruang – ruang kegiatannya. Penggunaan metode keseharian dalam menciptakan ruang baru, dapat memperbaiki kualitas spasial dari kampung tersebut dengan tetap berakar pada keseharian penduduknya. Selain itu, penambahan program baru terkait wisata juga dapat menarik pengunjung dari luar kawasan untuk datang sehingga secara tidak langsung akan memberikan sinergi positif bagi kawasan tersebut.
PEMROGRAMAN KEMBALI PASAR BUAH TRADISIONAL PASAR MINGGU DENGAN KONSEP TERRACE + SHARING Dinda Nabilah; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22617

Abstract

Pasar Minggu is one of the largest traditional markets in South Jakarta, with a strategic location with transportation nodes, namely Pasar Minggu Station and Pasar Minggu Terminal. However, the attractiveness of Pasar Minggu has decreased due to the disorder caused by street vendors and public transportation. The purpose of this study is to redefine the Sunday Market programming as a traditional market so as not to lose its attractiveness and identity, as well as save the condition of the Sunday Market as a whole in accordance with the principles of urban acupuncture. This study uses a qualitative method by conducting a literature review, especially related to urban acupuncture theory and programming principles in architecture. This research also analyzes the space requirements that occur in the market as an effort to redefine the relationship between humans and fruit as a commodity in a new market concept. The concept of terrace + sharing is one of the efforts to redefine Pasar Minggu programming as a traditional fruit market. In this concept, new programs such as hydroponic and organic fruit and vegetable planting workshops, so that the results of the training can be traded, then programs to restore social spaces from the Sunday Market with hydroponic plant exhibitions and fruit restaurants that indirectly will immediately present social spaces. Keywords: Degradation; Pasar Minggu; traditional market; urban acupuncture Abstrak Pasar Minggu merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Jakarta Selatan, dengan letaknya yang strategis dengan dengan titik simpul transportasi, yaitu Stasiun Pasar Minggu dan Terminal Pasar Minggu. Namun demikian, daya tarik Pasar Minggu mengalami penurunan akibat ketidakteraturan yang disebabkan oleh pedagang kaki lima dan angkutan umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendefinisikan kembali pemrograman Pasar Minggu sebagai pasar tradisional agar tidak kehilangan daya tarik dan identitasnya, serta menyelamatkan kondisi Pasar Minggu secara keseluruhan sesuai dengan prinsip akupuntur urban. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan penelusuran kajian pustaka, terutama terkait teori akupuntur urban dan prinsip – prinsip pemrograman dalam arsitektur. Penelitian ini juga melakukan analisis kebutuhan ruang yang terjadi di pasar sebagai usaha mendefinisikan kembali hubungan antar manusia dengan buah sebagai komoditas dalam konsep pasar yang baru. Konsep terrace + sharing merupakan salah satu usaha dalam pendefinIsian kembali pemrograman Pasar Minggu sebagai pasar buah tradisional. Dalam konsep ini, program – program baru seperti workshop penanaman buah dan sayur secara hidroponik dan organik, sehingga dari pelatihan tersebut hasilnya dapat diperjual belikan, lalu program untuk mengembalikan ruang – ruang sosial dari Pasar Minggu dengan adanya pameran tanaman hidroponik dan resto buah yang secara tidak langsung akan menghadirkan ruang – ruang sosial.
METODE CROSS-PROGRAMING SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PERANCANGAN DI SIMPUL PANGERAN JAYAKARTA DAN TIANGSENG, JAKARTA Canguandha Yudha Prasetyo; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22622

