Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN BUDAYA KERJA PENYULUH AGAMA NON-PNS DALAM PEMBINAAN UMAT HINDU DI KABUPATEN GIANYAR I Nyoman Sueca
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 5 No 2 (2018): Volume 5, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1744.06 KB) | DOI: 10.25078/gw.v5i2.1636

Abstract

Increasing the resources and progress of the Hndu people in Gianyar district seems to require a process, the government’s efforts in improving human resources both in the area of development and religious education, all of which can not be separated from the readiness of leaders in an organization in providing services.In the management of the field of guidance of Hindus by non-civil servants, in order to create the strengthening of work culture, in the process of achieving progress, the increase of human resources in religion and religion, it is necessary commitment and efforts from extension workers to carry out their duties and obligations as public servants is a manifestation of clan karma.Efforts to improve the education of intlektual coaching-extension of Hindu entrepreneurs continue to be improved in order to educate and promote the Hindus in Gianyar regency. This is done in accordance with Law no. 20 of 2003, article 30, paragraph 2 states that religious education serves to prepare students to become members of the community who understand and practice the values of religious teachings. Strengthening the work culture of the counselor makes efficient effectiveness, what if the extension officer has performed performance sesuati with scheduled. Organizational culture in a government or private institution that is applied strongly and positively will make management efficient and effective, because it produces things like; values, behaviors, deliberations, and mission-oriented activities
PENGINTEGRASIAN NILAI PERDAMAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH SEBAGAI PERKUAT BUDAYA LOKAL I Nyoman Sueca
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.603 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v9i2.1611

Abstract

Kondisi masyarakat di masing-masing daerah di Indonesia dewasa ini diwarnai oleh berbagai bentuk tindak kekerasan yang dipicu oleh masalah sederhana sampai yang cukup pelik. Pelakunya meliputi golongan tidak berpendidikan dan golongan berpendidikan. Wilayah terjadinya di lingkungan desa adat di Bali dan kota-kota kecil, tidak terkecuali di kota metropolitan dan pusat pemerintahan. Berbagai konflik telah muncul dalam masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, atau kepentingan telah menimbulkan kerusuhan massal, yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta. Tawuran antarpelajar sering terjadi di berbagai tempat. Budaya kekerasan telah merusak jalinan persatuan sesama warga negara, yang tentu saja menurunkan kualitas budaya. Mengatasi hal tersebut, lembaga pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun kekuatan intlektual generasi bangsa. Semua lembaga pendidikan mempunyai tujuan untuk mengembangkan nilai teoretis, meskipun kadar dan kebutuhannya bervarisai antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan jenis dan tingkat pendidikkannya. Oleh karena itu lembaga pendidikan merupakan wahana untuk mengembangkan budaya progresif. Budaya progresif tercermin dalam kemauan untuk maju dan berkembang, didukung oleh penemuan ilmiah serta pemenuhan kebutuhan secara efisien berdasarkan pemikiran secara rasional dan logis. Mengingat masing-masing daerah di Nusantara telah memiliki budaya tradisional yang disebut kearifan lokal (lokal wisdom), kebertahana ini didasari atas pentingnya pembelajaran bahasa daerah di masing-masing wilayah dimana mereka hidup untuk membangun kebudayaan. Sehingga pengintegrasian nilai perdamaian dalam mewujudkan keharmonisan dalam suatu wilayah dapat dilakukan melalui belajar bahasa terutama belajar bahasa daerah. Mengingat daerah di Indonesia terdiri banyak suku, etnis, agama, sehingga kita kaya dengan bahasa daerah. Bahasa daerah akan dapat memperkuat budaya pada masing-masing daerah sebagai sebuah lokal wisdom.