Mohammad Rofiq
Institut Keislaman Abdullah Faqih

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika Dakwah: Menyikapi Fenomena Da’i Bertarif Mohammad Rofiq
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.924 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v11i2.17

Abstract

Pada akhir tahun 1980-an seorang psikiater kondang Prof. Dr. H. Ayyub Sani Ibrahim menulis sebuah artikel di sebuah koran nasional berujudul “Da’i Berbulu Musang”. Artikel ini dimaksudkan untuk menasihati dan mengkritisi para da’i yang prilaku kesehariannya bertentangan dengan materi dakwah yang disampaikannya. Namun fenomena dai berbulu musang pada masa berikutnya justru kian bermunculan, bahkan lebih parah daripada sekadar da’i berbulu musang. Muncul oknum da’i yang berani memungut imbalan alias upah dari masyarakat yang didakwahinya. Alias Da’i Walakedu  (jual ayat kejar duit).
TAFSIR MANUSIA ANJING Mohammad Rofiq
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.513

Abstract

Allah SWT memberikan tamtsil atau perumpamaan manusia yang mendustakan ayat-ayat al-Qur’an dengan hewan yang sangat hina yaitu anjing. Anjing merupakan hewan yang memiliki kebiasaan menjulurkan lidahnya, sebab memiliki sifat yang buruk, baik dari sifat lahir maupun batinnya. Hikmah yang terdapat pada tamtsil manusia anjing ini merupakan perumpamaan bagi pendusta ayat-ayat Allah yaitu memberikan pembelajaran kepada manusia tentang pentingnya bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan dan cara menggunakan nikmat Allah itu agar tidak kufur, sebab betapa buruk dan hinanya orang yang mengingkari nikmat Allah, sampai ia dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sesat. Dari empat kisah yang berbeda dari artikel ini dan dikaitkan pada Al-Qur’an Surat Al- A’raf ayat 175-176 pada prinsipnya merupakan perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran kemudian ia menolaknya. Ia memiliki ilmu tetapi digunakan untuk meraih tujuan-tujuan pribadi dan berusaha mendapatkan kebanggaan dan nama baik di hadapan manusia. Seseorang yang menghambakan dirinya pada hawa nafsunya, maka sebenarnya ia telah memilih jalan yang sesat dalam kehidupannya. Dalam Al-Qur’an sangat jelas perumpamaannya, terlebih bagi orang yang berilmu atau memahami agama (syari’ah) dengan baik namun ia menyelewengkannya, orang yang memiliki sifat seperti ini diserupakan seperti anjing.Keyword: Perumpamaan, Manusia Anjing, dan Syahwat.