Abstract

Pangeran Jayakarta is an active area for almost 24 hours. From morning to noon, this area is dominated by activities related to offices and the sale of various housing and construction needs such as the sale of iron, furniture, spare parts, and others. In the afternoon, we can find a night market at the end of Jalan Pangeran Jayakarta and Tiangseng. In addition, this area is also very strategic because it is located on the main road, close to the Mangga Dua Mall shopping center, and the train station. However, several shop houses in this area are abandoned buildings even though they are located very strategically. Misuse of green open space as a base for street carts is also a problem in itself. The purpose of this research is to explore and find appropriate design methods in improving the quality of the area, both programmatically and spatially, according to the principles of urban acupuncture. This study uses a qualitative research method, namely phenomenology by conducting a search of the literature regarding theories related to the principles of urban acupuncture and programming in architecture. Observation of a place is carried out by mapping the activities in this place, observing the crowded points and the flow of activities according to the time and also looking at the pain points around the place. This study found that the cross-programming method is the most suitable design method to be applied in this context, namely by combining Industrial and road programs. In this context, the cross-programming design method can improve spatial quality and activate programs in that place. Keywords: cross-programing; programing; Tiangseng; the Prince of Jayakarta Abstrak Pangeran Jayakarta merupakan kawasan yang aktif hampir 24 jam. Pada pagi sampai siang hari, kawasan ini didominasi oleh kegiatan - kegiatan yang berhubungan dengan perkantoran dan penjualan berbagai barang kebutuhan rumah dan konstruksi seperti penjualan besi, furniture, onderdil, dan lainnya. Saat sore sampai malam hari, kita dapat menemukan pasar malam di simpul Jalan Pangeran Jayakarta dan Tiangseng. Selain itu, kawasan ini juga sangat strategis karena letaknya berada pada jalan utama, dekat dengan pusat belanja Mangga Dua Mall, dan stasiun kereta. Namun demikian, beberapa ruko di kawasan ini menjadi bangunan terbengkalai walaupun letaknya sangat strategis. Penyalahgunaan ruang terbuka hijau sebagai pangkalan gerobak kaki lima juga menjadi salah satu permasalahan tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri dan menemukan metode perancangan yang sesuai dalam meningkatkan kualitas kawasan, baik secara program maupun spasial, sesuai dengan prinsip – prinsip akupuntur urban. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu Fenomologi dengan melakukan penelusuran terhadap kajian pustaka terkait teori yang berhubungan dengan prinsip – prinsip akupuntur urban dan pemrograman dalam arsitektur. Pengamatan terhadap kawasan dilakukan dengan memetakan kegiatan di kawasan ini, mengamati titik keramaiannya dan alur kegiatan sesuai dengan waktunya dan juga melihat titik-titik sakit di sekitar kawasan. Penelitian ini menemukan bahwa metode cross programming merupakan metode perancangan yang paling sesuai untuk diterapkan dalam konteks ini, yaitu dengan menggabungkan program Industri dan street Dalam konteks ini, metode perancangan cross – programming dapat meningkatkan kualitas spasial dan mengaktifkan program di kawasan tersebut.
PASAR ASEMKA JALAN LAYANG: KEKACAUAN DAN DISRUPSI YANG MENGHIDUPKAN KARAKTER RUANG PASAR ANALOG DI ERA DIGITAL Catherine Tjen; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24222

