Ignatius Djidjin Wipranata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN AKUPUNKTUR URBAN DENGAN REGENERASI PENGOBATAN TRADISIONAL TIONGHUA PADA KAWASAN JALAN PINTU BESAR SELATAN MELALUI METODE FENOMENOLOGI DAN PERSEPSI ARSITEKTUR Robin Christian; Ignatius Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21774

Abstract

Urban acupuncture is an effective intervention at potential spots in urban space to improve or enhance the energy quality of the area. Jalan Pintu Besar Selatan’s area is degrading due to the looting and destruction of 1998 riots. The degradation was identified based on configuration, attraction, movement, which identify numerous abandoned and damaged buildings, drastic decrease of activities, and the disappearance of main attractors. These identified deteriorations can be seen as potential architectural interventions–to be an attractor–to provoke the area’s movement. The most relevant, authentic and contextual attractor to regenerate is traditional Chinese medicine. Regeneration in this case is renewal with current place and time context. The design performs urban acupuncture by regenerating and reconstructing collective memories and perceptions of important elements of the design context by involving 3 relevant design methods and strategies, such are phenomenology of traditional Chinese medicine, re-interpreting local urban space, and absorbing Chinese architecture character and philosophy. The design is executed by surrounding-responsive mass composition. Program’s regeneration is approached by resurrecting and combining traditional Chinese medicine with local programs at the site’s vicinity. Collaboration gives rise to many new vista alternatives, where the monotony of the main program is interfered by the flexibility of local programs that organize the course of the project - suiting the surrounding community and urban space. The result is an architectural product named “Jalan Pintu Besar Selatan’s Traditional Chinese Medicine Regenerator” whos regenerates local attractor, adapts and re-interpreting perceptions of local urban spaces, and increases the area’s movement. Keywords:  contextual; perception; regeneration; traditional Chinese medicine; urban acupuncture Abstrak Akupunktur urban adalah tindakan intervensi efektif di titik potensial dalam konteks ruang urban untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas suatu kawasan. Kawasan Jalan Pintu Besar Selatan mengalamai degradasi akibat pengrusakan dan penjarahan Kerusuhan 1998. Degradasi diidentifikasi dari penelusuran konfigurasi, atraktor, pergerakan, di mana ditemukan banyak gedung rusak terbengkalai, penurunan drastis jumlah aktivitas, dan pemudaran bahkan menghilangnya atraktor utama kawasan. Kemerosotan yang teridentifikasi menjadi potensi intervensi arsitektural di konfigurasi kawasan, yang kemudian dapat menjadi atraktor untuk memancing pergerakan. Penelusuran menemukan bahwa atraktor yang paling relevan, otentik, dan kontekstual untuk diregenerasi adalah pengobatan tradisional Tionghua. Regenerasi dalam hal ini adalah pembaruan dengan konteks tempat dan masa kini. Rancangan melakukan akupunktur urban dengan meregenerasi dan merekonstruksi memori serta persepsi kolektif terhadap elemen penting konteks perancangan dengan melibatkan 3 metode dan strategi perancangan yang relevan, yaitu fenomenologi pengobatan tradisional Tionghua, re-interpretasi ruang urban lokal, dan menyerap filosofi dan karakter arsitektur Tionghua. Rancangan dikemas gubahan massa yang memperhatikan proporsinya dengan ruang kota sekitar. Adapun regenerasi program didekati dengan membangkitkan dan mengolaborasikan program pengobatan tradisional Tionghua dengan program lokal yang menempati sekitar tapak. Kolaborasi menimbulkan banyak alternatif vista baru, di mana monotonitas program utama sebagai ataktor diintervensi oleh fleksibilitas program lokal yang mengatur jalannya keseluruhan proyek agar sesuai pada komunitas dan ruang kota sekitar. Hasilnya diperoleh produk arsitektur berupa “Regenerator Pengobatan Tradisional Tionghua Jalan Pintu Besar Selatan” yang menjadi aktor regenerasi atraktor kawasan, mengadaptasi dan me-re-interpretasi persepsi ruang kota lokal, serta meningkatkan pergerakan Kawasan Jalan Pintu Besar Selatan.
PENERAPAN AKUPUNKTUR KOTA TERHADAP PEMULIHAN PASAR IKAN HEKSAGON MELALUI ARSITEKTUR KESEHARIAN Vincent Vincent; Ignatius Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21775

