F. Tatang H. Pangestu
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

SENIOR LIVING SEBAGAI REKONSTRUKSI KEHIDUPAN LANSIA DI PENJARINGAN Evelyn Augustine Tjitra; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22241

Abstract

The welfare of the elderly is still very neglected, especially in Penjaringan which is a sub-district in North Jakarta with the largest elderly population in the capital. The degradation of the quality elderly life in Penjaringan has a fairly high urgency, especially in maintaining the mental health of the seniors. The absence of activities or busyness in their daily lives creates a passive lifestyle from the lack of activities, participation and social interactions needed on a daily basis. The elderly in Penjaringan who lack the opportunity or forum for activities show that their quality of life is getting worse and leads to a decline in the psychological condition or mental health of the elderly. To help the elderly achieve a prosperous life, this project uses an urban acupuncture approach with a method that analyzes and observes the daily life of the elderly in Penjaringan, seeks to improve the quality of life of the elderly and provide welfare with programs that focus on mental health and active participation of the elderly. The project's local intervention in Penjaringan is to create a residential and social environment that supports the principle of the elderly as dignified human beings with an active aging approach. The intervention starts from improving the lifestyle of the elderly who were previously not ideal and passive, then providing a forum for channeling hobbies and activities in individual and social activities to build and support the elderly to achieve a prosperous life. Keywords:  Active; Quality of Life; Elderly; Social Abstrak Kesejahteraan lansia masih sangat kurang diperhatikan terutama di Penjaringan yang merupakan sebuah kecamatan di Jakarta Utara dengan populasi lanjut usia terbanyak di Ibukota. Degradasi kualitas hidup lansia di Penjaringan memiliki urgensi yang cukup tinggi dalam menjaga kesehatan mental para senior tersebut. Tidak adanya kegiatan atau kesibukan dalam kesehariannya menciptakan gaya hidup pasif dari kurangnya kegiatan, partisipasi serta interaksi sosial yang dibutuhkan sehari-hari. Lansia di Penjaringan yang kurang memiliki kesempatan atau wadah untuk beraktivitas menunjukkan kualitas hidup yang semakin memburuk dan berujung pada penurunan kondisi psikologis atau kesehatan mental lansia tersebut. Untuk membantu para lansia mencapai kesejahteraan hidup, proyek ini melalui pendekatan urban acupuncture dengan metode yang menganalisis dan mengamati keseharian lansia di Penjaringan, berusaha meningkatkan kualitas hidup lansia serta memberikan kesejahteraan dengan program yang berfokus pada kesehatan mental dan pastisipasi aktif lansia. Intervensi lokal proyek dalam Penjaringan yaitu menciptakan lingkungan tempat tinggal dan sosial yang mendukung prinsip lansia sebagai manusia yang bermartabat dengan pendekatan active ageing. Intervensi tersebut dimulai dari perbaikan pola hidup lansia yang sebelumnya belum ideal dan pasif, kemudian memberikan wadah untuk menyalurkan hobi serta aktivitas dalam kegiatan individu maupun sosial untuk membangun dan mendukung lansia mencapai kesejahteraan hidup.
PEMBARUAN KAMPUNG MATI VIETNAM DENGAN PEMBANGUNAN PANTI “JOMPO” DI JAKARTA TIMUR Melita Michele; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22244