Abstract

Around 6.7 million or 57% of market traders who were still operating reported a decrease in income of around 70%-90% compared to the normal situation because people's behavior began to shift from buying offline to online, causing economic disruption. Limited land in areas busy with economic traffic makes traders must find ways to survive. Asemka Market is one of the locations experiencing a similar situation. Pasar Asemka is famous for its wholesale center for goods, now accessories have decreased, especially with the inconvenience and mismatch between sellers and buyers in carrying out buying and selling activities better and more effectively. This research breaks through how sellers in the analog market can survive and buyers can feel more comfortable in shopping at the analog market with the character of a market space that is generally considered messy and messy. The aim of the research is to trace messiness and disruption as spatial characters of Asemka Market using observational methods along with documentation to find out the trading system, activities, and behavior of sellers in Asemka Market, activities and behavior of buyers who come, what goods are sold, and how circulation is carried out. what happened in Asemka Market and its surroundings. So that the characteristics and categories of sellers and buyers there can be applied to designs such as the flexibility of materials that help traders to create merchandise and become prototypes that can be used for empty areas that occur in big cities can be effective. As well as the comfort of circulation and the accessibility of migrants and buyers in the market and its surroundings, more attention is paid so as not to offend passing vehicles. Additional functions are also implemented so that the market can have life in some of its parts and provide other experiences for newcomers who visit. Keywords: Disruption; Messiness; Market; Redefine; Redesign Abstrak Sekitar 6,7 juta atau 57% pedagang pasar yang masih beroperasi melaporkan penurunan pendapatan sekitar 70%-90% dibandingkan dengan situasi normal karena perilaku masyarakat yang mulai bergeser dari kebiasaan membeli secara offline menjadi cenderung online menyebabkan disrupsi ekonomi. Keterbatasan lahan di area ramai lalu lintas ekonomi membuat para pedagang harus mencari cara untuk tetap bertahan hidup Pasar Asemka menjadi salah satu lokasi yang mengalami hal yang serupa. Pasar Asemka terkenal akan pusat grosir barang aksesoris kini mengalami penurunan terutama dengan ketidaknyamanan dan ketidaksesuaian ruang penjual dan pembeli dalam melakukan aktivitas jual beli dengan lebih baik dan efektif. Pada penelitian ini mempertanyakan bagaimanakah cara agar penjual di pasar analog tetap dapat bertahan dan pembeli dapat merasa lebih nyaman dalam berbelanja ke pasar analog dengan karakter ruang pasar yang umumnya dianggap kacau dan berantakan. Tujuan penelitian adalah untuk menelusuri messiness dan disrupsi sebagai karakter ruang dari Pasar Asemka dengan menggunakan metode pengamatan beserta dokumentasi untuk mengetahui sistem berdagang, aktivitas, dan perilaku penjual di Pasar Asemka, aktivitas dan perilaku pembeli yang datang, barang apa saja yang dijual, dan bagaimana sirkulasi yang terjadi di Pasar Asemka dan sekitar. Sehingga ciri-ciri dan kategori penjual dan pembeli disana dapat diterapkan pada desain seperti fleksibilitas bahan yang membantu para pedagang untuk menkreasikan barang dagang dan menjadi prototipe yang bisa digunakan bagi area kosong yang terjadi di kota-kota besar dapat efektif. Serta kenyamanan sirkulasi dan pencapaian pendatang dan pembeli didalam pasar dan disekitar lebih diperhatikan agar tidak menyinggung kendaraan yang lewat. Penambahan fungsi-fungsi juga diterapkan agar pasar dapat memiliki kehidupan dibeberapa potongannya dan memberikan pengalaman lain bagi para pendatang yang berkunjung.
KONSEP INTERGENERATIONAL DAN GEROTRANSCENDENCE PADA PERANCANGAN TEMPAT KETIGA BAGI LANSIA PENSIUNAN DI JAKARTA Qimberly Yonata Johan; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24228

