Ni Made Sukerni
IHDN Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM LONTAR TUTUR SILAKRAMANING AGURON-GURON Ni Made Sukerni
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1547

Abstract

Pendidikan karakter mulai dinomor satukan oleh pemerintah, sebab perkembangan sosial politik, pendidikan dan kebangsaan sekarang ini memang cenderung menegaskan pendidikan karakter bangsa. Maraknya perilaku anarkis, tawuran antar warga, penyalahgunaan narkoba dan penyimpangan nilai-nilai karakter bangsa lainnya menunjukan indikasi adanya masalah akut dalam pembangunan karakter bangsa. Lontar Tutur Silakramaning Aguron-Guron merupakan salah satu sumber agama yang dijadikan sebagai pedoman dasar sebagai pembentukan karakter yang berlandaskan pada ajaran Tri Kaya Parisudh yang merupakan pondasi dalam membangun karakter anak yang dimulai dari pikiran.
AJARAN ETIKA HINDU DALAM CERITA SANTI PARWA Ni Made Sukerni
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 5 No 2 (2018): Volume 5, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.147 KB) | DOI: 10.25078/gw.v5i2.1643

Abstract

Teks-teks Itihasa saat ini sedang digandrungi masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali. Teks tersebut mengisyaratkan ajaran-ajaran luhur Hindu yang sangan relevan dengan situasi moral zaman saat ini. Ajaran Itihasa ini dikenal tersirat dalam dua epos yakni Ramayana dan Mahabrata. Epos Mahabrata ini dipecah menjadi delapan belas parwa yang sangat dikenal dengan Asta Dasa Parwa. Dalam teks parwa ini sangat banyak tersirat pesan dan isyarat moral Hindu ketika menjalani hidup di dunia. Salah satunya tentu Santi Parwa. Dalam Santi Parwa termuat sebuah perdebatan sengit antara putra Pandu perihal ajaran etika kehidupan Hindu yang dikenal dengan Asrama Dharma. Di situ juga dijelaskan bahwa Hindu juga memberi legitimasi moral bagi umatnya untuk mencari harta dalam kehidupan di dunia berdasarkan pada prinsipprinsip Dharma