Abstract

Urbanization which is the movement of people to big cities continues to occur, in the administrative area of ​​DKI Jakarta. According to the Sectoral Statistics of DKI Jakarta Province (2020), East Jakarta has the largest number of immigrants in DKI Jakarta with the total of 2,215 people. Increasing population can increase population density which can then lead to environmental quality degradation. A lot of land in East Jakarta is targeted to build more residential properties than tourist attractions which can attract outsiders to East Jakarta. Applying 'urban acupuncture' can help develop and improve settlement problems experienced in East Jakarta by finding a place that has the potential to be developed. Vietnam's Dead Village is one of the potential areas that is remote, neglected and no longer useful for the environment and the people around this area. The village could be reused as an 'urban acupuncture' intervention to help revive East Jakarta Kampung Mati Vietnam has a history of being the first pilot home for the elderly in Indonesia. Therefore, the renewal of this nursing home program was implemented to restore the memory and history of this place, as well as to overcome the problems that caused the previous nursing home to fail. Furthermore, an urban agriculture program was implemented with the aim of increasing reforestation and independent food production, as well as a trading area as a public program to unite the area around Vietnam's Dead Village. Keywords:   Vietnam’s Dead Village; Nursing Home Abstrak Urbanisasi yang merupakan perpindahan penduduk ke kota besar terus terjadi, Wilayah administrasi DKI Jakarta. Menurut Statistik Sektoral Provinsi DKI Jakarta (2020), Jakarta Timur memiliki jumlah penduduk pendatang terbanyak di DKI Jakarta sebanyak 2.215 jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk dapat meningkatkan populasi densitas yang kemudian dapat mengakibatkan degradasi kualitas lingkungan. Lahan di Jakarta Timur banyak ditargetkan untuk membangun properti hunian lebih banyak lagi dari pada tempat wisata untuk menarik masyarakat luar ke Jakarta Timur. Menerapkan ‘akupuntur perkotaan’ dapat membantu mengembangkan dan memperbaiki masalah-masalah permukiman yang dialami Jakarta Timur dengan mencari suatu tempat yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Kampung Mati Vietnam adalah salah satu wilayah berpotensi yang terpencil, terbengkalai dan tidak lagi bermanfaat untuk lingkungan dan penduduk di sekitar kawasannya. Kampung tersebut dapat digunakan kembali sebagai intervensi ‘akupuntur perkotaan’ untuk membantu menghidupkan kembali Jakarta Timur. Kampung Mati Vietnam ini memiliki sejarah yang dulunya merupakan percontohan panti jompo pertama di Indonesia. Maka dari itu, diterapkan program panti jompo yang diperbarui untuk mengembalikan memori dan sejarah yang ada pada tempat ini, serta mengatasi masalah-masalah yang membuat panti jompo sebelumnya gagal. Selanjutnya diterapkan program pertanian perkotaan dengan tujuan meningkatkan penghijauan dan produksi bahan pangan mandiri, serta area perdagangan sebagai program publik untuk menyatukan kawasan sekitar Kampung Mati Vietnam ini.
FASILITAS DAUR ULANG AIR DAN SAMPAH DI MUARA BARU Vanesa Vanesa; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22245

Abstract

Clean water is an important factor in human life, such as for drinking, cooking and washing, but in many areas it is still difficult to get clean water. The clean water crisis does not only occur in areas far from water sources, but also in areas close to water sources such as Muara Baru. This is because existing water sources such as salty seawater and polluted water sources cannot be consumed. Water pollution is caused by many factors, most of which are human activities, such as throwing household waste into water sources without being treated first. In fact, rivers are also their source of water, and consumption of this polluted water can cause various long-term diseases in the community itself and the ecosystem. Muara Baru also has a waste problem that is not managed properly and is widespread in the environment. This project aims to identify the causes and implications of the difficulty of obtaining clean water using methods that observe actual conditions in an area and collect data to obtain solutions to problems. Problem solving is solved by using an architecture developed using the urban acupuncture method so that it can be solved thoroughly, evenly distributed and affordable by various levels of society. In addition, with the urban acupuncture method, problems can be resolved for the long term to the next generations. Keywords:  Muara Baru Quality of Life; Waste; Water Abstrak Air bersih merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia, seperti untuk minum, memasak dan mencuci, namun di banyak daerah masih sulit untuk mendapatkan air bersih. Krisis air bersih tidak hanya terjadi di daerah yang jauh dari sumber air, tetapi juga di daerah yang dekat dengan sumber air seperti, Muara Baru. Hal ini dikarenakan sumber air yang ada seperti air laut yang asin dan sumber air yang tercemar tidak dapat dikonsumsi. Pencemaran air disebabkan oleh banyak faktor yang sebagian besar merupakan aktivitas manusia seperti membuang limbah rumah tangga ke sumber air tanpa diolah terlebih dahulu. Padahal, sungai juga merupakan sumber air mereka, dan konsumsi air yang tercemar ini dapat menyebabkan berbagai penyakit jangka panjang pada masyarakat itu sendiri dan ekosistem. Muara Baru juga memiliki masalah sampah yang tidak dikelola dengan baik dan tersebar luas di lingkungan. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan implikasi dari sulitnya memperoleh air bersih dengan menggunakan metode yang mengobservasi keadaan sebenarnya pada suatu kawasan dan pengumpulan data untuk mendapatkan pemecahan permasalahan. Pemecahan permasalahan diselesaikan dengan arsitektur yang dikembangkan dengan metode urban acupuncture sehingga dapat terselesaikan secara menyeluruh, terdistribusi secara merata dan terjangkau berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, dengan metode urban acupuncture, permasalahan dapat teratasi untuk jangka panjang sampai kegenerasi-generasi selanjutnya.
NEW JOHAR - WADAH EDUKASI DAN KREATIVITAS DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR DEKONSTRUKTIVISME Willy Willy; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22246