Abstract

The daily differences between workers and the elderly make it difficult for a retiree to adapt. This can cause the elderly to feel isolated and become stressed. The aging process which has an impact on the physical and psychological condition of an elderly person is also a limitation for the retired elderly to be able to carry out productive activities. Because of these conditions, the elderly are often considered vulnerable and weak, when in fact there are still many elderly who are able and want to do activities productively. The elderly themselves still have social responsibilities towards other generations, whereas an elderly person should guide the next generation based on the experiences they have. Therefore, currently we need a place for the elderly to retire in urban areas to be able to carry out their activities productively and carry out their role as the person in charge of intergeneration. This study uses a qualitative approach, which is obtained based on literacy of urban elderly, intergenerational, and third place architecture, observations and interviews of retired elderly in the Jabodetabek area. The findings obtained are in the form of the role of the elderly in the social life of the community as a syntonist between generations which makes people's lives harmonious. This role makes the elderly have a response in the form of caring or generativity towards the next generation. The existence of an important responsibility towards society makes the elderly feel gerotranscendence, where they can see the aging process as something positive. In daily life, the space used by the elderly is also inaccurate due to collapsed places. This causes adjustments to their own third places. Thus, the resulting program design will have spatial and spatial proximity between the first, second, and third places. Keywords:  elderly; generativity; gerotranscendence; intergenerational; third place Abstrak Perbedaan keseharian yang dimiliki oleh seorang pekerja dan lansia mengakibatkan seorang pensiunan terkadang sulit untuk dapat beradaptasi. Hal ini dapat menyebabkan lansia merasa terisolasi dan menjadi stress. Proses penuaan yang berdampak pada kondisi fisik dan psikis seorang lansia juga menjadi sebuah keterbatasan bagi lansia pensiunan untuk dapat beraktivitas secara produktif. Karena kondisi tersebut, sering kali lansia dianggap rentan dan lemah, padahal nyatanya masih banyak lansia yang mampu dan ingin beraktivitas secara produktif. Lansia sendiri masih memiliki tanggung jawab secara sosial terhadap generasi lainnya, dimana seorang lansia harusnya membimbing generasi selanjutnya berdasarkan pengalaman yang mereka miliki. Maka dari itu, saat ini diperlukan sebuah wadah bagi lansia pensiun di area urban untuk dapat beraktivitas secara produktif dan menjalankan perannya sebagai penanggung jawab dari intergenerasi. Penelitian ini menggunakan pendakatan secara kualitatif, yang diperoleh berdasarkan literasi terhadap lansia urban, intergenerasi, dan arsitektur third place, observasi serta wawancara terhadap lansia pensiun di area Jabodetabek. Temuan yang didapatkan berupa peran lansia dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai sintonis antar generasi yang membuat kehidupan masyarakat menjadi harmonis. Peran ini membuat lansia memiliki respons berupa kepedulian atau generativity terhadap generasi selanjutnya. Adanya tanggung jawab yang penting terhadap masyarakat membuat lansia merasakan gerotranscendence, di mana mereka dapat melihat proses penuaan sebagai sesuatu yang positif. Dalam kesehariannya, ruang yang digunakan oleh lansia juga sudah tidak akurat karena terjadi collapsed places. Hal ini menyebabkan harus adanya penyesuaian terhadap third places mereka sendiri. Dengan demikian, rancangan program yang dihasilkan akan memiliki kedekatan ruang dan tempat antara tempat pertama, kedua, dan ketiga.
KONSEP SENSORIS TERAPEUTIK ARSITEKTUR PADA PERANCANGAN PLAYSCAPE BAGI ANAK TUNAGRAHITA Jessica Juan Haryanto; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24232

Abstract

Children with intellectual retardation, including mentally retarded children, still do not have equal opportunities to acquire the same basic life skills as other children. Lack of function in the design of both indoor and outdoor spaces can hinder children's participation in school and can reduce their quality of life. This research will examine the design of play and learning spaces for mentally retarded children that are appropriate and in accordance with differences in sensory and motor responses. The method in this research is to use a descriptive research method with a qualitative approach that focuses on problems and facts found through observation and observation. In solving the problem the approach used in this design is through a sensory therapeutic architectural approach, namely by absorbing the environment and focusing on humans through the five senses. It is hoped that this multisensory approach will lead to better development in promoting social, cognitive and emotional development and encouraging them to engage easily in society. Keywords:  architectural; education; mental retardation; sensory therapeutic Abstrak Anak-anak dengan kondisi keterbelakangan intelektual termasuk anak tuna grahita masih tidak memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh keterampilan hidup dasar yang sama dengan anak lainnya. Minimnya fungsi dalam desain baik ruang dalam maupun ruang luar yang sesuai dapat menghalangi partisipasi anak di sekolah dan dapat menurunkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini akan mengkaji perancangan ruang bermain dan belajar bagi anak tunagrahita yang layak dan sesuai dengan perbedaan dalam respons sensorik dan motorik. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang difokuskan pada permasalahan dan fakta yang ditemukan melalui pengamatan dan observasi. Dalam penyelasaian masalah pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini adalah melalui pendekatan sensori terapeutik arsitektur, yaitu dengan mengedepankan lingkungan dan berfokus pada manusia melalui panca indera. Pendekatan multisensor ini diharapkan akan mengarah pada pengembangan yang lebih baik dalam mempromosikan perkembangan sosial, kognitif, dan emosional  serta mendorong mereka untuk terlibat dengan mudah dalam masyarakat.