Ni Wayan Arini
IHDN Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GEGURITAN DUKUH SILADRI KAJIAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER Ni Wayan Arini
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 5 No 1 (2018): Volume 5, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4626.702 KB) | DOI: 10.25078/gw.v5i1.1629

Abstract

Traditional Balinese literature is part of Balinese culture which is also a price- less ancestral heritage. In addition, traditional Balinese literature is one form that can be used as a medium in pouring ideas to convey the teachings or norms in the life of society. Literary work is one of the ancestral heritages of a society which is rich in educational values, ingenuity, and social criticism and contains noble virtues that deserve attention in an attempt to preserve and develop the cultural values of the nation, especially the language culture of Bali. A literary work must contain the values of life that apply to the society in which the literary work was created. Such values, for example, represent norms, traditions, rules and beliefs held in a society. These values are, among others, moral values, so- cial values; cultural values / traditions: religious values / religious, and so forth. Similarly, geguritan Dukuh Siladri contains a lot of character education values that can be taught to children, adolescents and adults to be a guide to behave in everyday life. The values of character education contained in Geguritan Dukuh
FUNGSI TRADISI MEBANTEN TEBASAN PADA HARI PANAMPAHAN GALUNGAN DI DESA BERINGKIT BELAYU KECAMATAN MARGA KABUPATEN TABANAN Ni Wayan Arini; Ni Nyoman Rai Triyantini
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 5 No 2 (2018): Volume 5, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2220.818 KB) | DOI: 10.25078/gw.v5i2.1642

Abstract

Keberadaan aktifitas yajna khususnya di Bali, selain berperan sebagai suatu rutinitas spiritual keagamaan, juga berperan sebagai identitas keagamaan budaya dan tradisi. Suatu realita nyata yang terlihat di lapangan adalah pesatnya perkembangan tekhnologi era modern yang seolah melaju tanpa henti. Namun uniknya meski demikian pesat perkembangan tekhnologi, eksestensi budaya khususnya yajna di Bali tetap mampu bertahan bahkan bersinergi dengan perkembanganyang terjadi di masyarakat.Hari raya Galungan sebagai hari pawedalan jagat, sehingga wajib memuja Ida Sang Hyang Widi atas terciptanya alam semesta beserta isinya, dan mengucapkan rasa terima kasih dengan ketulusan hati dan penuh kesucian atas kemurahan yang telah diberikan. Pada hari ini juga para dewa turun ke dunia termasuk juga para pitara yang merupakan leluhur kita. Dalam rangkaian hari raya Galungan mulai dirayakan pada hari Minggu Pahing Dungulan yang disebut Panyekeban. Biasanya umat Hindu mulai memproses buah-buahan yang masih mentah terutama pisang yang masih mentah agar matang pada saat hari Galungan tiba. Pada hari Senin Pon Dungulan dinamakan Panyajan pada waktu itu umat Hindu biasanya membuat berbagai macam kue atau jaja sebagai sesajen persembahan kepada para dewa pada hari raya Galungan. Kemudian pada hari Selasa Wage Dungulan dinamakan Panampahan. Barulah kemudian pada Rabu Kliwon Dungulan puncaknya hari suci Galungan, setelah Galungan dikenal hari manis Galungan.Desa Beringkit Belayu merupakan salah satu wilayah yang memiliki tradisi yang cukup unik pada hari raya Galungan tepatnya pada hari Panampahan Galungan yaitu tradisi Mebanten Tebasan. Tradisi Mebanten Tebasan ini merupakan suatu aktivitas keagamaan yang bersifat kearifan lokal. Adapun fungsi tradisi Mebanten Tebasan yaitu Fungsi Meningkatkan Sradha dan Bhakti, Fungsi Sosial, Fungsi Pelestarian Budaya dan Fungsi Media Pendidikan.