Penelitian ini menjelaskan secara diskriptif tentang aspek religiusitas pementasan Tari Baris Kupu-Kupu dalam sistem religi umat Hindu di Bali Pegunungan. Pementasan Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan tepat pada saat upacara Pujawali oleh masyarakat Bali Pegunungan. Warga Hindu pada masyarakat Bali Pegunungan meyakini tari sakral Baris Kupu-Kupu adalah tarian wali warisan leluhur. Pementasannya selalu berhubungan dengan kehidupan warga sekitar sebagai masyarakat agraris. Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan untuk mengungkapkan rasa terimakasih warga kepada leluhur, dan para dewa yang telah memberikan anugrah berupa kesuburan. Selain itu, pementasan Tari Baris Kupu-Kupu juga berhubungan dengan kepercayaan warga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan katarsisme (penyucian). Jadi warga sangat berkeyakinan, ketika Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan dalam ruang sakral, secara tidak langsung dapat menyucikan makrokosmos (Bhuwana Agung) dan mikrokosmos (Bhuwana Alit). This study describes descriptively about aspects of religiosity staging Tari Baris Kupu-Kupu in the religious system of Hindus in Bali Mountains. The performance of the Baris Kupu Dance is performed right at the Pujawali ceremony by the Balinese Mountain people. Hindus in the Balinese people Mountains believe the Baris Kupu-Kupu sacred dance is the guardian dance of the ancestors. The performance is always related to the lives of local people as an agrarian society. Tari Baris Kupu-Kupu is performed to express people's gratitude to their ancestors, and the gods who have given gifts in the form of fertility. In addition, the performance of the Tari Baris Kupu-Kupu is also related to people's trust in things related to catharsis (sanctification). So people are very confident, when the Tari Baris Kupu is staged in a sacred space, it can indirectly purify the macrocosm (Bhuwana Agung) and microcosm (Bhuwana Alit).