Abstract

Johar Baru is one of the most densely populated residential areas in Southeast Asia. The high level of density faced by Johar Baru raises other problems such as juvenile delinquency, low quality of human resources, economic inequality, unemployment, crowded and slum environments, and health problems. Johar Baru has another name known as the “Kampung Tawuran” or “Brawl Village” becauseof the fighting problem is difficult to eradicate. The condition of low education and weak skills makes the young group of people in the Johar Baru area vulnerable and stigmatized. It also cannot be separated from the socio-economic context of the people who have slum and dense living conditions. The anticipatory steps that have been taken have not been able to reduce the existing brawl. So that preventive measures are needed that not only focus on the brawl itself, but also on restoring the degradation of people who are easily provoked. Urban Acupuncture is used as an approach in this design with the help of mapping and daily methods to restore the degradation caused by the proneness of brawls in Johar Baru. With a deconstructivism architecture approach, this project aims to be an architectural solution that can act as a forum for brawl mitigation efforts in Johar Baru through spatial design and preventive programs; replace the negative daily life of society with positive and productive activities. Keywords: acupuncture; brawl; preventive Abstrak Kecamatan Johar Baru termasuk sebagai salah satu wilayah pemukiman terpadat se-Asia Tenggara. Tingginya tingkat kepadatan yang dihadapi Kecamatan Johar Baru menimbulkan permasalahan lain yakni seperti kenakalan remaja, kualitas SDM yang rendah, kesenjangan ekonomi, pengangguran, lingkungan padat dan kumuh, serta permasalahan kesehatan. Johar Baru memiliki sebutan lain yang dikenal sebagai kampung tawuran karena masalah tawuran yang sulit untuk diberantas. Kondisi rendahnya pendidikan dan lemahnya keterampilan membuat kelompok warga usia muda di kawasan Johar Baru menjadi rentan dan terstigma. Hal tersebut juga tidak bisa lepas dari konteks sosial ekonomi masyarakat yang memiliki kondisi kehidupan yang kumuh dan padat. Langkah antisipatif yang sudah diupayakan tidak dapat mengurangi tawuran yang ada. Sehingga dibutuhkan tindakan preventif yang bukan hanya memusatkan perhatian pada tawuran itu sendiri, namun juga pada pemulihan degradasi masyarakat yang mudah terprovokasi. Akupunktur Perkotaan digunakan sebagai pendekatan dalam perancangan ini dengan bantuan pemetaan dan metode keseharian untuk memulihkan degradasi yang timbul akibat rawannya tawuran di Johar Baru. Dengan pendekatan arsitektur dekonstruktivisme, proyek ini bertujuan untuk menjadi solusi arsitektur yang bisa berperan sebagai wadah kegiatan upaya mitigasi tawuran di Johar Baru melalui perancangan spasial dan program preventif; menggantikan keseharian negatif masyarakat dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan produktif.
PENERAPAN KONSEP PERSEPSI RUANG ANAK TERHADAP RUANG BERMAIN DAN BELAJAR UNTUK ANAK YATIM PIATU USIA DINI Jennifer Theresia Susanto; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24235