Abstract

Re-Unite Bahari is the title of an urban acupuncture architectural project that was carried out with the aim to restore the Hexagon Fish Market which was physically degraded. Borrowing the everydayness method formulated by Lefebvre and Crawford, the architecture in this project begins by observing the daily activities that occur in this fish market. This fish market was once a meeting point that triumphed during the VOC administration where every citizen from various backgrounds gathered to carry out their daily activities. Activities in this fish market then began to be hampered since the opening of a new fish auction hall on Jalan Pasar Ikan. This then triggered the degradation in the Hexagon Fish Market which continues to this day. The daily life of the market was stopped and the banal daily life of the urban nomads begins by living on the edge of the fish market building. The Hexagon Fish Market can then be defined as a third landscape according to Marco Casagrande's dissertation on urban acupuncture. The third landscape, as stated by Casagrande, is a natural place in urban areas that has great potentials to be reprogrammed as an agent to improve a stagnant urban area. Due to the condition of the Hexagon Fish Market which already reflects the character of a third landscape, this location was appointed as an urban acupuncture project. To answer the issue of urban acupuncture, the everydayness method was then developed by integrating the daily life of two timelines, namely the past which is characterized by the tradings of the market, and the present which is characterized by the banality of the urban nomads. The results of this project are intended to give new meaning through the everydayness reflected in the Re-Unite Bahari project which is carried out with a simple, small, and down-to-earth design idea. Keywords: down-to-earth; everydayness; market trade; urban nomads Abstrak Re-Unite Bahari merupakan judul proyek arsitektur urban acupuncture yang dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan Pasar Ikan Heksagon yang sedang mengalami degradasi secara fisik. Dengan meminjam metode arsitektur keseharian dari Lefebvre dan Crawford, arsitektur di proyek ini dimulai dengan mengamati dahulu aktivitas keseharian yang terjadi di pasar ikan ini. Pasar ikan ini dahulunya merupakan titik temu yang berjaya di masa pemerintahan VOC di mana setiap warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk menjalankan aktivitas keseharian. Aktivitas di pasar ikan ini kemudian mulai terhambat sejak dibukanya tempat pelelangan ikan baru di jalan Pasar Ikan. Hal ini kemudian memicu degradasi di Pasar Ikan Heksagon yang berlangsung hingga pada hari ini. Keseharian pasar dihentikan dan dimulailah keseharian banal yang dijalankan oleh warga nomaden dengan menetap di tepi bangunan pasar ikan. Jika ditinjau dari disertasi Marco Casagrande mengenai urban acupuncture, Pasar Ikan Heksagon dapat didefinisikan sebagai third landscape. Di mana third landscape menurut Casagrande merupakan sebuah tempat alami di perkotaan yang memiliki potensi besar untuk diprogramkan ulang sebagai agen untuk mengubah sebuah kawasan yang stagnant. Oleh karena kondisi Pasar Ikan Heksagon yang sudah mencerminkan karakter sebuah third landscape, maka lokasi ini diangkat sebagai proyek urban acupuncture. Untuk menjawab persoalan mengenai urban acupuncture, metode arsitektur keseharian kemudian dikembangkan dengan menggabungkan keseharian dari dua linimasa, yaitu masa lalu yang ditandai dengan keseharian niaga pasar, dan masa kini yang ditandai dengan keseharian banal dari warga nomaden. Hasil dari proyek ini ditujukan untuk memberikan makna baru melalui keseharian yang disatukan ke dalam proyek Re-Unite Bahari yang dijalankan dengan ide perancangan yang sederhana, kecil, dan membumi.