Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEWAJIBAN SUAMI DALAM MEMBERI NAFKAH Yulianti Yulianti
Syariah Darussalam : Jurnal Ilmiah Kesyariahan dan Sosial Masyarakat Vol 6, No 2 (2021): Syariah Darussalam
Publisher : Fakultas Syariah Institut Agama Islam Darussalam Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.556 KB) | DOI: 10.58791/sydrs.v6i2.149

Abstract

Islam has regulated everything in married life. A husband or a wife has their respective rights and obligations, which if these rights and obligations are fulfilled, a harmonious and happy household will be achieved, and vice versa if these rights and obligations are not carried out properly it can result in the termination of the marriage. One of the obligations of a husband is to provide a living for his wife, and maintenance is the right of a wife. Subsistence is everything that has a value of benefit or material value that a husband can give to his wife and children as a responsibility to meet the needs of the people he bears. The husband occupies the highest position in a marriage, namely as the head of the family in his family so that it has become his obligation to meet all the needs of his wife and children, both housing, clothing, and food. Syari’ah obliges the husband to provide for his wife after a marriage contract is held because of the continuity of having fun as a wife is obliged to obey her husband, manage all things in the household, and educate her children. However, the provision of a living must first see the limits of a husband's ability.
Mahar dalam Perspektif Ekonomi Syariah: Studi Komparatif Fikih Klasik dan Kontemporer Yulianti Yulianti
JURNAL EKONOMI DAN BISNIS (EKOBIS-DA) Vol. 6 No. 02 (2025): Juli- Desember : Jurnal Ekonomi dan Bisnis (EKOBIS-DA)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAI Darussalam Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58791/febi.v6i02.522

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep mahar dalam perspektif fikih klasik dan kontemporer serta relevansinya dengan prinsip ekonomi syariah. Kajian ini dilatarbelakangi oleh fenomena sosial di masyarakat Muslim yang kerap menjadikan mahar sebagai beban finansial berlebihan, bahkan komoditas yang memperberat proses pernikahan. Hal ini mendorong perlunya analisis komprehensif mengenai hakikat mahar menurut hukum Islam, baik dalam tradisi fikih klasik maupun dalam wacana kontemporer, sekaligus menelaah implikasinya terhadap keadilan dan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), bersifat normatif-teologis, dengan menelaah sumber primer seperti Al-Qur’an, hadis, kitab fikih klasik, serta literatur kontemporer, disertai analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam fikih klasik, mahar dipahami sebagai kewajiban finansial suami yang melekat pada akad nikah dan menjadi hak penuh istri. Mahar berfungsi sebagai simbol penghormatan dan bukti keseriusan suami, dengan bentuk dan kadar yang fleksibel selama sesuai dengan syariah. Sementara itu, fiqih kontemporer menekankan pentingnya moderasi (wasathiyah) dan maqāṣid al-syarī‘ah, serta mengkritisi praktik mahar berlebihan yang kerap menghambat pernikahan dan mencederai keadilan gender. Kajian komparatif menunjukkan kesinambungan antara keduanya dalam menegaskan kewajiban mahar, namun dengan orientasi yang berbeda: fikih klasik menekankan aspek normatif-formal, sedangkan kontemporer menggarisbawahi dimensi etis, sosial, dan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi syariah, mahar memiliki implikasi penting sebagai instrumen keadilan finansial, sarana pemberdayaan ekonomi perempuan, mekanisme redistribusi kekayaan dalam keluarga, serta penopang stabilitas rumah tangga dan masyarakat. Mahar yang sederhana dan proporsional mendorong kemudahan pernikahan, mengurangi ketimpangan sosial, serta menjaga keberkahan rumah tangga. Dengan demikian, mahar tidak hanya hadir sebagai ketentuan normatif dalam hukum keluarga Islam, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam ekonomi syariah yang menegakkan keadilan, moderasi, dan kesejahteraan sosial