Abstract

Children are God's gift that must be cared for and raised wholeheartedly. Meeting their needs is the duty of parents. However, many children are unlucky and have to experience the hardships of life, both at an early age and almost at maturity. The presence of parents in the lives of abandoned orphans at an early age can never be felt by these children. There are those who have lost their parents due to economic difficulties, met irresponsible parents and even had an accident. This results in the disruption of children's development both physically and psychologically. Poor psychological conditions can affect the process of motor development in early childhood. Apart from fulfilling their main need, which is to live in, often the supporting needs in the form of play and study spaces pay little attention to the comfort of their design. This phenomenon may often be underestimated and left alone. The purpose of this research is to find the form of application of design indicators for play and learning space for disadvantaged early childhood. It is hoped that through this research, the design of facilities for neglected early age orphans can be better in the future. The research was conducted using the case study method to analyze the application of the concept of children's spatial perception to the precedent studies of several buildings that had early childhood primary users. The conclusion of this study is that the application of the concept of child spatial perceived in each building has differences in the form of application of design indicators. Through these indicators the maximum application of this concept can be achieved to help the process of growth and development of these children. Keywords: early age; orphan; spatial perception Abstrak Anak-anak adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dibesarkan dengan sepenuh hati. Memenuhi kebutuhan mereka sudah menjadi kewajiban dari para orang tua. Namun, banyak anak-anak yang tidak beruntung dan harus merasakan kesulitan dalam hidupnya baik yang masih di usia dini hingga yang sudah hampir menginjak dewasa. Kehadiran orang tua di hidup anak-anak yatim piatu usia dini yang terlantar tidak pernah dapat dirasakan anak-anak ini. Ada yang harus kehilangan orang tuanya karena kesulitan ekonomi, bertemu dengan orang tua tidak bertanggung jawab hingga kecelakaan. Hal ini berakibat pada terganggunya perkembangan anak baik secara fisik maupun psikis. Keadaan psikis yang buruk dapat mempengaruhi proses perkembangan motorik anak usia dini. Diluar dari pemenuhan kebutuhan utama mereka yaitu berhuni, seringkali juga kebutuhan penunjang berupa ruang bermain dan belajar kurang diperhatikan kenyamanan desainnya. Fenomena ini mungkin seringkali dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk penerapan dari indikator-indikator desain ruang bermain dan belajar bagi anak-anak usia dini yang tidak beruntung. Dengan harapan melalui penelitian ini maka perancangan sarana untuk anak-anak yatim piatu usia dini yang terlantar dapat menjadi lebih baik ke depannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus untuk menganalisis penerapan konsep child spatial perception pada studi preseden beberapa bangunan yang memiliki user utama anak-anak usia dini. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan konsep child spatial perception pada setiap bangunan memiliki perbedaan-perbedaan dalam bentuk penerapan indikator desainnya. Melalui indikator-indikator tersebut penerapan konsep ini dapat dicapai secara maksimal untuk membantu proses tumbuh dan kembang anak-anak ini.
MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PEMULUNG DI BANTAR GEBANG DENGAN PENDEKATAN KAMPUNG TUMBUH Grisvian Gilchrist Agustin; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24236

Abstract

Bantar Gebang TPST will soon be full with the remaining 10 million tons of capacity from 49 million tons. This has led to a high hill of garbage in Bantar Gebang. The effect of this pile of garbage has an impact on the surrounding community and scavengers. Air and water pollution occurs around the Bantar Gebang TPST. The impact of this pollution makes the quality of life around Bantar Gebang decline. Mountains of trash located in several zones will be rearranged into green open spaces. The scavengers' housing in Bantar Gebang uses materials such as zinc, cloth and wood that are not suitable, causing problems with comfort. In addition, the residential area of ​​the scavengers is in an unhealthy area, so that Architecture can improve the quality of life for scavengers in Bantar Gebang by exploiting the potential that exists in Bantar Gebang. Improve the occupancy of scavengers in Bantar Gebang and appreciate the expertise of scavengers to improve the quality of life for scavengers in Bantar Gebang. The method used is a survey and literature review of the condition of scavengers and the environment in Bantar Gebang. With the pattern of arranging the scavengers' dwellings that extend in a direction perpendicular to the road, the area can be used as a place for waste sorting to be carried out by his wife and family. Thus the designed architectural solution is a 2x2 meter module system with a knock down system. With a module system that increases flexibility for the possibility of growing a scavenger village. Keywords: knockdown; pollution; quality; TPST Abstrak TPST Bantar Gebang akan segera penuh dengan sisa kapasitas 10 juta ton dari 49 juta ton. Hal ini telah menyebabkan tingginya bukit sampah di Bantar Gebang. Efek dari tumpukan sampah ini ternyata berdampak ke masyarakat sekitar dan para pemulung. Pencemaran udara dan air terjadi di sekitaran TPST Bantar Gebang. Dampak dari pencemaran ini membuat kualitas hidup di sekitar Bantar Gebang menurun. Gunung sampah yang berada di beberapa zona akan ditata kembali menjadi ruang terbuka hijau. Hunian para pemulung yang berada di Bantar Gebang menggunakan bahan-bahan seperti seng, kain dan kayu yang kurang layak sehingga menimbulkan permasalahan terhadap kenyamanan. Selain itu area hunian para pemulung ini berada di daerah yang kurang sehat, sehingga Arsitektur dapat meningkatkan kualitas hidup para pemulung di Bantar Gebang dengan memanfaatkan potensi yang ada di Bantar Gebang. Meningkatkan hunian para pemulung di Bantar Gebang dan menghargai keahlian para pemulung untuk meningkatkan kualitas hidup para pemulung di Bantar Gebang. Metode yang digunakan adalah survey dan tinjauan literatur terhadap kondisi pemulung dan lingkungan di Bantar Gebang. Dengan pola penyusunan hunian para pemulung yang memanjang dengan arah tegak lurus dengan jalan, area tersebut dapat digunakan sebagai tempat pemilahan sampah yang dikerjakan oleh istri dan keluarganya. Dengan demikian solusi arsitektur yang dirancang berupa sistem modul 2x2 meter dengan sistem knockdown. Dengan sistem modul sehingga meningkatkan fleksibilitas untuk kemungkinan tumbuhnya sebuah kampung pemulung.
PENERAPAN ARSITEKTUR EMPATI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP NELAYAN DADAP TANGERANG Amara Felica Salim; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24237

Abstract

Indonesia is a maritime country with 17,000 islands and a coastline of more than 99,000 km so it has potential in the fisheries sector. Therefore, many people work as fishermen. Unfortunately, this potential has not been utilized properly due to the lack of balance of attention in development and development in coastal areas. This affects the living conditions of fishermen. The Dadap Tangerang Fisherman's Village was chosen as the object of observation because it is compatible with the issues raised. The research was carried out using the case study method in which the researcher made observations on a case that occurred in a certain place in a certain period of time. Data collection was carried out through literature, interviews, and observation with the focus of the study being fishermen on the Dadap coast. From the analysis and empathy strategies that have been carried out, it is found that fishermen have limitations in accessing resources which results in a low quality of life and welfare. The results of the case studies show that each fishing village has its own locality value. Therefore, architecture must be able to see opportunities for coastal areas by maintaining locality values and the area's relationship with the surrounding area. The role of empathetic architecture in solving this problem is to provide space that can improve the quality of life of fishing communities through improving the quality of living space for fishing communities without leaving their habits. Keywords: dadap; fishermen; life Abstrak Indonesia merupakan negara maritim dengan 17.000 pulau dan garis pantai lebih dari 99.000 km sehingga memiliki potensi dalam bidang perikanan. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Sayangnya potensi tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik karena kurang seimbangnya perhatian dalam pembangunan dan pengembangan pada wilayah pesisir. Hal ini mempengaruhi kondisi kehidupan nelayan. Kampung Nelayan Dadap Tangerang dipilih sebagai objek pengamatan karena memiliki kecocokan terhadap masalah yang diangkat. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan pengamatan pada suatu kasus yang terjadi di tempat tertentu dalam suatu periode waktu. Perolehan data dilakukan melalui literatur, wawancara, dan observasi dengan fokus studi merupakan nelayan di pesisir Dadap. Dari analisis dan strategi empati yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa para nelayan memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya yang mengakibatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya rendah. Hasil stiudi kasus menunjukkan bahwa setiap kampung nelayan memiliki nilai lokalitasnya masing - masing. Oleh karena itu, Arsitektur harus bisa melihat peluang wilayah pesisir dengan mempertahankan nilai lokalitasnya dan hubungan kawasan dengan kawasan sekitarnya. Peran arsitektur empati dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kualitas hidup komunitas nelayan melalui peningkatan kualitas ruang berhuni komunitas nelayan tanpa meninggalkan kebiasaannya.